Krieett, krieett…
Benturan dahsyat yang kupikir akan kuhadapi tak pernah benar-benar datang. Sensasi terjun bebas mendadak menguap, digantikan oleh ayunan lembut dan berirama.
Aku mengerjap, mencoba mengusir sisa-sisa kegelapan dari hancurnya lantai 12 tadi.
Aku sedang tidak berada di dalam lift, pun tidak berada di gudang yang temaram dan berdebu.
Aku terbangun di atas ayunan kepompong gantung. Namun, ada sesuatu yang berbeda…
Saat kesadaranku perlahan pulih, aku menyadari bahwa aku tidak sedang bersandar pada bantal, melainkan pada sesuatu yang sekeras batu nisan.
Aku sedang berada di pangkuan Jubah Hitam.
Pria itu duduk tenang di atas ayunan, menimangku seolah bobot tubuhku tak lebih berat dari sehelai bulu. Di pangkuanku sendiri, Brahma masih tertidur lelap, bernapas teratur, sama sekali tak terganggu oleh kehadiran entitas ini.
Sebuah kontras yang aneh merayapi kulitku—kehangatan dari seekor burung hidup berpadu dengan rasa dingin mematikan yang memancar dari perawakan si Jubah Hitam.
"J-Jubah Hitam?" suaraku tercekat, nyaris menjadi bisikan pelan di tengah dinginnya udara malam. "Pria di koridor tadi... dia mencoba mengambil ingatanku. Rasa sakitku."
Jubah Hitam tidak langsung menjawab. Dia tetap bergeming, menatap ke bawah bukan ke wajahku, melainkan ke arah tangannya sendiri.
"Dia adalah pemangsa dari pembusukan manusia," gumam Jubah Hitam pelan, suara baritonnya bergetar menembus dadaku. "Dia memakan kelemahan yang ditinggalkan oleh kaum fana saat mereka menyerah. Tapi kau... kau menolak untuk tunduk."
Aku menunduk menatap jemari panjangnya yang bersarung tangan hitam, yang sedang memintal seutas benang wol merah muda secara perlahan.
Warna itu begitu manis, begitu cerah—seperti bunga musim semi yang penuh kasih—terlihat sangat tidak pas berada di tangan sosoknya yang gelap dan mengerikan.
Benang itu tidak hanya melilit di antara jemarinya, tetapi juga melingkar dengan anggun di sekeliling pergelangan tanganku, mengikat kami dalam sebuah jalinan yang terasa erat namun lembut.
"Apa yang kau lakukan...?" bisikku, jantungku memukul-mukul tulang rusukku. "Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Dia tetap bungkam, menatap benang itu seolah sedang menenun takdir itu sendiri. Tiada amarah yang mendidih kali ini—hanya ada ketenangan yang membekukan.
"Hentikan… lepaskan…" Aku menggerakkan pergelangan tanganku, mencoba melonggarkan benang asing tersebut.
Jubah Hitam bergeming. Dengan kehati-hatian yang lambat dan terencana, jemarinya mengarahkan ujung benang, melilitkannya di jari kelingkingku.
Aku menahan napas, terpaku. Sebelum aku sempat mencerna maksudnya, dia menarik benang itu lebih jauh, melingkarkannya di jari manisku dengan jenis kelembutan yang menyakitkan. Polanya begitu rumit—menyerupai sebuah ikrar sunyi.