Menjadi anak sulung sekaligus cucu pertama dalam ranah keluarga jelata bukanlah sebuah gelar kebangsawanan yang berhak atas mahkota permata. Di panggung kehidupan keluarga Muslim dan Ruswina, status itu tak ubahnya titah tidak tertulis untuk menjadi kapten kapal penangkap ikan yang dayungnya kerap patah dihantam gelombang nasib. Belum genap setahun Rani bertakhta tunggal sebagai pusat tata surya limpahan kasih sayang orang tuanya, takdir sudah mengetuk pintu kayu rumah mereka yang berderit. Lahirlah Saras, persis di hari kemenangan Idul Fitri. Saras hadir membawa harum minyak telon dan tawa bayi yang serta-merta membelah konsentrasi perhatian Ruswina menjadi dua paruh yang sama persis ukurannya.
Rani kecil, walau langkah kakinya masih tertatih-tatih seperti anak ayam kehilangan induk dan kosa katanya baru terbatas pada julukan sakral: “Mak”, “Pak”, dan “Dik”, memiliki kearifan mendalam yang melampaui usianya. Ia tidak rewel saat separuh buaian Ibunya berpindah tangan. Kalau Ruswina sedang menyusui, Rani cukup duduk di samping ibunya sambil memainkan ujung kain sarung. Sesekali ia menatap wajah adiknya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu, lalu mengulurkan telunjuk mungil menyentuh pipi Saras.
"Lihatlah, Bang... Kakaknya sayang kali sama adiknya."
Muslim ikut terkekeh. "Padahal dia sendiri masih bayi."
Rumah mereka menjadi ramai oleh tamu. Maklum, Saras lahir tepat di hari kemenangan. Karena Ruswina masih dalam masa nifas, mereka tidak sempat bersilaturahmi ke mana-mana. Justru sanak saudara yang bergantian datang. Membawa beras setampah, gula sekilo, telur sekat, atau sekadar sebungkus biskuit kaleng yang baru dibuka ketika tamu berikutnya datang. Di kampung orang miskin, hadiah bukan diukur dari mahalnya isi bingkisan, melainkan dari niat baik yang ikut dibungkus bersama plastik kresek.
Semesta seolah paham bahwa takdir keluarga miskin tak pernah mengenal istilah 'jeda waktu. Saat Saras baru pandai merangkak dan baru pandai berlari kecil mengelilingi ruang tamu sambil berceloteh tanpa henti, garis nasib kembali menenun kejutan berikutnya.
Tahun 1985 bertandang membawa musim hujan yang panjang. Dalam kalender kepercayaan etnis Tionghoa yang kerap diyakini tetangga-tetangga seberang gang, tahun itu ditandai oleh Shio Kerbau Kayu—perlambang manusia pekerja keras, tak kenal lelah, jujur, dan tangguh bagaikan batang jati tua. Di tengah himpitan ekonomi yang serba mencekik, rahim Ruswina kembali bergetar. Lahirlah seorang bayi laki-laki berambut lebat hitam pekat, berkulit kuning langsat, dan bermata tajam bak elang pesisir. Orang-orang pesisir pada masa itu berfikir mempunyai anak lelaki masih dianggap seperti menanam pohon yang kelak akan menjadi tiang penyangga keluarga. Pola pikir sederhana yang diwariskan turun-temurun. Bukan karena lebih mencintai anak lelaki daripada perempuan, melainkan karena begitulah keyakinan zaman bekerja.
“Alhamdulillah! Jagoan, Rus! Anak laki-laki!” teriak Muslim melengking, memecah kesunyian malam hingga ayam pikat milik tetangga bersahut-sahutan.
Bagi Muslim—seorang pria pekerja keras dengan pola pikir bersahaja khas kaum pesisir zaman dulu—kehadiran anak laki-laki adalah jaminan berkibarnya panji keluarga di masa depan. Bayi itu diberi nama Deri Kurniawan.
Tak kalah histeris adalah Pak Imin, sang kakek. Pria tua yang di masa mudanya terkenal rigid bak panglima perang di mata anak-anaknya itu, seketika luluh melumer bagai mentega kena sangrai tiap kali menatap Deri. Rutinitas sore Pak Imin mendadak berubah: ia akan saban hari singgah, Kadang membawa pisang rebus. Kadang membawa kacang goreng dalam kantong koran. Kadang tak membawa apa-apa selain senyum yang lebar. Lalu menyusupkan selembar uang logam seratus perak yang masih berkilau ke dalam saku baju Deri— yang bahkan belum tahu cara membelanjakannya.
