Aku kembali ke rumah, tetapi rasanya tidak akan pernah sampai. Rumah ini tidak akan pernah sama lagi sebab suaranya tidak akan pernah terdengar lagi. Meja dan kursi di teras masih tertata rapi seperti biasanya. Tempat yang dulu sering ia datangi hanya untuk memastikan aku sudah makan atau belum, kini menjadi tempat duduk biasa saja. Padahal dia aku telah selesai memasask sejak pagi. Aku yakin itu hanya alasannya saja agar bisa bertemu denganku. Dia memang selalu mencari cara untuk datang. Di selalu kangen denganku. Katanya, kangen yang dia miliki melebihi kangen yang pernah ada di bumi ini.
Awalnya aku mengira itu hanya gombalan. Namun, semakin lama aku bersamanya, aku mulai percaya. Perbuatannya selalu membuktikan apa yang dia ucapkan. Entah kemana sekarang dia membawa kangen yang melebihi bumi itu. Pasti berat membawanya sendirian. Atau mungkin sebagian dari kangen itu tercecer di jalanan. Kalau memang begitu adanya, semoga suatu hari aku menemukan potongan-potongan kangen itu.
Hari ini aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya akan berada di tempat tidur masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin. Atau mungkin dua hari yang lalu. Entahlah. Aku lupa kapan terakhir kali menggantinya. Aku benar-benar lupa. Waktu seakan berlalu, tetapi tidak pernah benar-benar beranjak. Sedari pagi ponsel ini berada di tanganku. Layarnya menyala dan pesan itu masih terbuka. Aku tidak akan meghapusnya. Bahkan untuk membayangkan menghapusnya saja aku tidak memiliki keberanian.
“Tidak apa-apa menjemputku ke rumah?”
“Tidak apa-apa, sekalian minta izin langsung kepada ibumu.”
Aku menatap pesan itu lama, lebih lama dari sebelumnya. Seolah jika aku menatapnya cukup dalam, aku bisa masuk kembali ke waktu sebelum pesan itu dikirim. Sebelum semuanya terlambat dan sebelum semuanya berubah menjadi tragedi. Aku menarik napas pelan. Dada terasa sesak, ada sesuatu yang menekan dari dalam. Bukan tangisan, bukan pula luka yang bisa dilihat, melainkan perasaan yang tidak mampu aku jelaskan dengan kata-kata.
Perasaan yang terus mengganjal, tidak peduli seberapa keras aku mencoba mengabaikannya. Orang-orang berkata kecelakaan itu terjadi karena hujan deras, jalan licin, atau nasib buruk. Penjelasan yang terdengar masuk akal dan logis, tetapi aku tidak bisa menerimanya. Aku melawan semua alasan itu sebab aku mengetahui satu hal yang tidak diketahui orang lain. Hari itu Banda tidak seharusnya berada di jalanan. Tidak seharusnya kehujanan. Kenangan itu datang lagi. Tentang gaun merah yang disukainya. Tentang taman berbunga di utara. Tentang perjalanan yang seharusnya menyenangkan.
Aku pernah mendengar kisah seseorang yang sangat menyukai mie ayam. Namun, setelah orang yang selalu menemaninya makan mie ayam meninggal dunia, ia tidak pernah menikmati makanan itu lagi. Seperti itulah aku sekarang. Dulu aku tidak pernah membenci hujan. Aku justru memiliki jendela yang menghadap ke arah hujan terbaik di kota ini. Dari kamar, aku bisa menyaksikan setiap rintiknya jatuh ke tanah dan memberi kehidupan kepada tumbuhan. Lebih dari itu, hujan selalu memberi Banda alasan untuk tinggal lebih lama di sini.
“Karena hujan, aku tidak tahu jam berapa akan pulang,” kata Banda.
“Aku punya payung dan mantel. Kalau mau, kamu boleh meminjamnya,” jawabku polos.
“Bukan itu jawabab yang kumau.”
“Lantas apa?”