Defragmentasi

Kinarian
Chapter #5

Ingatan (Tak) Ramah

SMK Hutama, 2016.

Seorang wanita berusia 45 tahun keluar dari ruang guru dengan wajah tidak bersahabat. Kalau dijumlahkan, ini sudah kali kelima dalam sebulan dia harus ke sekolah untuk menghadap kepala sekolah karena kelakuan anak sulungnya. Adrian ketahuan membongkar onderdil motor salah satu teman sekelasnya akibat permasalahan di parkiran sekolah minggu sebelumnya. Namanya Eki, siswa kelas XII jurusan Otomatif, sama seperti Adrian.

Sejak dua bulan terakhir, Adrian dan Eki kerap bertengkar hanya karena masalah sepele. Contohnya saja kejadian di parkiran yang berujung nekatnya Adrian membongkar onderdil motor Eki yang dipicu karena rebutan tempat parkir. Kalau dipikir-pikir, lahan parkir di halaman sekolah cukup luas dan masih tersedia banyak tempat kosong. Namun, mereka tetap memperebutkan tempat parkir yang sama. Dekat gerbang utama.

Adrian yang tidak terima Eki berhasil dalam perebutan ini pun kesal dan menyusun rencana untuk membongkar motor Eki, sampai akhirnya Bu Hesti dipanggil wali kelas untuk menyelesaikan masalah ini. Untungnya orang tua Eki memaafkan apa yang sudah Adrian lakukan, meski tetap saja Adrian di-skors selama 2 hari.

“Mama malu dipanggil terus ke sekolah karena masalah sepele kamu, Ad! Mau sampai kapan kamu bikin ulah? Kamu itu sudah kelas XII. Harusnya fokus belajar, bukan cari masalah terus!” Intonasi bicara Bu Hesti terdengar meninggi ketika mereka berada di parkiran, bersiap pulang.

Adrian hanya menunduk mendengar ucapan mamanya, bingung harus melakukan pembelaan seperti apa lagi. Selama ini dia juga menyadari sudah terlalu banyak mempermalukan mamanya, terlebih saat Adrian ketahuan merokok di toilet siswa. Salah satu pelanggaran dengan sanksi yang tidak main-main.

“Mama nggak tahu, nanti kalo Mama udah nggak ada, apa kamu akan tetap seperti ini atau bisa berubah menjadi lebih baik!” tegas Bu Hesti, bergegas memakai helm. Sementara itu, Adrian terpaku mencerna ucapan mamanya.

“Ma, kok ngomongnya gitu? Mama nggak mau lihat Adrian tumbuh dewasa? Mama mah suka ke mana-mana sih, ngomongnya.” Adrian merengut kesal, karena buka kali ini saja dia mendengar ucapan mamanya yang seperti itu. Senakal-nakalnya Adrian, dia tetap tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa kehadiran sang mama.

Tidak ada obrolan apa-apa lagi di antara mereka karena Bu Hesti hanya terdiam di belakang Adrian yang sudah siap meninggalkan halaman parkir sekolah. Sesekali Bu Hesti menyeka air mata, merasa tidak tahu harus melakukan apa lagi agar anak sulungnya bisa lebih baik. Sebagai seorang ibu, tentu Bu Hesti sangat cemas kalau-kalau Adrian tidak diluluskan oleh sekolah, mengingat kelakuannya yang sangat “berbeda” dari teman-teman yang lain.

Dari spion motor, Adrian bisa melihat mamanya menyeka sudut mata. Dia merasa bersalah, tetapi tak tahu harus menunjukkan rasa bersalahnya bagaimana. Untuk kali ini, Adrian hanya bisa diam sambil terus membawa motornya dengan kecepatan sedang, membiarkan sang mama menangis sedikit tersedu-sedu di boncengan.

***

Adrian menggeleng kasar mengenyahkan bayangan menyakitkan tentang kelakuannya semasa SMK. Dia sadar apa yang diperbuatnya selama ini tak lebih dari goresan pisau yang perlahan membuat luka di hati mamanya membesar. Sejak kejadian itu, Adrian memang berusaha menjadi siswa yang baik walaupun Eki tetap saja selalu memancing-mancing amarah Adrian agar meladeni hal-hal sepele yang akan memicu keduanya terlibat dalam pertengkaran lagi.

Lihat selengkapnya