Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #4

Bubur Dedak dan Takdir Pinggiran

Matahari belum sempat menyisir pucuk-pucuk pohon kelapa ketika Muslim sudah lebih dulu mengayunkan langkah menuju tempat kerjanya. Di kampung itu, ayam bahkan masih sibuk berunding hendak berkokok atau tidak, tetapi lelaki kurus berkulit legam itu telah menghilang di tikungan jalan, memanggul harapan yang setiap hari terasa lebih berat daripada tubuhnya sendiri.

Orang-orang mengenalnya sebagai lelaki yang tak banyak bicara. Wajahnya selalu tampak keras, bukan karena ia senang marah, melainkan karena hidup telah terlalu lama mengajarinya cara mengerutkan dahi. Ada orang yang lahir membawa sendok emas, ada pula yang lahir membawa daftar cicilan. Muslim merasa dirinya termasuk golongan kedua.

Lima orang anak telah memenuhi rumah papan kecilnya dengan suara tawa, tangis, rebutan sendok, dan pertengkaran tentang siapa yang paling banyak mengambil ikan goreng. Rumah itu sempit, tetapi isinya ramai. Kadang kala keramaian itu menjadi hiburan, kadang pula menjadi pengingat bahwa lima perut kecil harus diisi setiap hari.

Bagi Muslim, lima orang anak bukanlah sekadar barisan mulut yang minta disuapi setiap terbit matahari, melainkan sebuah maklumat perang melawan kemiskinan yang seolah tak berniat usai. Di gubuk beratap seng milik mereka, kehidupan tidak berjalan seperti arus sungai yang tenang, melainkan seperti ombak di pesisir yang menghantam karang tanpa belas kasihan.

Mertuanya, Pak Imin—seorang lelaki tua berlidah setajam sembilu dan bertingkah bak filsuf pinggiran—pernah melempar kalimat yang sampai hari ini bertengger kokoh di dinding kepala Muslim:

“Anak itu diberi makan nasi, Muslim! Bukan diberi makan dedak!”

Kalimat itu bukan sekadar teguran, melainkan alarm bahaya bernada tinggi yang berbunyi tiap kali Muslim menghitung lembaran uang kumal di dompetnya. Kalimat sederhana itu menancap di kepalanya seperti paku yang dipukul berulang-ulang.

 Namun, nasib kaum jelata kerap kali seperti roda pedati yang dipasang terbalik; makin keras dikayuh siang dan malam, makin dalam ia terperosok ke dalam kubangan kemalangan. Semakin keras bekerja, semakin terasa pendek uang di saku. Gaji harian Muslim seperti tamu sore hari; sebentar singgah, lalu buru-buru pamit sebelum malam tiba. Gaji yang seadanya habis dihisap oleh urusan perut dan peradaban kecil bernama sekolah. Rani, si sulung yang penurut, tahun depan melompat ke jenjang SMP—sebuah fase yang mem butuhkan biaya lebih besar. Di belakangnya, Saras menginjak kelas 5 SD, Deri di kelas 4, sementara Wilda dan Maya mengekor ketat di kelas 3 dan 2.

Muslim sering duduk di beranda menjelang malam, memandangi langit yang gelap. Ia tidak sedang menghitung bintang. Ia sedang menghitung pengeluaran.

"Kenapa?"

"Biayanya makin besar."

Ruswina hanya mengangguk.

Tidak ada jawaban lain.

Dalam keluarga miskin, mengangguk sering kali berarti, 'Aku juga tahu. Tapi kita bisa apa?'

Di sudut lain pertahanan keluarga, Ruswina, istrinya, adalah benteng utama yang tak kenal kibar bendera putih. Ruswina memeras keringat sebagai 'kolektor cucian'. Tubuhnya kecil, lengannya kurus. tetapi tenaganya seperti dipinjam dari tiga orang sekaligus. Sepuluh rumah langganan ia santroni dalam sebulan, bertualang dari gang ke gang hanya bermodalkan dua pasang kaki yang dipasangi ketabahan tingkat tinggi dan tak pernah mengeluh. Yang mengeluh justru sandal jepitnya. Sandal itu sudah beberapa kali putus. Berkali-kali pula disambung dengan paku payung atau kawat bekas. Bentuknya sudah lebih mirip peta Indonesia daripada sandal.

