DEJAVU: Orang-Orang yang Pernah Mati

Rayasa Kherta
Chapter #3

DIMENSI WAKTU

Sudah beberapa hari ini aku tidak mendapatkan waktu tidur yang nyaman. Seusai kehilangan itu, tidak ada hal yang lebih mendominasi hidupku selain penyesalan dan duka. Keduanya tumbuh jauh melampaui kemampuanku untuk menanggungnya. Aku terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Kemungkinan yang seharusnya mampu mencegah semua hal buruk itu. Malam-malam aku habiskan untuk menyesali keputusan yang sudah terlanjur dibuat.

Entah kapan tepatnya aku tertidur. Aku bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti beberapa hari terakhir. Lalu suara itu datang. Awalnya samar, sangat samar. Namun, aku mengenalinya dengan pasti. Rintik hujan. Pelan. Teratur. Berirama. Suara yang beberapa hari terakhir selalu muncul di kepalaku seperti potongan kejadian yang terus berulang. Aku membuka mata perlahan. Langit-langit kamar menyambut pandanganku. Aku tidak langsung bergerak hanya menatap ke atas dan membiarkan kesadaran kembali sedikit demi sedikit. Ada sesuatu yang terasa janggal. Sesuatu yang tidak mampu langsung kujelaskan. Napasku masih pelan. Dada yang selama beberapa hari terakhir terasa sesak kini justru terasa ringan.

Tidak ada suara tangis.

Tidak ada lampu ambulans.

Tidak ada kerumunan orang.

Tidak ada bau aspal basah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi burukku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali lalu duduk. Tiba-tiba tanganku refleks menyentuh dada. Tidak ada rasa sakit itu. Aku melihat sekeliling dengan lebih jelas.

Tempat tidur.

Meja kecil di sudut kamar.

Lemari yang sedikit terbuka.

Dan gaun merah itu.

Semuanya berada di tempatnya masing-masing. Persis seperti sebelum semuanya terjadi. Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa kering.

“Apakah ini mimpi?” suaraku terdengar serak.

Tangan bergerak mencari ponsel di samping bantal. Layar menyala.

Tanggal dan waktu.

Lihat selengkapnya