Dekap sang Mair

Nurul Kholifah Asifa
Chapter #3

Terburu

Keesokan harinya, dengan perasaan campur aduk antara berharap dan putus asa—serta berbekal izin dari kakakku dengan dalih kelelahan setelah kompetisi—aku melangkahkan kaki ke perpustakaan nasional.

​Pikiranku masih terbayang oleh kegagalan semalam. Aku tidak bisa memahaminya. Jika proyeksi astral semudah yang dijelaskan dalam buku, mengapa tubuhku menolaknya secara ekstrem?

​Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan bagian okultisme. Setelah menyisir puluhan jilid buku usang yang penuh dengan tafsir mimpi klise, mataku tertuju pada sebuah buku berdebu yang terselip di rak paling bawah. Halamannya sudah menguning dan rapuh.

​Aku membalik-balik alurnya hingga jariku terhenti pada sebuah catatan bertulisan tangan di halaman terakhir. Tinta kecil yang pudar itu berbunyi:

​'Untuk perjalanan, bukan teknik. Kau harus menemukan orang yang tepat. Mereka yang bisa menarikmu keluar. Ikuti mereka, dan kau akan keluar. Jika tidak, kau akan selamanya terjebak.'

​Aku tertegun.

​Jadi, bukan teknikku yang salah. Aku tidak bisa menyeberang sendirian. Aku membutuhkan orang lain.

​Orang yang bisa menarikku keluar...

​Kilasan bayangan melintas di benakku. Sebuah siluet berjubah hitam, senyum hangatnya yang berbahaya, dan tangannya yang terulur…

​Jubah Hitam. Dia adalah kuncinya.

​Proyeksi astral pertamaku terjadi secara tidak sengaja saat aku sendirian, dan aku hanya berhasil melintasinya karena si Jubah Hitam menemukanku.

​Masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa menghubunginya?

​Akhirnya, aku pulang dengan pikiran yang sepenuhnya kacau. Rasa lelah menggerogotiku, baik secara fisik maupun mental.

​Klek.

​Saat aku mengunci pintu di belakangku dan kakiku menyentuh dinginnya ubin ruang tamu, serangan itu datang tanpa peringatan.

​"Ugh… Brahma…"

​Sensasi vertigo yang ganas menghantam bagian belakang tengkorakku. Rasa dingin yang membekukan meluncur deras melalui pembuluh darahku—begitu ekstrem hingga lututku seketika terlipat.

​Brak!

​Penglihatanku mengabur menjadi sapuan abu-abu yang samar. Gelombang mual membakar tenggorokanku. Aku bahkan tidak sempat meraih tepi sofa sebelum kegelapan total menelan kesadaranku secara utuh—

Pekikan menggema di tengah gemuruh ratusan langkah kaki yang tergesa-gesa.

​Aku membuka mata. Bulevar kacau. Orang-orang melarikan diri tak tentu arah dalam ketakutan.

​Di sepanjang trotoar terbaring tubuh-tubuh nan tak berdaya dan membeku—wajah mereka sepenuhnya tanpa ekspresi, mata mereka terkuras habis dari ceceran bara kehidupan.

Lihat selengkapnya