Tahun 1999 mampir ke Indonesia bukan sebagai angka di kalender, melainkan seperti angin puting beliung yang merobohkan dapur rakyat jelata. Ia datang sebagai tamu yang membawa karung-karung kesusahan. Presiden di TV sibuk berpidato tentang kurs dolar dan inflasi, sementara di balik dinding papan rumahnya, Muslim—seorang penjaga gudang material kapal dan penjaga malam SPBU —harus mendapati kenyataan pahit: tempatnya mencari nafkah gulung tikar. Pabrik tutup. Pintu besi digembok. Para pekerja dipulangkan bersama secarik surat yang isinya lebih dingin daripada hujan bulan Januari. Negara sedang krisis moneter, dan keluarga Muslim sedang krisis segalanya.
Orang-orang kampung tidak pernah benar-benar mengerti apa itu krisis moneter. Mereka tak paham soal nilai tukar rupiah yang terjun bebas, tak pernah membaca berita tentang bursa saham, apalagi mengenal istilah inflasi. Yang mereka tahu hanya satu: harga beras naik sebelum ayam sempat bertelur, minyak goreng berubah seperti barang mewah, dan uang seratus ribu terasa lebih ringan daripada selembar daun pisang.
Muslim duduk lama di teras rumah malam itu. Tangannya menggenggam surat PHK, sementara matanya kosong menatap jalan tanah yang mulai retak diterpa kemarau.
Warung Mak Senah yang biasanya ramai mendadak lebih sering dipenuhi orang-orang yang hanya bertanya harga.
"Berapa sekarang gula sekilo, Mak?"
"Dua belas ribu."
"Astaghfirullah... Minggu lalu masih delapan."
"Kalau kau terkejut hari ini, besok jangan datang. Bisa pingsan."
Mereka tertawa kecil. Tawa yang dipinjam sebentar untuk menutupi rasa takut.
Di tengah riuhnya demonstrasi dan jeritan rakyat soal harga beras yang meroket, perut Ruswina malah melilit hebat. Seakan Tuhan sedang menguji rumah kecil itu dengan dua rasa sakit sekaligus. Anak kedelapan menuntut jalan lahir. Celakanya, persalinan kali ini bukan sekadar urusan bidan kampung dan sabetan daun sirih.
Selama hidupnya, Ruswina sudah tujuh kali melahirkan. Ia hafal bagaimana rasa mulas datang bergelombang, bagaimana napas harus diatur, bagaimana menggigit bibir agar anak-anak di ruang depan tidak ikut panik. Namun kali ini berbeda. Sakit itu bukan lagi seperti ombak. Ia seperti kapal karam. Wajah Ruswina pucat bagai kain yang terlalu lama dijemur. Tubuhnya menggigil. Napasnya memburu.
"Bawa ke rumah sakit!" seru bidan kampung dengan wajah berubah tegang. Kalimat itu membuat jantung Muslim seperti jatuh ke lantai.
Rumah sakit. Dua kata yang bagi keluarga miskin sering terdengar lebih menakutkan daripada penyakitnya sendiri. Ruswina mengalami pendarahan hebat yang oleh dokter dipanggil bleeding—sebuah istilah keren yang sukses membuat jantung Muslim makin berdegup kencang karena membayangkan tagihan, obat, dan operasi. Semua angka itu seperti sedang berlomba mengejar isi dompetnya yang bahkan sudah kehabisan napas.
Muslim mondar-mandir di lorong rumah sakit. Setiap kali pintu ruang operasi terbuka, ia berdiri. Setiap kali pintu itu menutup kembali, harapannya ikut tertutup.
“Gimanalah aku ini, Kak...” bisik Muslim pada seorang kakaknya yang nomor dua, suaranya parau, matanya sembab. “Aku baru di-PHK. Uang di kantong jangankan buat bayar operasi, buat beli nasi bungkus saja sudah kempis.”
Kerabatnya menepuk bahu Muslim, menatap iba. “Sudah, tak usah kau pusingkan dulu soal uang itu. Biar kutanggung biayanya. Nanti bisa kau kembalikan, nyicil kalau ada rezeki. Asal istri dan anakmu selamat dulu.”
Airmata Muslim menetes, melintasi pipinya yang kasar. Ketangguhan seorang laki-laki yang biasa dipamerkan di depan anak-anaknya runtuh seketika di lorong dingin itu.
Maka lahirlah si bungsu, Almira Utami. Kelahiran bayi merah itu langsung membakar habis pameo tua yang selama ini diagungkan Muslim: “Banyak anak, banyak rezeki.” Saat dokter menyarankan agar saluran reproduksi Ruswina ditutup saja—meski secara medis masih sanggup menampung lima anak lagi—Muslim langsung mengangguk paling cepat. Pabrik anak resmi ditutup. Delapan anak sudah cukup untuk membuat kepala Muslim hampir pecah di tengah ekonomi yang mencekik.
Pak Imin, mertua Muslim yang biasanya bertengger kaku seperti patung kayu dengan paham kolotnya, ikut prihatin. Ia mendatangi Muslim sambil membusungkan dada, mencoba menabur sedikit pengharapan.
“Jangan kau takut, Muslim! Jangan menyerah,” tegurnya tegas. “Anak itu lahir sudah membawa rezekinya masing-masing. Cari lagi kerjaan, walau susah, pasti ada jalan.”