Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #8

Harta Karun Lungsuran

Almira baru berusia dua tahun, tetapi perawakannya sudah seperti seorang kapten pasukan infantri yang tak kenal takut. Di atas tanah liat dusun yang berdebu jika kemarau dan menjelma menjadi bubur cokelat jika hujan turun, langkah-langkah kecilnya tidak lagi sekadar merambat pada dinding bambu. Ia telah mampu berlari—sebuah ketangkasan gerak yang seolah dialokasikan khusus oleh alam untuk satu misi utama: mengejar anak-anak ayam milik Wak Lebai, tetangga sebelah rumah yang terkenal pelit dan berdarah tinggi.

Jika Almira mulai melancarkan aksinya, anak-anak ayam berbulu kuning itu akan bercicit ketakutan bagai kawanan pengungsi perang, sementara Wak Lebai akan berdiri di ambang pintu dapur dengan sarung melilit di dada, memegang centong kayu sembari merutuki nasibnya yang malang. Namun Almira tak peduli. Bagi budak kecil itu, dunia adalah sebuah arena permainan raksasa yang belum terjamah oleh hukum-hukum tata krama dewasa.

Kalimat yang keluar dari mulut kecilnya memang belum terakit menjadi sebuah struktur bahasa yang diganjar nilai seratus oleh guru Bahasa Indonesia. Kata-katanya masih berupa bongkahan bunyi, tumpukan konsonan yang belum rata, serta vokal yang tertukar-tukar. Dari sekian ratus bunyi ajaib yang bisa diproduksinya, ada dua kata yang menjadi mantra sakti paling bertuah: Bapak dan Mamak.

Dua kata itu ditembakkan ke udara dengan frekuensi yang sanggup mengalahkan kicauan burung ketilang di pagi hari. Jika matahari mulai condong ke barat, menandakan waktu bagi kaum pekerja kasar untuk meluruskan pinggang, ritual keagamaan kaum bersahaja pun dimulai: jalan-jalan sore.

Kendaraan yang digunakan dalam prosesi suci ini bukanlah sedan mewah ber-AC yang mengkilap, melainkan sebuah sepeda tua peninggalan Atok Imin. Sepeda itu adalah sebuah artefak sejarah buatan zaman pendudukan Belanda yang pantas masuk dalam deretan museum purbakala. Rantainya sering kendur dan mengeluarkan bunyi krik-krik-krik-blek-krik yang ritmis, menyerupai orkes dangdut kampungan. Rem depannya sudah lama pensiun dan digantikan oleh teknik pengereman darurat: memijak ban depan dengan sandal jepit buatan dalam negeri yang sudah menipis hingga setebal kertas karton.

Namun bagi Almira, duduk di atas boncengan besi sepeda tua yang diganjal busa bekas kasur itu rasanya tak ubahnya seperti duduk di kokpit pesawat ulang-alik yang hendak meluncur ke bulan. Tangannya yang mungil tak berhenti menunjuk ke segala penjara angin.

"Pak! Tu! Pak! Tu!" teriaknya penuh gairah setiap kali melihat seekor lembu sedang mengunyah rumput, atau saat melihat bapak-bapak pos ronda sedang main domino.

Momen paling mendebarkan dari perjalanan epik ini adalah ketika sepeda Atok Imin melintasi persimpangan jalan besar, tempat seorang penjual balon mangkal dengan sepeda jengki-nya. Di sana, berpuluh-puluh balon berwarna merah, hijau, kuning, dan biru bergoyang-goyang ditiup angin sore—seperti buah-buahan dari surga yang sengaja diturunkan ke bumi.

Seketika, mata Almira akan membesar. Manik matanya berbinar-binar memantulkan cahaya matahari senja, memancarkan daya sihir yang sanggup merobohkan benteng pertahanan paling kokoh di dunia: hati seorang bapak yang miskin.

Muslim, yang mengayuh sepeda dengan peluh membasahi kaos oblongnya yang bolong di bagian ketiak, akan serta-merta menghentikan kayuhannya. Ia akan merogoh saku celana kainnya yang dalam. Di sana, di antara lipatan resi pegadaian dan potongan kertas pangkas rambut, jari-jarinya yang kasar akan bergerilya mencari kepingan uang logam yang tersisa. Kendati ia tahu bahwa dengan membelikan balon karet seharga lima ratus rupiah itu artinya jatah rokok daunnya malam nanti harus dipangkas setengah, Muslim tidak pernah ragu. Melihat Almira tertawa membahana sembari memeluk balon merah berbentuk kelinci adalah satu-satunya momen di mana Muslim merasa dirinya adalah seorang raja paling kaya di jagat raya.

