Defragmentasi

Kinarian
Chapter #2

Terkikis Keadaan

Sorakan beberapa orang mendominasi acara nobar sepak bola malam ini. Di ujung ruangan di hadapan meja yang penuh dengan puntung rokok, Adrian bergeming dalam kebimbangan. Jauh di dalam hatinya, dia masih belum bisa berdamai dengan kenyataan. Hidupnya terasa terombang-ambing tak tentu, bahkan untuk sekadar ikut bersorak dengan teman-temannya saja dia tak kuasa.

Sejenak pandangan Adrian beralih pada layar ponsel yang menampilkan foto seorang perempuan. Ditatapnya foto itu dalam-dalam, hingga menimbulkan denyut ngilu di setiap sekat jantung pertahanannya. Adrian paham, merindukan orang yang sudah tak bersamanya adalah bagian dari rasa sakit yang sulit ditawar.

“Ad, diem mulu.” Tio menghampiri Adrian dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sahabatnya itu.

Melihat kedatangan Tio, Adrian lantas memasukkan ponselnya ke saku celana. “Iya, nih. Cape sama kerjaan,” katanya.

“Masih kepikiran, ya?” tebak Tio, seakan tahu apa yang sedang bergumul di kepala Adrian. “Udah ziarah lagi?”

Adrian menggeleng. “Belum sanggup. Apalagi sekarang situasi rumah nggak enak banget, Yo. Hawanya bikin males terus.”

Sudah kesekian kali Tio mendengar curhatan seperti ini. Adrian yang kini hanya tinggal bersama bapaknya pasti merasa sangat kesepian di rumah itu. “Udah nyoba ngobrol sama Om Izwar lagi?”

“Belum. Bapak juga jarang pulang. Katanya lagi banyak kerjaan di kantor.” Adrian mengusap wajah, lantas membuang napas kasar seakan ingin menunjukkan pada Tio bahwa begitu banyak beban yang kini ditanggungnya.

“Kalo Hadi?” selidik Tio, teringat adik laki-laki Adrian satu-satunya.

“Minggu kemarin dimasukin ke pesantren di Tasik. Bapak bilang sih, biar pendidikannya lebih terfokus. Cuma ya kasihan juga dia.”

Adrian kembali teringat pada hari ketika bapaknya mengatakan sudah mendaftarkan Hadi di salah satu pesantren di Tasik. Masalahnya, Adrian tidak pernah dilibatkan dengan pembahasan ini, bahkan dia sendiri tidak menduga bapaknya akan berpikiran memasukkan Hadi ke pesantren.

“Ya bagus, lah. Di pesantren kan dia bakal lebih fokus belajarnya. Bukan cuma belajar pengetahuan umum aja, tapi sama ilmu-ilmu agamanya juga. Paket lengkap!” Tio mengangguk-angguk menyetujui keputusan yang sudah dipilih Pak Izwar.

Adrian menggeleng. Jawaban Tio barusan benar-benar tidak sesuai yang diinginkannya. Ah, mungkin memang tidak ada yang paham bagaimana perasaannya saat ini.

“Yo, kok hidupku jadi begini, ya? Dosa apa aku ini sampai Mama harus meninggal?” Pertanyaan Adrian yang mendadak ini sukses membuat Tio bergeming cukup lama. Ditatapnya wajah laki-laki itu sangat intens, berusaha mencari tahu apa yang saat ini sedang ada di kepala Adrian.

Lihat selengkapnya