Seharusnya aku tidak sedang duduk di atas tribun yang berderit ini.
Satu menit yang lalu, aku baru saja ambruk di gudang rumahku yang berdebu. Namun kini, sorot lampu yang menyilaukan membakar retinaku, tenggelam dalam gemuruh sorak-sorai yang memekakkan telinga.
"Kyaaa! Ishihara!!"
Di sampingku, gadis-gadis tertawa dan menjerit kegirangan, melompat-lompat sambil menunjuk ke arah sosok yang sedang melambai dari lapangan di bawah.
Pertunjukan seni. Seragam sekolah. Wajah-wajah asing yang tak tersimpan dalam ingatanku.
"Hei, Ishi, lihat ke bawah! Dia melambai ke arah sini, gila!" Gadis di sebelah kananku menepuk bahuku dengan antusias, kekuatannya terlalu berlebihan untuk sekadar sapaan biasa.
"Lihat! Dia jelas-jelas lagi ngelihatin Ishi!" gadis di sebelahnya ikut berseru, terkikik sambil menyenggol lenganku dengan agak kasar. "Cepat balas lambaiannya, Ishi! Jangan bikin malu, mukamu kaku banget kayak patung museum!"
Mataku, yang perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya, menangkap sesosok pria yang berdiri tegak di depan tribun, tepat di bawah sorotan lampu.
Pandang kami bersua.
Detik berikutnya, senyumnya terkembang sempurna—bibirnya terangkat membentuk kurva ramah yang bertolak belakang dengan dinginnya malam, seketika membuat gadis-gadis di sekitarku menjerit histeris sambil menutup mulut dengan tangan mereka.
Tangan yang tadi hinggap di bahuku kini mendorongku ke depan—memaksaku bereaksi.
"Tuh! Dia senyum ke kamu! Cepat samperin atau kasih kiss bye!"
Tapi aku tak membalas senyumnya.
Wajahku tetap kaku, tak beriak, seolah otot-otot wajahku telah membeku oleh dingin yang tak wajar. Pikiranku sepenuhnya kosong, pun hati ini tiada terpana—bahkan saat pria itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mengundangku ke dalam pelukan hangat.
Apa yang mereka harapkan? Apa pula yang dia harapkan? Aku melompat ke dalam pelukannya?
Pasang mata yang turut tersenyum itu jelas mengharapkan sesuatu, tapi aku tidak bisa memahaminya. Mungkin karena itulah aku berdiri dan melangkah pergi, meninggalkannya begitu saja tanpa berpikir dua kali.
⊹ ⁛ ⊹
Kakiku menyusuri lorong temaram tanpa tujuan. Jam di dinding menunjukkan pukul 09.30 malam, tetapi jarumnya membeku—tiada suara berdetik. Itu membuatku mempercepat langkah hingga tiba di sebuah pelataran yang terang benderang.