Aku akhirnya tiba di daerah Jakarta Selatan usai perjalanan dari Cibinong, yang kalau dihitung-hitung jaraknya cukup lumayan. Disini aku ada janji untuk bertemu dengan seseorang, yang mana orang tersebut adalah Hartini. Entah kenapa, kemarin Ia mendadak ingin mengajak ketemuan. Sejujurnya sejak peristiwa di hari pernikahan itu, aku memang memilih untuk tidak menggubris pesannya, namun kemarin untuk pertama kalinya ia menghubungiku langsung. Aku sendiri bingung harus berkata apa ketika ia mengajak ketemuan, hingga akhirnya aku bersedia menemuinya dengan satu syarat, yaitu aku yang menentukan tempatnya.
Awalnya aku ingin mengajaknya ketemuan di salah satu Kafe yang sedang viral di daerah Blok M, namun karena aku sedang tidak ingin berjibaku dengan lautan manusia disana, maka aku memutuskan menawarinya tempat lain untuk bertemu, yang juga masih di Jakarta Selatan. Tempat itu tidak lain dan tidak bukan adalah kampus kami, Universitas Satya Wiguna. Pada akhirnya Hartini menyetujui saranku, karena ia juga sedang tidak ingin berjibaku dengan keramaian..
Hartini sendiri sudah menungguku di Kantin Kampus, yang mana ketika kudatangi, suasananya sudah berubah dibanding 15 tahun yang lalu, ketika aku lulus kuliah. Yang mana saat ini kantin kampus sudah lebih bersih dan banyak pilihan makanan, yang mana penataannya lebih mirip food court pusat perbelanjaan dibandingkan kantin kampus. Hartini ternyata sedang makan di gerai “Nasi Ayam Bu Rachmad”, yang sudah ada di kampus ini sejak tahun 1995 dan juga tempat makan favorit Hartini zaman kuliah dulu. Saat ini ia duduk dengan segelas Es Teh dan Ponselnya yang ditaruh di meja.
“Sori ya Har. gue telat.” Ucapku sambil duduk satu meja dengannya.
“Nggak Apa-apa Jup, gue juga baru ada 15 menit disini. Makanan gue juga belum dateng.”
“Ngomong-ngomong sekarang ni tempat udah lebih bagus ya, zaman kita kuliah dulu ni tempat kaya rusuh dan nggak teratur.” komentarku melihat sekeliling.
“Jup gue mau minta maaf atas ucapan gue kemarin.” Hartini kelihatannya menolak berbasa-basi dan memilih langsung bicara tepat pada intinya. “Gue sadar omongan gue kemarin udah kelewatan dan gue nggak berhak ngomong kaya gitu sama lo.”
Mendengar itu, Aku hanya berkata bahwa saat ini aku sudah memaafkan Hartini. Semua kemarahanku padanya di hari itu, sudah reda. Hartini lalu bercerita bahwa kala itu ia berkata demikian karena saat itu ia sedang dalam fase kehilangan kepercayaan diri. Hampir satu dekade, ia mengabdikan hidupnya untuk kakaknya dan kemudian ketika semuanya jatuh, praktis ia kehilangan rasa kepercayaan dirinya, termasuk ketika ada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya. Akan tetapi, ia berjanji ia akan mencoba untuk tidak menilai buruk seseorang terlebih dahulu.
Sejujurnya, bertemu dengan Hartini di hari ini saja aku sudah cukup senang, apalagi ketika mendengar ia meminta maaf. Ditambah tempat kami bertemu kali ini adalah tempat dimana aku dan Hartini bertemu untuk pertama kalinya beberapa tahun yang lalu, yang mana kala itu sebenarnya aku dan Himsar baru selesai semester pendek, dan karena lapar, kami akhirnya makan di Nasi Ayam Bu Rachmad ini. Ketika kami makan disana, Himsar ditelpon Hartini dan kemudian Hartini menghampirinya di tempat ini. Disitulah pertama kali aku mengenal dirinya. Kala itu, aku sama sekali belum ada rasa apapun pada Hartini, karena rasa itu baru tumbuh beberapa waktu kemudian. Aku tidak tahu hari ini Hartini memilh Warung Bu Rachmad untuk ketemuan, karena faktor historis kalau ini adalah tempat pertama kali kami bertemu atau karena ia tidak terlalu yakin dengan gerai-gerai baru, sehingga lebih memilih Warung Nasi Ayam Bu Rachmad sebagai tempat pertemuan kami.
“Oh ya Jup, gue mau ngasi tau, kalo sekarang gue udah dapet kerjaan.” ucap Hartini yang langsung membuatku merasa lega dan senang.