Jalan desa yang biasanya lengang, hari itu berubah seperti jalur utama. Truk-truk besar datang silih berganti tanpa jeda, suaranya meraung memecah siang.
Ban-ban tebal mereka menggilas tanah kering yang retak, menimbulkan debu halus yang beterbangan lalu menempel di daun, di pakaian, bahkan di kulit orang-orang yang berdiri terlalu dekat.
Di bak belakang, karung-karung gabah ditumpuk tinggi, diikat seadanya dengan tali rafia. Beberapa karung terlihat menggelembung, sebagian lain sudah mulai robek di ujungnya, memperlihatkan butiran padi yang kuning pucat.
Itulah hasil berbulan-bulan menunggu hujan yang tak selalu pasti, pupuk yang harganya naik turun, dan tenaga yang tak pernah dihitung benar-benar.
Para pemilik lahan berdiri di pinggir jalan, sebagian memayungi kepala dengan caping, sebagian lagi hanya mengandalkan tangan untuk menahan terik. Wajah mereka tampak lebih ringan dari hari-hari biasa.
Uang berpindah tangan—cepat, tanpa banyak perhitungan di tempat. Tengkulak datang membawa timbangan dan harga yang sudah mereka tentukan sendiri.
Tak semua pemilik lahan benar-benar puas, tapi tak banyak pilihan. Menyimpan gabah berarti butuh biaya lagi. Menjual sekarang, meski dengan harga yang sering terasa menekan, dianggap lebih aman.
Senyum tetap muncul, meski tipis dan tidak lama. Musim panen selalu membawa harapan, tapi juga mengingatkan siapa yang paling diuntungkan.
Di sisi lain, para tenaga borongan bekerja tanpa banyak bicara. Tubuh mereka basah oleh keringat sejak pagi, baju yang dikenakan sudah lengket di punggung. Pundak mereka memanggul karung demi karung—beratnya tak pernah berubah, tapi rasa lelahnya bertambah setiap kali diangkat.
Dulu, pekerjaan seperti ini bisa berlangsung lebih lama. Lebih banyak lahan, lebih banyak panggilan kerja. Tapi sekarang, sebagian sawah mulai beralih menggunakan comben mesin panen yang bisa menggantikan banyak tenaga manusia dalam waktu singkat.
Cepat, rapi, dan dianggap lebih murah dalam jangka panjang.
Bagi pemilik lahan, itu solusi.