DEJAVU: Orang-Orang yang Pernah Mati

Rayasa Kherta
Chapter #4

KESEMPATAN

Masih ada banyak pertanyaan, apakah ini masa lalu atau masa yang akan datang. Hari ini sangat nyata. Suasana pagi dengan aktivitas orang-orang sebagaimana mestinya. Kenderaan telah lalu-lalang bahkan sejak dini hari, anak-anak akan siap berangakt sekolah, dan suara-suara obrolan samar-samar terdengar dari kamar ini. Namun, di diriku ada yang mengganjal, tidak ada rasa kantuk yang menghampiri. Aku bahkan tidak berminat untuk tidur. Apakah boleh aku tidur lagi? Apakah kalau aku tertidur semuanya akan kembali? Bagaimana jika aku terbangun dengan rasa bersalah itu lagi. Aku tidak menemui jawaban untuk pertanyaan itu. Aku tidak siap menerima jika aku memejamkan mata maka semuanya akan hilang lagi saat aku terbangun.

Ponsel itu masih berada dalam genggamanku. Tanggal dan hari yang tertera di layar belum berubah sedikit pun. Aku terus menatapnya, lalu mulai memastikan semuanya dengan cara yang paling sederhana membuka galeri. Jari-jariku bergerak membuka satu persatu folder yang selama berhari-hari ini paling kuhindari.

Tidak ada foto pemakaman.

Tidak ada foto orang-orang yang datang melayat.

Tidak ada foto batu nisan Banda.

Tidak ada apa-apa.

Semua lenyap.

Bukan karena terhapus, melainkan karena memang belum pernah terjadi. Aku menutup galeri perlahan, jantungku kembali berdetak lebih cepat. Semakin banyak yang kubuktikan, semakin sulit aku menyangkal kenyataan ini. Waktu benar-benar kembali. Pikiranku mulai bergerak lebih jauh, mencoba mengingat apa yang akan terjadi setelah hari ini.

Besok seharusnya rinai hujan turun perlahan. Diawali mendung yang tiba-tiba menggantung di seluruh kota. Orang-orang masih beraktivitas seperti biasa, tetapi langit terasa lebih rendah dari pada biasanya. Sementara itu, aku akan berada di kamar ini mempersiapkan semuanya. Termasuk menyiapkan gaun merah favoritku. Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Bahkan percakapan-percakapan kecil yang terjadi sebelum semuanya hancur masih tersimpan utuh di kepalaku. Banda akan mengabariku bahwa ia sedang menuju rumahku. Aku akan menunggu. Menit berganti jam. Jam berganti kecemasan. Lalu ponsel berdering, panggilan dari nomor tidak kukenal. Setelah itu hujan berubah deras. Kerumunan orang. Lampu kenderaan. Sirine ambulans. Ingatan itu datang begitu saja hingg membuat napasku tercekat.

Aku menghentikan diriku sendiri sebelum semuanya kembali terulang. Tidak. Aku tidak boleh tenggelam di sana lagi. Aku membuka mata dan mencoba memikirkan Banda yang masih hidup. Saat ini Banda mungkin sedang memilih pakaian yang akan dikenakannya. Baju putih, celana hitam. Aku tahu persis. Beberapa waktu lagi baju putih itu akan berubah menjadi sesuatu yang tidak sanggup aku lihat. Ia juga pasti sedang menyisir rambutnya. Rambut yang selalu rapi dan harum. Setelah itu ia akan memeriksa motornya seperti biasa, memastikan bahan bakar cukup, dan memastikan rem berfungsi. Intinya, memastikan semuanya baik-baik saja. Banda selalu detail ketika menyangkut pertemuan denganku. Dan yang paling menyakitkan, dia sama sekali tidak tahu beberapa waktu lagi hidupnya akan berakhir.

Lihat selengkapnya