Hari berlalu seperti biasa di duniaku yang tenteram, tak terganggu oleh hiruk-pikuk murid-murid lain, tetapi peristiwa semalam tak pernah benar-benar lepas dari pikiranku. Terutama pria berjubah hitam itu.
Senyum hangatnya, cemoohannya, serta pesannya yang aneh…
'Lain kali, jangan mengembara terlalu jauh.'
Apa maksudnya?
"...Ishihara!"
Letupan tepuk tangan yang tiba-tiba menyeretku kembali ke realita. Guru di depan kelas tersenyum bangga. Dengan perasaan tak nyaman, aku berdiri dan membungkuk sopan.
"Selamat atas kemenanganmu, Ishihara. Ibu berharap bisa melihat lebih banyak prestasi dari murid-murid kita," ucapnya, tepat saat bel istirahat berbunyi.
Seketika, kerumunan teman sekelas mengelilingi mejaku, memhujaniku dengan ucapan selamat. Merasa kewalahan, aku menyelinap keluar lewat pintu belakang sebelum mereka bisa menjebakku lebih jauh.
Sayangnya, kepala sekolah mencegatku di koridor yang sepi, menyodorkan sebuket besar mawar kuning dengan senyum lebar. "Terima kasih telah mengharumkan nama sekolah kita, Ishihara."
Mungkin sebaiknya aku pura-pura mati saja setiap kali memenangkan kompetisi mulai sekarang.
Kini, aku duduk sendirian di atas ayunan di sudut halaman sekolah yang terpencil, memangku buket bunga itu. Sebuah kartu ucapan terselip di dalamnya:
Selamat untukmu! Pencapaian yang luar biasa! ~ Ishtia H.V
Yah, tidak buruk, terlebih lagi ada sebatang cokelat yang terselip di antara mawar-mawar kuning itu. Mungkin manisnya bisa mengusir lara yang tersisa dan harapan-harapanku yang tak pernah terjawab.
"...Enggak, serius! Ibuku lihat seseorang berpakaian jubah hitam bertudung tepat sebelum beliau meninggal!"
Bisik-bisik dari teras di balik semak-semak membuat telingaku menegak. Aku duduk membelakangi mereka, tetapi angin membawa setiap kata dengan sangat jelas.
"Malaikat Maut?"
"Mungkin! Tapi ibumu lihat dia bawa sabit enggak?"
"Ya enggaklah! ...Ibu bilang dia kelihatan kayak orang biasa yang pakai jubah gelap… dan dia cuma tersenyum! Mana ada Malaikat Maut kayak gitu!"
Jantungku terhentak. Sosok berjubah hitam? Tersenyum?
"...Nehi! Kamu, 'kan, jago menafsirkan mimpi!"
"Itu jelas sang Mair," suara lain menimpalinya dengan suram. "Artinya dia datang lebih awal sebagai pertanda bahwa waktu seseorang sudah hampir habis, dan mereka harus bersiap-siap—"
"Yo, tunggu dulu! Menurutmu itu ada hubungannya sama hal-hal kayak jiwa yang glitch gitu enggak? Kayak, proyeksi astral?"