Alkisah pada suatu malam di penghujung Agustus tahun 1983—tahun Babi dengan Unsur Air, yang menurut kitab ramalan tua Tionghoa akan melahirkan anak-anak yang berhati sabar seluas samudra, jujur bagai penggaris kayu, dan suka menolong tanpa pamrih—sebuah panggung drama kehidupan kelas bawah sedang digelar di sebuah rumah papan sederhana.
Pagi-pagi buta di kampung itu selalu diawali oleh suara ayam yang salah mengira waktu. Baru tengah malam lewat sedikit, mereka sudah berkokok seolah matahari sedang mengintip dari balik pohon kelapa. Padahal langit masih hitam pekat, dan angin Agustus masih membawa dingin yang membuat orang-orang memilih meringkuk di balik selimut tipis daripada membuka pintu rumah.
Sebuah rumah papan kecil di ujung gang yang paling terang mendadak menjadi pusat semesta bagi dua keluarga. Bukan karena lampunya mewah—lampu minyak dengan kaca yang mulai menghitam itu bahkan lebih sering berkedip daripada menyala lurus—melainkan karena di dalamnya ada harapan yang sedang menunggu giliran untuk lahir. Malam telah melampaui punggungnya sendiri. Jam-jam yang biasanya hanya ditemani suara cengkerik dan sesekali lolongan anjing kampung itu kini dipenuhi erangan seorang perempuan yang sedang bertaruh nyawa dengan takdir.
Kamar persalinan ukurannya tak lebih luas dari dua kali tiga meter. Di dalam kamar sempit yang hanya dipisahkan dinding tripleks tipis, Ruswina menggenggam ujung tikar pandan hingga jemarinya memutih. Penerangannya amat hemat, bahkan cenderung pelit: hanya bersumber dari sebuah lampu teplok berminyak tanah yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin malam lewat celah-celah dinding papan yang merenggang. Jelaganya membumbung tipis ke udara, membuat siapa saja yang bernapas terlalu dalam di ruangan itu berisiko keluar dengan hidung belepotan noda hitam. Di atas dipan kayu yang berdecit-decit pasrah menahan beban, Ruswina sedang bertarung nyawa. Mulesnya sudah sampai ke ubun-ubun, tak tertanggungkan lagi. Keringat membasahi pelipis, rambutnya melekat di dahi, sementara napasnya memburu seperti orang yang sedang mengejar hidupnya sendiri.
Di sisi dipan, Mak Dukun Beranak sudah memasang kuda-kuda dengan jurus-jurus andalannya: sebuah baskom seng berkarat berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis, gulungan kain batik kusam yang tampaknya telah melewati puluhan sejarah kelahiran warga kampung, dan sebilah sembilu yang disiapkan dengan takzim.
"Aduh... Mak..." lirihnya di sela rasa mulas yang datang bergelombang.
"Sudah besar pembukaannya, Nak. Tarik napas... nanti kalau Mak bilang mengejan, baru kau dorong. Jangan dilawan sakitnya."
Muslim berlutut di samping istrinya. Wajah lelaki muda itu pucat, lebih pucat daripada wajah orang yang hendak melahirkan. Tangannya tak henti mengusap punggung Ruswina, padahal ia sendiri gemetar seperti daun pisang diterpa angin malam.
"Ya Allah... Muslim..." lirihnya sambil memejamkan mata. "Sakit kali..." Muslim yang duduk di sampingnya ikut berkeringat, padahal malam sedang dingin. Ia hanya bisa mengusap punggung istrinya dengan telapak tangan yang kasar oleh pekerjaan.
"Sabar ya, Rus. Sebentar lagi. Sedikit lagi."
Kalimat itu sebenarnya lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Sebab lelaki yang sebentar lagi menjadi ayah itu sama bingungnya dengan bayi yang akan lahir beberapa menit lagi. Bedanya, bayi itu belum tahu apa-apa tentang dunia. Muslim justru terlalu banyak tahu tentang betapa miskinnya dunia yang akan diwariskannya kepada anak itu.
