Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #7

Kutukan Tiga Angka Nol

Bulan Januari di tahun 2000 bertiup seperti bisikan piutang yang tak kunjung terbayar—dingin dan menusuk hingga ke sumsum tulang. Di belahan bumi lain, orang-orang kaya memotong tumpeng dan menyalakan kembang api seharga satu ton beras untuk merayakan tiga angka nol di belakang tahun baru. Mereka bilang itu simbol era modern.

Orang-orang di kota sibuk membicarakan pergantian milenium. Di televisi, gedung-gedung tinggi diselimuti pesta kembang api. Orang bersorak ketika angka 1999 berubah menjadi 2000, seolah tiga angka nol di belakang tahun adalah pintu menuju kehidupan yang lebih baik. Dunia merayakan harapan.

Namun, bagi keluarga Muslim dan Ruswina yang berlindung di balik dinding kayu berkerak, pergantian milenium tak ubahnya bagai mengganti kalender murah dari toko kelontong. Tiga angka nol itu sama sekali tidak menambah jumlah angka di dalam dompet. Mereka tetaplah kasta jelata yang bertengger manis di garis paling bawah piramida ekonomi.

Ruswina setiap pagi, duduk di bangku bambu, ikut menyeruput kopi pahit seperti sebagian orang-orang yang tak pernah sempat bermimpi. Rumah keluarga kecil Muslim masih berdiri dengan dinding kayu yang mulai keropos. Jika angin bertiup agak kencang, papan-papan itu berbunyi seperti orang tua yang sedang mengeluh pegal.

Krisis moneter masih mencengkeram leher dengan jemari kurusnya yang dingin. Ruswina, wanita dengan ketabahan sekeras kayu jati tua, masih bergelut dengan tumpukan pakaian kotor tetangga. Kedua tangannya tak pernah benar-benar kering. Kulitnya kasar oleh sabun colek dan air sungai. Kadang-kadang telapak tangannya pecah sampai mengeluarkan darah, tetapi besoknya tetap ia celupkan lagi ke dalam ember. Punggungnya kerap merasa pegal, dadanya berulang kali dikeluhkan sakit, atau badannya yang seakan mau patah seperti habis dikeroyok orang satu kampung.

Sementara Sang Kepala Keluarga, berkelana di luar kota—sebuah ironi dari istilah 'merantau' yang lebih sering berarti 'melarikan diri dari tagihan warung'. Entah sedang memanggul semen, mengangkat besi, atau hanya duduk menunggu keajaiban di negeri orang. Yang jelas, sudah tiga bulan ia tak memberi kabar.

Saras—anak nomor dua sudah mulai memakai seragam putih-abu-abu. Masuk SMA berarti malapetaka finansial baru: baju seragam yang wangi pabrik, buku-buku tebal, dan yang paling mengerikan dari segalanya: ongkos angkot. Sementara itu, Almira, si bungsu yang baru berumur satu tahun, mulai belajar merambat di dinding papan, tanpa pernah tahu rupa bapaknya sendiri. Sudah tiga bulan Bapak hilang kontak.

Ruswina memandang anak bungsunya itu dengan senyum getir. Muslim bahkan belum sempat melihat putri kecilnya berdiri. Yang ia lihat terakhir hanyalah bayi merah yang lebih banyak tidur daripada menangis. Kini anak itu mulai berjalan, sementara ayahnya hilang ditelan kota. Malam-malam Ruswina semakin panjang. Ia sering duduk di anak tangga rumah memandang jalan tanah yang gelap. Setiap suara motor membuat jantungnya berdebar. Setiap kali ternyata hanya tetangga lewat, harapan itu kembali patah. "Bang... kau di mana?" gumamnya pelan. Tidak ada jawaban selain suara jangkrik.

Uang di rumah mereka mengenal sifat pemalu. Datangnya sebentar, lalu buru-buru pergi. Gaji bulanan yang biasanya menetes seperti air kran yang rusak, kini mampet total. Emak mulai gemetar. Otaknya berputar bak kipas angin tua yang berdecit, mencari cara agar kuali di dapur tetap mengepul. Pada akhirnya, seperti seseorang yang dipaksa memilih tangan mana yang harus dipotong, pada suatu malam yang pekat oleh aroma minyak tanah, keputusan pahit itu diambil kembali. Ruswina memanggil Saras.

