Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #5

Rezeki Datang Berpasangan

Tahun 1995 adalah sebuah kurun waktu ketika keberkahan datang tanpa ketukan pintu, melompati pagar bambu, lalu merobek atap seng rumah kayu milik Muslim. Rumah kayu mereka masih berdiri seperti biasa di ujung kampung—berlantai papan yang sesekali berderit jika diinjak, berdinding tepas yang mulai dimakan usia, dan beratap seng yang bila hujan turun akan berbunyi seperti ribuan anak kecil sedang menabuh kaleng susu. Rumah itu tak pernah besar, tetapi selalu berhasil memuat tawa yang jumlahnya lebih banyak daripada luas ruang tamunya.

Kalau malam tiba, mereka tidur berhimpitan seperti ikan pindang di dalam keranjang bambu. Tak ada yang mengeluh. Orang miskin memang tak punya banyak pilihan selain belajar mencintai kesempitan.

Bagi keluarga Muslim, angka tujuh sejatinya sudah cukup untuk membuat dapur mengepul setengah megap-megap. Lima anak yang berderet bak tiang jemuran adalah saksi bisu betapa elastisnya takdir mereka. Namun, Tuhan rupanya sedang humoris. Ia tidak hanya membagikan rezeki dalam bentuk uang receh, melainkan dalam wujud dua nyawa sekaligus—seseorang tidak akan pernah menduga bahwa kemurahan hati Sang Pencipta bisa begitu melimpah hingga terasa seperti kejutan yang teramat ramah.

Malam itu langit kampung gelap tanpa bulan. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun kelapa yang saling berbisik. Kamar belakang hanya diterangi lampu teplok yang berkedip-kedip pasrah, melukis bayangan seperti wayang kulit di dinding papan.

Mbah Sastro, dukun beranak langganan kampung yang karismanya melebihi komandan militer daerah, berdiri siap di samping dipan.  Ia sudah menolong hampir separuh anak di kampung itu lahir ke dunia. Rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput, tetapi tangannya masih setegas akar pohon beringin.

Ruswina mengerang, jemarinya mencengkeram erat pinggiran kayu. Perutnya malam itu membuncit dahsyat bagaikan semangka raksasa hasil rekayasa genetika. Namun, dasar rakyat jelata yang tak pernah berkenalan dengan teknologi bernama mesin USG, mereka dengan lugunya mengira benjolan kolosal itu hanyalah akumulasi dari terlalu banyak mengonsumsi ubi rebus.

"Oweekk! Oweekk!"

Satu bayi merah yang mungil meluncur. Muslim menyapu dada, mengembuskan napas lega yang panjang. Namun, tepat ketika Mbah Sastro hendak memotong tali pusat dengan bilah bambu tajam, sang dukun terperanjat. Matanya membelalak lebar, seolah baru saja melihat hantu yang membawa surat tagihan utang.

"Loh, loh! Sik, sik! Iki kok ada kepalanya satu lagi di dalam?!" pekik Mbah Sastro panik, suaranya naik dua oktav.

Muslim melongo. "Ha?"

Ruswina bahkan tak sempat bertanya apa-apa karena gelombang sakit berikutnya datang seperti ombak pasang. Ruswina menjerit lagi, dan lima menit kemudian: "Oweekk! Oweekk!"

Mbah Sastro sendiri sampai tertawa tak percaya. "Masyaallah... kembar toh!"

Dua bayi perempuan terlentang berjejer di atas kain jarik yang kusam. Rumah kayu itu seketika geger, seakan-akan ada dentuman meriam keliling kampung.

Sementara itu di luar kamar, lima budak kecil milik Muslim—Rani, Saras, Maya, Wilda, dan Deri—telah menempelkan telinga mereka rapat-rapat di pintu kayu yang berlubang-lubang. Mereka bertengger berjejer persis seperti koloni cecak yang sedang mengincar nyamuk malam.

"Mbak Rani! Katanya adiknya dua! Dua, Mbak!" bisik Deri dengan mata membelalak antusias.

"Masa sih? Mana bisa bayi keluar berdua kayak balapan karung?" sahut Wilda dengan skeptisisme khas anak sembilan tahun yang tak gampang dibodohi.

Saras yang tidak sabaran merapatkan matanya ke celah papan. "Udah lahir belum?"

"Belum," jawab Rani singkat.

"Lah sekarang?"

"Belum juga, Saras! Sabar!"

Ketika pintu kamar akhirnya berkerepot terbuka dan kedua bayi merah itu dibaringkan di atas kasur lipat, kelima anak itu langsung mengerumuni dipan seperti lalat yang menemukan stoples gula tak bertutup.

Deri, anak laki-laki Muslim yang tingkat kepolosannya kerap menembus ambang batas kemanusiaan, mendekatkan wajahnya. Ia mengamati wujud adik barunya yang masih keriput, merah, dan mungil.

“Ih... Mbak Rani... kok adiknya kayak monyet kecil ya?” celetuk Deri tanpa dosa.

Tawa pecah seketika menembus atap seng rumah mereka. Bahkan Ruswina yang terkulai lelah dengan pelipis berpeluh ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Rani, si anak sulung yang merasa mengemban harkat dan martabat seluruh silsilah keluarga, langsung menjewer telinga Deri gemas.

“Hush! Ngawur kamu! Jangan gitu! Kalau adikmu kayak monyet, berarti kamu juga monyet, Bapak juga monyet, kita semua monyet!”

Lihat selengkapnya