Di sisi dipan, Mak Dukun Beranak sudah memasang kuda-kuda dengan jurus-jurus andalannya: sebuah baskom seng berkarat berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis, gulungan kain batik kusam yang tampaknya telah melewati puluhan sejarah kelahiran warga kampung, dan sebilah sembilu yang disiapkan dengan takzim.
Di luar kamar, pada ruang tamu yang hanya beralaskan tikar pandan yang sudah terkelupas pinggirannya, dua pasang mertua sedang melakoni ritual menunggu dengan tabiat dan gengsinya masing-masing.
Ibu Aisyah, ibunda dari Ruswina, duduk bersimpuh tak tenang. Bibirnya komat-kamit tanpa henti melafalkan surah-surah pendek yang ia tahu atau doa-doa keselamatan sampai kering. Tasbihnya berpindah dari ruas jari ke ruas jari. Tak ada doa yang lebih panjang malam itu selain doa seorang ibu kepada anak perempuannya yang sedang mempertaruhkan hidup. Maklum saja, bayi yang sedang berjuang keluar ini adalah cucu pertama dari anak pertamanya! Taruhannya bukan main-main: gengsi dan kebahagiaan setinggi langit.
"Ya Allah... mudahkanlah. Selamatkan anakku... selamatkan cucuku...."
Sedikit berbeda dengan Bu Rahmah, ibu dari Muslim. Wanita pendiam yang wajahnya seolah ditakdirkan murung sejak lahir ini melakoni rasa cemas dengan gaya penderitaan yang sunyi. Beliau hanya duduk menunduk, mengelus-elus lipatan kain sarungnya, tak banyak bicara namun kasih sayangnya memancar dari tatapannya yang teduh, perempuan itu menyimpan kasih sayang sebesar sawah yang digarap suaminya.. Bagi keluarga Muslim, ini adalah cucu kelima, berarti angkanya ganjil, dan dalam pemahaman mereka yang bersahaja, ganjil adalah angka kesukaan Tuhan. Jadi, kepanikan Bu Rahmah sedikit teredam oleh kalkulasi spiritual tersebut.
Namun, drama sejatinya justru terjadi pada barisan para lelaki: Pak Imin dan Pak Zaka. Dua veteran kehidupan ini sedang mempertaruhkan kehormatan gengsi pria Sumatra di tingkat tertinggi.
Pak Imin adalah seorang supir kantor TNI AL di Medan yang terbiasa meliuk-liuk di jalanan keras, sementara Pak Zaka adalah seorang petani bersahaja yang tangannya kapalan karena pegang cangkul. Sebagai pria sejati, haram hukumnya memperlihatkan raut muka panik di depan besan.
"Mau sebatang, Pak Zaka?"
Pak Zaka menerima sambil terkekeh kecil.
"Kalau tak diisap nanti malah habis sendiri dimakan cemas."
Keduanya tertawa pendek. Tawa yang dipaksakan.
"Asal kau tahu, waktu istriku melahirkan Muslim dulu, aku mondar-mandir sampai sandal putus."
Pak Imin langsung menyahut. "Tapi, Zaka..." bisik Pak Imin perlahan sambil menyulut sebatang rokok klobot. Ia berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar seperti seorang jenderal yang sedang meninjau garis belakang pertempuran. "Jaman aku nunggu si Rus lahir dulu, aku santai-santai saja di warung kopi. Nggak ada mules-mules pakai teriak histeris begitu."
Pak Zaka tertawa terkekeh, meski senyumnya agak peot karena menahan gugup yang sama hebatnya. "Betulkah itu, Imin. Pria itu dadanya harus seluas lautan. Tapi... coba kukirim pandangan ke arah mukamu, kenapa kumismu yang tebal itu ikut gemetar?"