"Kamu tahu kan, Ras, keadaan kita sekarang sedang berada di titik nadir?" kata Mamak. Bahasa Mamak kalau sedang nelangsa suka naik kelas menjadi sangat puitis.

"Iya, Mak," jawab Saras pendek. Wajah gadis itu masih polos, tetapi matanya sudah belajar membaca kesedihan.

"Bapakmu sudah tiga bulan tak kirim uang." Saras mengangguk pelan. Ruangan kembali sunyi. Ruswina menunduk lama.

Kalimat berikutnya terasa lebih berat daripada ember pakaian basah yang biasa ia angkat. "Kau sekolah jauh sekarang...."

"Iya."

"Perlu ongkos tiap hari...."

Saras mulai memahami arah pembicaraan itu. Ruswina menggenggam tangan anaknya.

"Ka... kau tinggal di rumah Buk Leni dulu, ya."

Saras menatap ibunya.

"Di sana kau bantu tante jualan. Nanti kau dapat uang buat ongkos sekolah."

Bibir gadis itu bergetar. "Jadi... Saras juga pergi dari rumah kayak Kak Rani?"

Ruswina menunduk. Air matanya jatuh lebih dulu. "Mamak tak punya pilihan."

Saras memeluk ibunya. Tak ada tangisan keras. Hanya dua perempuan yang saling memeluk, sama-sama berusaha menjadi kuat agar yang lain tidak semakin rapuh.

"Mamak jangan sedih."

"Maafkan mamak...."

"Tidak apa-apa."

"Tidak ada ibu yang ingin anak gadisnya pergi."

"Saras tahu mak."

Saras akhirnya pasrah. Di rumah kecil mereka, kepergian anak-anak demi menyambung hidup adalah tradisi yang dirayakan tanpa kembang api, melainkan dengan derai air mata yang disembunyikan di balik piring seng.

Dengan berpergiannya Saras, rumah mereka resmi kekurangan personel. Dari delapan nyawa, tiga hilang di rantau orang: Bapak melayang tak tentu rimbanya, Rani menjadi penjaga setia Nenek yang sakit-sakitan di rumah Uwak, dan Saras menjadi kuli di rumah Bibi.

Sisa benteng pertahanan kini dibebankan pada Wilda dan Maya. Wilda, gadis berkulit gelap dengan perangai menyerupai preman pasar induk, memegang komando atas urusan cuci-mencuci piring dan baju. Maya, yang lemah lembut, bertugas membersihkan rumah dan mengasuh si bungsu Almira. Almira ini punya tabiat menempel pada Ruswina bak perangko pos kelas satu. Sedikit saja Mamaknya bergerak menuju pintu keluar untuk mencuci baju tetangga, Almira akan menjerit seolah-olah dunia sedang kiamat. Alhasil, Rus harus mempraktikkan ilmu ninja: berjalan berjingkat tanpa suara demi bisa pergi mencari nafkah.

Sementara itu, si kembar—Andira dan Indira—adalah dua mahluk ajaib berumur lima tahun yang memiliki tingkat imajinasi di luar nalar manusia normal. Karena Emak tak pernah memberi uang jajan sejak Bapak merantau, si kembar menciptakan permainan mereka sendiri. Mereka memasak daun singkong menjadi "mi goreng.". Daun kering menjadi kerupuk. Bunga sepatu menjadi sambal. Tanah liat menjadi nasi. Kalau masakan mereka dimakan sungguhan, mungkin seluruh kampung langsung masuk puskesmas.

"Mak...."

"Apa lagi?"

"Belikan kami boneka, ya." protes Andira suatu sore, saat Emak sedang menyisir rambut mereka dengan sisir plastik yang giginya sudah ompong separuh.

"Iya Mak," timpal Indira. "Melisa punya banyak."

Ruswina tertawa kecil. "Bapaknya Melisa kerja kantoran."

"Lah bapak kami kerja juga."

Lihat selengkapnya