Di atas bangku kayu tua yang kakinya sudah pincang dialas ganjalan tempurung kelapa, duduklah mertua Muslim—seorang veteran kehidupan bertubuh kurus kering bernama Pak Imin. Sore itu, beliau memakai kostum kebesarannya: kaos oblong putih yang saking seringnya dicuci sudah berubah warna menjadi abu-abu gerimis dengan beberapa lubang ventilator alami di bagian bahu seperti ikut menyimpan kisah panjang tentang kerasnya hidup., dipadu sarung tenun hijau bermotif kotak-kotak pudar.
Di hadapannya, Muslim duduk menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam, sesekali mengusap lutut yang penuh debu setelah menempuh perjalanan jauh. Dari mulut beliau yang mengepulkan asap rokok lintingan klembak menyengat, keluar sebuah pertanyaan bermutu tinggi yang sanggup merontokkan bulu kuduk pria manapun di bumi ini.
“Anakmu sudah banyak, Muslim. Bagaimana kamu mau membesarkan mereka semua hanya dengan mengandalkan pekerjaan matamu yang sering mengantuk di pos ronda itu?” Pertanyaan itu meluncur tanpa nada marah. Namun justru karena diucapkan begitu datar, ia terasa lebih berat daripada batu penggilingan padi. Suara Pak Imin berat, bergema seperti dentang lonceng gereja tua di tengah malam.
Muslim hanya bisa mengulas senyum tipis—senyum khas pria Jawa yang sedang mencoba bertahan hidup di tengah kepungan takdir.
“Rezeki setiap anak pasti sudah ada yang mengatur, Pak. Tidak perlu risau, saya akan berusaha sebaik mungkin membesarkan cucu-cucu Bapak,” jawab Muslim penuh khidmat, walau di dalam hati egonya sebagai kepala keluarga rasanya seperti diiris-iris pisau dapur tumpul.
"Berusaha saja belum tentu cukup." Kalimat itu seperti paku yang dipukul perlahan ke dalam harga dirinya. Muslim tidak menjawab.
Seorang kepala keluarga mungkin bisa menerima dirinya dihina orang lain. Namun sulit rasanya menerima keraguan terhadap kemampuannya memberi makan anak-anaknya sendiri. Seketika itu juga, terlintas bayangan sumpah serapah magis di kepala Muslim. Demi martabat seorang suami, ia rela mengubah peta dunia! Jika perlu, kaki dijadikannya kepala, kepala dijadikannya kaki, melanglang buana sampai ke ujung jagat, atau tak pulang berbulan-bulan demi membuktikan bahwa kalimat mertuanya itu salah besar.
Asal suatu hari nanti, lelaki tua itu bisa berkata, "Aku salah menilaimu."
Namun, kalau dipikir-pikir pakai akal sehat yang jernih, kekhawatiran Pak Imin sungguh masuk akal tingkat tinggi. Berdiri di hadapan Muslim lima orang budak kecil yang perutnya seperti tidak pernah punya dasar. Lima anak dari pernikahannya dengan Ruswina! Lima mulut yang tiap pagi menuntut nasi, uang jajan seratus perak, buku tulis bergambar banteng, dan uang kas sekolah. Untuk menanggung lima nyawa itu—plus Muslim dan Ruswina—gaji Muslim sebagai penjaga malam di SPBU ibarat menyiramkan secangkir air teh hangat ke atas padang pasir Sahara. Jangankan buat menabung, buat beli sabun mandi saja mereka harus membelahnya jadi dua bagian!
Sementara penghasilan Muslim sebagai penjaga malam SPBU bahkan sering kali sudah habis sebelum akhir bulan tiba.
Gaji itu harus dibagi menjadi terlalu banyak bagian.
Air.
Beras.