Dekap sang Mair

Nurul Kholifah Asifa
Chapter #2

Si Penafsir Mimpi

Hari berlalu seperti biasa di duniaku yang tenteram, tak terganggu oleh hiruk-pikuk murid-murid lain, tetapi peristiwa semalam tak pernah benar-benar lepas dari pikiranku. Terutama pria berjubah hitam itu.

​Senyum hangatnya, cemoohannya, serta pesannya yang aneh…

​'Lain kali, jangan mengembara terlalu jauh.'

​Apa maksudnya?

​"...Ishihara!"

​Letupan tepuk tangan yang tiba-tiba menyeretku kembali ke realita. Guru di depan kelas tersenyum bangga. Dengan perasaan tak nyaman, aku berdiri dan membungkuk sopan.

​"Selamat atas kemenanganmu, Ishihara. Ibu berharap bisa melihat lebih banyak prestasi dari murid-murid kita," ucapnya, tepat saat bel istirahat berbunyi.

​Seketika, kerumunan teman sekelas mengelilingi mejaku, memhujaniku dengan ucapan selamat. Merasa kewalahan, aku menyelinap keluar lewat pintu belakang sebelum mereka bisa menjebakku lebih jauh.

​Sayangnya, kepala sekolah mencegatku di koridor yang sepi, menyodorkan sebuket besar mawar kuning dengan senyum lebar. "Terima kasih telah mengharumkan nama sekolah kita, Ishihara."

​Mungkin sebaiknya aku pura-pura mati saja setiap kali memenangkan kompetisi mulai sekarang.

​Kini, aku duduk sendirian di atas ayunan di sudut halaman sekolah yang terpencil, memangku buket bunga itu. Sebuah kartu ucapan terselip di dalamnya:

​Selamat untukmu! Pencapaian yang luar biasa! ~ Ishtia H.V

​Yah, tidak buruk, terlebih lagi ada sebatang cokelat yang terselip di antara mawar-mawar kuning itu. Mungkin manisnya bisa mengusir lara yang tersisa dan harapan-harapanku yang tak pernah terjawab.

​"...Enggak, serius! Ibuku lihat seseorang berpakaian jubah hitam bertudung tepat sebelum beliau meninggal!"

​Bisik-bisik dari teras di balik semak-semak membuat telingaku menegak. Aku duduk membelakangi mereka, tetapi angin membawa setiap kata dengan sangat jelas.

​"Malaikat Maut?"

​"Mungkin! Tapi ibumu lihat dia bawa sabit enggak?"

​"Ya enggaklah! ...Ibu bilang dia kelihatan kayak orang biasa yang pakai jubah gelap… dan dia cuma tersenyum! Mana ada Malaikat Maut kayak gitu!"

​Jantungku terhentak. Sosok berjubah hitam? Tersenyum?

​"...Nehi! Kamu, 'kan, jago menafsirkan mimpi!"

​"Itu jelas sang Mair," suara lain menimpalinya dengan suram. "Artinya dia datang lebih awal sebagai pertanda bahwa waktu seseorang sudah hampir habis, dan mereka harus bersiap-siap—"

​"Yo, tunggu dulu! Menurutmu itu ada hubungannya sama hal-hal kayak jiwa yang glitch gitu enggak? Kayak, proyeksi astral?"

Lihat selengkapnya