Defragmentasi

Kinarian
Chapter #4

Sesekali, Menangislah

Sudah sekitar 20 menit sejak Adrian pergi, Pak Izwar masih tak beranjak dari kursi di depan teras. Koko, sarung, dan peci yang dikenakan saat berjemaah ke masjid pun masih melekat di tubuhnya. Pria paruh baya itu sudah berusaha menjelaskan semuanya kepada Adrian, tetapi anak laki-lakinya malah pergi begitu saja.

Obrolan singkat yang terjadi tadi benar-benar meluluhlantakkan ketenangan Pak Izwar. Dia termenung, memikirkan kata-kata Adrian yang menuduhnya sebagai bapak egois. Tentu Pak Izwar tidak menerima tuduhan itu, meskipun di hati kecil, dia juga menyadari bahwa akhir-akhir ini tak begitu memperhatikan kedua anaknya, terutama Adrian. Dia bahkan mengirim Hadi ke pesantren dengan dalih agar anak keduanya itu lebih fokus belajar.

“Ya Allah, apa iya selama ini aku terlalu egois?” tanyanya pada diri sendiri. Pandangan Pak Izwar bermuara pada beberapa bunga kecil yang tumbuh di halaman dan selalu dirawat oleh mendiang istrinya dengan penuh kebahagiaan.

Bu Hesti memang penyuka berbagai jenis bunga. Tampak bunga mawar, melati, dan beberapa bunga lainnya yang tumbuh subur di halaman. Setiap dua minggu sekali, dia akan membeli bibit bunga baru ditemani suaminya, lalu setelahnya mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kota. Kenangan yang tak mungkin bisa diulang kembali.

Tidak berselang lama, terdengar deru knalpot perlahan mendekat. Pak Izwar berdiri saat motor hitam itu berhenti di depan pagar rumahnya, menunjukkan seorang laki-laki seusia Adrian. Senyum Pak Izwar mengembang samar, berharap kedatangan laki-laki itu bisa memberikan banyak informasi mengenai kegiatan yang Adrian lakukan akhir-akhir ini.

“Assalamualaikum, Om.” Tio membuka helm dan bersalaman dengan Pak Izwar.

“Waalaikumsalam. Tumben pagi banget udah ke sini, Yo.”

Tio tersenyum lebar. “Iya, Om. Saya mau minta temenin sama Adrian ke Dago. Ada beberapa sparepart motor yang harus diambil. Adriannya ada?”

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Pak Izwar seketika berubah. Dia kembali duduk di kursi, begitu pula dengan Tio yang ikut duduk di kursi satunya. Tio menangkap ada sesuatu yang kurang baik baru saja terjadi.

“Ada apa, Om? Apa semuanya baik-baik aja?”

“Adrian pergi dari tadi subuh, Yo. Kayaknya dia marah dan sangat kecewa sama Om,” tutur Pak Izwar, berusaha berbagi perasaannya saat ini.

Kening Tio mengernyit. “Kenapa? Adrian pergi ke mana emangnya, Om?”

Lihat selengkapnya