Dekap sang Mair

Nurul Kholifah Asifa
Chapter #4

Si Pemakan Emosi

Seminggu berlalu. Kehidupanku kembali ke rutinitas normal yang menjemukan—pergi ke sekolah, duduk menyimak pelajaran tanpa interaksi yang tidak perlu, lalu pulang ke rumah menemukan Brahma yang sudah berdiri di balik pintu, menuntut perhatian.

​Kuk-kuk!

​"Jangan melihatku seperti itu, Brahma. Tidak ada daging cincang hari ini—tas belanjaku kosong," gumamku lelah, melempar ransel ke atas sofa sementara ayam berbulu tebal itu mengikutiku dari belakang, bergumam melenguh melayangkan protes.

​Meskipun aku sempat melihat si Penafsir Mimpi lagi di koridor sekolah, aku tidak repot-repot bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya telah kualami.

​Kabar baiknya, ruhku tidak lepas dan mengembara lagi ke alam lain. Namun, rasa takut dan takjub atas apa yang telah kulakukan di alam astral bersama si Jubah Hitam tak pernah memudar.

​Aku tak lagi mencoba proyeksi astral secara sadar. Aku takut. Aku hanya ingin semuanya kembali normal, seperti saat sebelum aku tersedot ke dalam kegilaan itu.

​"Brahma! Jangan curi lumpiaku! Kau sudah dapat jatahmu tadi pagi!" teriakku saat paruh tajamnya menerjang piring di atas meja tanpa ragu, berhasil membuat ayam itu mundur dan mengibas-ngibaskan bulunya seolah tak berdosa.

​Namun, seperti biasa, aku tidak bisa memaksakan apa pun—lebih-lebih menghindarinya.

​Kini, aku duduk bersama ayamku di atas ayunan kepompong gantung di halaman belakang. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah embusan angin—rumah ini selalu sepi sejak aku mulai tinggal sendirian.

​Orang tuaku bercerai. Ayahku membangun keluarga baru, sementara ibuku memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri setelah Ayah menikahi wanita simpanannya.

​Aku tidak mengerti mengapa Ibu memilih jalan pintas itu. Mungkin aku dan kakakku memang tidak pernah cukup baginya, sebagaimana kami juga tidak pernah cukup bagi Ayah yang lebih memilih memiliki anak dari wanita lain.

​Kuk-kuk!

​"Berhenti mengejekku, Brahma! Oh, kau pikir itu lucu?"

​Aku tahu orang-orang masih suka bergosip: membicarakan perselingkuhan Ayah, kematian Ibu, dan bahkan rumor-rumor pahit tentang kakakku.

​Mereka tidak akan pernah berhenti, dan jujur saja, aku muak. Aku benar-benar lelah.

​Meratapi semua ini, tanpa sadar aku tertidur lelap—

​"Kyaa!"

​Sosok di hadapanku mengejutkanku—tak lain adalah refleksiku sendiri yang mengenakan gaun putih sebetis.

Tunggu, kurasa tadi aku tertidur, dan sekarang aku berubah menjadi... hantu?

​Aku mendongak, memperhatikan angka-angka di indikator LCD yang terus menanjak naik.

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai 12. Dengan langkah mantap, aku berjalan keluar, menyusuri koridor yang ramai.

Lihat selengkapnya