Usai turun dari bus TransJakarta, aku menaiki Kereta yang akan membawaku pulang ke Bogor, aku hanya duduk termenung membayangkan hari-hariku yang akan kembali berjalan dengan absurd usai Hartini akan ke Semarang. Aku bahkan enggan mendengarkan musik hanya agar diriku bisa fokus merenungkan bagaimana diriku ke depannya, terutama sebelum diriku masuk fase kepala empat pada tahun depan. Tiba-tiba ponselku bunyi dan aku mendapatkan pesan dari nomor milik orang yang paling kubenci. Normalnya ketika aku mendapatkan pesan dari nomor ini, aku mengharapkan kabar duka cita bahwa pemilik nomor ini sudah pergi dari muka bumi, namun kali ini aku justru senang, karena berarti orang itu sudah sembuh. Aku lalu membaca pesan itu.
Jup…Babe minta maaf selama ini udah nyakitin lo, nyak lo dan lainnya. Babe juga makasih banget udah dibantu. Babe nggak akan berharap kalian maafin babe. Tapi mulai sekarang lo nggak usah bayar Biaya Ganti rugi pendidikan lo lagi. Semoga kalian semua selalu dilindungi Allah SWT.
Aku senang karena Ayahku berhasil menjalani operasinya dan juga aku tidak perlu dibebani dengan ongkos ganti rugi biaya pendidikan diriku lagi, yang memang sebenarnya sudah kewajibannya sebagai orang tua. Akan tetapi, memaafkannya tentu tidaklah mudah dan butuh waktu. Aku juga masih harus jaga-jaga ia memanfaatkan keluargaku hanya karena ia sudah ditinggal oleh Istri Barunya. Aku lalu menghela nafas sejenak dan hanya membalas dengan harapan semoga dia sehat selalu. Tidak kurang dan tidak lebih.
Kereta akhirnya tiba di stasiun Citayem. Aku memutuskan untuk naik ojek aplikasi saja, karena khawatir kereta ke arah Cibinong cukup lama. Aku kembali melihat rumah lamaku, tempat dimana aku pernah merasa bahagia dan optimis dengan hidupku. Kali ini aku tidak meminta ojek untuk berhenti dan membiarkan aku terus berjalan, seakan aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak ingin terjebak di masa lalu. Aku ingin fokus menatap apa yang akan terjadi padaku di masa depan saja. Aku tidak berharap tahun-tahun hidupku berikutnya menjadi tahun-tahun masa keemasan diriku, melainkan aku hanya berharap aku bisa menjalani hidupku dengan baik-baik saja dan merasa bahagia.
Di tengah perjalanan, mendadak aku melihat sekelompok orang berjalan sambil menggotong keranda jenazah sembari melafalkan “La Illa ha Illah.” ke arah masjid terdekat untuk disholatkan. Terlihat beberapa orang berjalan sambil menangis terisak melepaskan kepergian si Jenazah. Terlihat juga beberapa orang yang berusaha bersikap tegar dan tersenyum di tengah kepergian orang yang mereka sayangi tersebut.