Setiap pagi selalu ada satu bayangan kecil yang mengekor di belakangnya, Wilda si anak nomor empat, menempel ketat di rok kain ibunya bak benalu yang berikrar setia.

“Ngapain ngikut? Mamak mau cuci baju di gang sebelah,” kibas Ruswina sembari membetulkan letak selendang di bahunya.

“Wilda ikut, Mak!”

“Ngapain? Sudah di rumah saja, main sama Bang Deri atau sama Maya.”

“Enggak mau. Bosan main di rumah terus...”

“Ya sudah, terserah!”

Bagi anak kecil seusia Wilda, diajak bekerja mencuci baju oleh ibunya bukanlah sebuah bentuk perbudakan anak di bawah umur, melainkan sebuah wahana taman bermain air yang gratis dan legal.

“Wilda! Timba air di drum itu!” seru Ruswina sembari menyikat kerah kemeja tetangga dengan tempo konstan. “Daripada kau mainan tanah itu, jorok!”

“Iya, Mak!”

Dengan semangat yang membumbung tinggi, Ia menyeret bangku kayu kecil, memanjat dengan susah payah, lalu memasukkan gayung ke dalam drum. Gayung itu lebih besar daripada lengannya. Air tumpah ke mana-mana. Bajunya ikut basah. Namun wajahnya justru tertawa.

“Ditampung di mana, Mak?”

“Itu ember warna hitam yang besar! Isi penuh, habis itu bilas cuciannya ya!”

“Siap, Mak!” Jadilah Wilda partner taktis Ruswina. Tangannya kecil. Tenaganya pas-pasan. Tetapi semangatnya mampu mengalahkan orang dewasa.

Di hari-hari lain, bahkan sebelum menyeberang ke gang-gang langganan cuci, Ruswina sudah harus menempuh jarak 15 kilometer berjalan kaki bolak-balik ke pasar subuh demi membeli bahan makanan murah. Tak ada sepeda, tak ada becak langganan, dan tak ada kendaraan. Hanya sepasang kaki yang sudah berkali-kali lecet namun tak pernah berhenti melangkah. Peluh membasahi dahinya yang beralur keras. Sampai di rumah, ia menghela napas panjang—mengeluarkan sisa-sisa kelelahan dari paru-parunya.

“Rani!” panggil Ruswina.

Rani menyembul dari balik kelambu kamar.

“Saras mana? Kok belum disapu rumahnya?”

“Lagi di kamar mandi, Mak.”

“Sini bantuin Mamak masak. Bersihkan ikan ini.”

Tanpa banyak cengkerama, Rani meraih plastik berisi tiga jenis ikan: selayang, mujair, dan tongkol. Dengan jemari mulusnya, ia membersihkan perut ikan, memisahkan insang dengan presisi seorang dokter bedah, lalu mengikis sisik-sisiknya hingga tak tersisa.

Di dapur sempit itu, suara pisau, cobek, kayu bakar, dan percakapan bercampur menjadi irama yang setiap hari terdengar sama. Namun justru dari dapur sederhana itulah lahir rasa kenyang yang membuat lima anak bisa berangkat sekolah dengan perut terisi.

Ruswina memegang teguh ajaran klasik bahwa anak perempuan tanpa keterampilan dapur adalah sebuah bencana sosial.

Setiap kali memasak, ia selalu berkata, "Dengar ya kalian..."

Anak-anak perempuannya spontan menoleh.

"Besok kalian nikah." Rani langsung tersenyum malu. Saras pura-pura sibuk mengupas bawang. Wilda malah tertawa.

"Malu pula dia..." ejek Wilda kepada kakaknya.

Lihat selengkapnya