"Ini buat jajan nanti kalau sudah besar."
Padahal Deri baru bisa membalas dengan gumaman yang bahkan tak menyerupai kata. Pak Imin tetap tertawa puas.
"Cerdas kali cucuku ini." Semua bayi memang tampak jenius di mata seorang kakek.
Namun, Tuhan seolah belum selesai meniupkan nyawa ke dalam takdir rumah papan itu. Hanya berselang setahun, ketika Deri baru belajar melangkah dengan paha membal-membal, anak keempat lahir dengan suara tangisan paling menggelegar sepanjang sejarah dinasti Muslim. Tangisan bayi perempuan berambut ikal kemerahan itu begitu nyaring hingga rasanya sanggup menggetarkan tiang-tiang kayu rumah yang nyaris lapuk.
Ruswina yang masih lemah hanya mampu tersenyum. "Lihatlah, Pak... suaranya lebih besar daripada kakak-kakaknya."
Muslim tertawa kecil sambil mengusap kepala istrinya. "Baguslah. Biar nanti kalau minta makan, satu kampung dengar."
Mereka tertawa di tengah kemiskinan yang tidak pernah benar-benar pergi. Sebab orang miskin memang sering kali hanya punya dua pilihan: menangis atau menertawakan hidup. Muslim dan Ruswina memilih pilihan kedua.
Bayi perempuan itu diberi nama Wilda. Rambutnya sedikit bergelombang, hitam pekat dengan semburat kecokelatan yang tampak kemerahan jika terkena cahaya matahari. Wajahnya bulat, pipinya penuh, matanya selalu tampak penasaran kepada dunia.
Namun rupanya Tuhan belum selesai menghitung anggota keluarga mereka. Setahun kemudian, disaat Rani menginjak usia lima tahun, Saras berumur genap enam tahun, Deri sudah berlari ke sana kemari seperti angin yang tak bisa ditangkap, dan Wilda mulai belajar mengucapkan kata-kata pertamanya, Ruswina kembali mengandung. datanglah anggota kelima—bayi perempuan bontot bernama Maya.
"Yang ini terakhir ya, Pak." Ruswina berkata begitu setiap kali perutnya mulai membesar.
Muslim selalu mengangguk. "Iya... terakhir."
Padahal kalimat itu sudah mereka ucapkan berkali-kali. Barangkali Tuhan hanya tersenyum setiap kali mendengarnya. Lengkaplah sudah lima prajurit kecil yang memenuhi kolong kehidupan keluarga bersahaja ini.
❖ ❖ ❖
Berbeda dengan anak-anak lain yang kerap dilanda penyakit cemburu saat adiknya bertambah, Rani justru merasa mendapat tambahan pasukan tempur untuk meramaikan imajinasinya. Begitulah isi kepala anak-anak. Bagi mereka, semakin banyak saudara berarti semakin ramai permainan. Setiap mendapat adik baru, wajahnya justru berbinar.
"Enak ya, sekarang teman main kita nambah lagi."
Ketika akhirnya Rani masuk sekolah dasar, empat pasang mata kecil selalu mengantarnya sampai ke depan pintu. Mereka memandang dengan iri. Sekolah bagi mereka tampak seperti negeri ajaib. Rani pulang membawa buku, membawa cerita, dan membawa hafalan lagu baru.
Kecerdasan Rani sudah berkilat bahkan sebelum ia menginjakkan kaki di lantai semen sekolah dasar. Tanpa ada yang mengajari secara intensif, ia sanggup menghafal 26 abjad dan urutan angka tanpa pernah meleset satu digit pun. Ia sering mengeja tulisan pada bungkus sabun, koran bekas pembungkus gorengan, bahkan tulisan kecil di botol minyak kayu putih. Setiap kali radio transistor merk Cawang di sudut ruangan menyuarakan lagu anak-anak, Rani akan bernyanyi nyaring sembari menari-nari kecil.
“Kak Rani... kok bisa nyanyi ikut orang di dalam kotak itu?” tanya Saras polos, matanya yang bulat menatap radio dengan kekaguman takjub.
“Bisa, lah! Makanya cepat belajar membaca! Nanti kalau kau sudah besar, kau bisa ikut bernyanyi sama orang di dalam radio itu!” jawab Rani berwibawa, dadanya mendung busung penuh kebanggaan.