Kumandang azan Subuh menggema dari seluruh tempat. Adrian yang tidak tidur sama sekali dan masih duduk di sajadah pun berdiri menggapai ponselnya untuk mematikan alarm. Sudah dua bulan ini dia rutin memasang alarm agar tak kesiangan salat Subuh, karena biasanya Bu Hesti-lah yang akan membangunkan setiap hari. Perubahan demi perubahan nyata terjadi di rumah itu. Adrian yang apa-apa selalu mengandalkan mamanya, kini mau tak mau harus mengandalkan dirinya sendiri.
Laki-laki itu tidak begitu yakin bisa mengandalkan bapaknya sebagai pengganti keberadaan sang mama di rumah. Jangankan diandalkan untuk hal-hal sepele, saling bertukar kata setiap hari saja rasanya sudah jarang terjadi. Adrian teramat tersiksa dengan sikap bapaknya yang seolah-olah membuang Hadi ke pesantren, bahkan menelantarkan dirinya yang terbunuh kesepian.
Sebisa mungkin Adrian berusaha memahami kehilangan yang dirasakan bapaknya, tetapi dia juga ingin dipahami sebagai seorang anak yang kehilangan ibunya. Perpisahan itu menyakitkan, sangat. Itulah mengapa Adrian berharap dia dan bapaknya yang kini berada di bawah atap yang sama, bisa saling mengentaskan kehilangan yang merambat membunuh satu per satu kebahagiaan. Adrian hanya butuh teman berbagi segala perasaannya.
“Adrian, bangun. Sudah waktunya solat Subuh.” Suara yang didahului ketukan dari balik pintu membuyarkan lamunan Adrian.
“Udah bangun,” katanya, meletakkan kembali ponsel yang menunjukkan wallpaper foto Bu Hesti.
“Kita ke masjid, yuk.” Tidak seperti biasa, Pak Izwar mendadak mengajak Adrian seperti ini. Biasanya mereka akan salat munfarid tanpa peduli ajakan salat berjemaah di masjid.
Cukup lama Adrian menimbang ajakan Pak Izwar, sampai akhirnya dia berdiri dan melipat sajadah. “Sebentar, Pak.”
Mungkin ini salah satu kesempatan agar Adrian bisa banyak berbicara dengan bapaknya. Bagaimanapun Adrian masih memercayai akan selalu ada pertolongan yang Allah limpahkan padanya, entah melalui kejadian apa. Bukankah sejatinya Allah Maha Penolong bagi hamba-hamba yang tak putus berdoa?
Perlahan Adrian memutar kunci pintu kamar dan beranjak keluar bertepatan selesainya azan dari masjid terdekat. Tampak seorang laki-laki paruh baya sedang berdiri menunggunya di dekat lemari kayu yang menyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Bapaknya tersenyum saat tatapan mereka bertemu. Senyum yang dua bulan terakhir tak pernah Adrian lihat itu tercetak jelas saat ini.
“Yuk,” kata Pak Izwar, merangkul Adrian layaknya seorang bapak, kemudian berjalan beriringan menuju masjid yang tidak begitu jauh.
Di jalan, mereka berpapasan dengan beberapa tetangga yang hendak menunaikan salat berjemaah di masjid. Mereka berbincang ringan, saling bertukar sapa sampai ikamah melambung dari speaker masjid, menandakan salat berjemaah akan segera dilaksanakan.
***
“Adrian,” panggil Pak Izwar saat keduanya berjalan pulang.
Adrian menoleh, lalu bertanya, “Iya, kenapa?”