DEJAVU: Orang-Orang yang Pernah Mati

Rayasa Kherta
Chapter #1

HUJAN

Namaku Naira, seorang perempuan biasa yang mencintai satu lelaki di bumi. Sangat bersyukur diberikan kesempatan mengenal dan mencintainya hingga sedalam ini. Ribuan doa selalu kukirimkan untuknya, bahkan aku tidak pernah berhenti mencintainya apa pun yang terjadi. Sejak kenal dengannya, duniaku berubah. Bersamaan dengan itu, kekhawatiranku juga bertambah berkali-kali lipat. Entah bagaimana, firasatku selalu berkata bahwa suatu hari nanti aku akan menemukan pelajaran hidup yang sangat berharga dengannya.

Laki-laki yang aku cintai itu bernama Banda. Dia sangat baik dan selalu mengerti bagaimana memperlakukanku selayaknya pasangan. Cintaku berhenti padanya. Bertemu dengan Banda adalah jawaban atas segala peliknya hidupku. Hanya dengan Banda hari-hariku terasa lebih berwarna dan berarti. Hanya dengan Banda aku merasa nyaman. Hari ini, kami akan bepergian ke arah utara menuju taman berbunga yang indah. Telah berkali-kali rencana ini gagal karena banyaknya kesibukan kami berdua. Entah kenapa, aku selalu menanti berada dengan Banda di tengah taman lalu mencium semerbak wangi-wangian bunga. Hal ini telah kami bahas habis-habisan di WA kemarin malam.

“Sayang, besok kamu pakai baju warna apa?”

“Bagaimana kalau gaun merah yang ini.” jawabku sembari mengirimkan foto gaun yang kusiapkan di lemari.

“Wah, besok kamu pasti akan tambah cantik sekali. Aku tidak sabar menjemputmu besok pagi.”

“Tidak apa-apa menjemputku ke rumah?”

“Tidak apa-apa, sekalian minta izin langsung kepada ibumu. Tidak sopan aku mengajakmu bepergian lama tetapi tidak minta izin ke rumah.”

“Ya, tapi kan ini gara-gara motorku masih belum rusak di bengkel kan.”

“Tenang saja sayang, jangankan menjemputmu ke rumah, ke antartika pun akan aku jemput.”

“Terima kasih ya sayang, maaf selama ini banyak merepotkanmu.”

“Aku selalu bersyukur atas banyak hal tentangmu, dengan begitu aku bisa hidup lebih lama di dunia ini.”

Aku hanya tertawa mendengarnya.

“Tidur gih sayang, sudah larut malam. Aku tidak sabar berada di mimpimu malam ini

“Kenapa mesti di mimpi, kan besok kita bertemu.”

“Aku ingin memiliki di segala ruang dan waktumu. Aku harap kamu tidak keberatan.”

“Aku jatuh cinta denganmu maka aku tidak pernah keberatan. Dan itu sebabnya aku tidak berhenti mendoakanmu.” aku membalas pesannya dengan sepenuh hati.

“Aku juga begitu.”

Percakapan itu berakhir begitu saja, tetapi senyumnya terus tertinggal di kepalaku hingga malam semakin larut. Aku tidur dengan perasaan yang hangat. Perasaan seseorang yang percaya bahwa besok akan menjadi hari yang sangat kami tunggu-tunggu. Keesokan paginya, perasaan itu masih utuh. Lagu pertama yang aku putar adalah lagu favoritku dan Banda. Hari ini akan panjang sekaligus menyenangkan. Perjalanan ke utara akan menjadi perjalanan paling romantis yang kami lakukan. Sepanjang jalan kami akan melewati hutan pinus dan berakhir pada kebun bunga warna-warni. Kami bahkan sudah mencari sebuah tempat makan di pinggir jalan yang pemandangannya paling cantik ke arah taman bunga yang luas itu.

Pukul delapan pagi aku sudah siap di jemput. Gaun merah itu telah kukenakan dengan rapi. Rambutku juga sudah kutata sebaik mungkin. Banda bilang sudah berangkat sekitar tiga puluh menit yang lalu. Harusnya dia sudah sampai. Namun, hujan turun cukup deras sejak pagi sehingga lalu lintas mungkin mulai tersendat. Sembari menunggu, aku mondar-mandir di depan cermin. 

“Apanya yang kurang ya?”

Lihat selengkapnya