Sementara Almira sibuk dengan urusan eksplorasi balita, si kembar Andira dan Indira sedang bersiap menghadapi takdir baru: memasuki gerbang sekolah dasar.

Bagi keluarga yang berada di batas krisis ekonomi yang belum sembuh sepenuhnya seperti keluarga Muslim dan Ruswina, istilah "belanja peralatan sekolah" adalah sebuah frasa asing yang terdengar agak borjuis. Di rumah kami yang berdinding papan lapuk dan berbumbung seng yang selalu berisik jika hujan deras, tidak ada istilah membeli seragam baru setiap tahun ajaran tiba.

Ruswina, sang ibu, adalah seorang pengelola museum terselubung. Harta karun utamanya bukanlah perhiasan emas bernilai puluhan karat atau sertifikat tanah berhektar-hektar, melainkan sebuah lemari kayu dua pintu yang berbau kapur barus yang sangat menyengat. Di dalam lemari legendaris itulah Ruswina menyimpan selaksa pusaka keluarga: baju-baju lungsuran.

Sifat alami seorang ibu dari kaum semenjana seperti Ruswina dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan pakaian bekas anak-anaknya. Baju sekolah bekas milik Maya dan Wilda—kakak-kakak si kembar—disimpan dengan presisi tingkat tinggi. Baju-baju itu dilipat rapi, disetrika menggunakan setrika arang yang beratnya setara dengan bongkahan batu kali, lalu ditumpuk berdasarkan ukuran. Bagi Ruswina, pakaian anak yang masih bagus tidak boleh disia-siakan. Pakaian itu adalah bentuk investasi masa depan yang akan diteruskan ke anak selanjutnya, sebuah siklus daur ulang pakaian yang sanggup membuat para aktivis lingkungan hidup di Eropa bertepuk tangan bangga.

"Membeli baju baru itu hukumnya haram, kecuali kalau hilal Idulfitri sudah kelihatan di televisi," begitu doktrin tidak tertulis yang ditanamkan Ruswina kepada anak-anaknya. Itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Bahkan jika ada satu dua baju yang sudah menipis dan bolong dimakan usia, Ruswina tidak akan serta-merta membuangnya ke tempat sampah.

Dengan penuh kesabaran, ia akan duduk meliuk di depan mesin jahit engkol buatan Cina peninggalan ibunya. Mesin jahit tua itu akan berderit-derit riang—tak-tuk-tak-tuk-kreeek—saat jemari Ruswina yang gesit menempelkan perca kain warna senada di atas bagian yang bolong. Hasil tambalannya begitu rapi, hingga baju seragam itu kadang memiliki dua atau tiga lapisan sejarah yang berbeda.

Tak cuma baju dan celana sekolah yang mengalami hukum lungsuran ini. Kaus kaki yang kelonggarannya sudah seperti karet celana melar, sepatu hitam yang bagian sol depannya sudah megap-megap meminta lem, hingga tali pinggang dari bahan kulit imitasi yang mengelupas di sana-sini, semuanya adalah peninggalan generasi terdahulu.

Namun, ada satu masalah logistik yang sangat krusial menjelang hari pertama sekolah si kembar: tas sekolah.

Rupanya, persediaan tas di lemari pusaka Ruswina sedang mengalami krisis persediaan. Tas bekas milik Wilda dulu sudah tidak bisa diselamatkan lagi karena telah dieksekusi oleh kawanan rayap yang tidak berpendidikan. Tas itu compang-camping, menyisakan tali bahu dan bagian kancing yang berkarat. Praktis, hanya ada satu tas yang masih layak pakai dan siap tempur, yaitu tas peninggalan Maya yang bergambar kartun yang warnanya sudah memudar.

Akibat keterbatasan armada tas ini, Andira dan Indira harus menyepakati sebuah perjanjian diplomatik tingkat tinggi yang berlaku sejak hari pertama sekolah: sistem ganti shift harian. Senin untuk Andira, Selasa untuk Indira, begitu seterusnya. Jika salah satu dari mereka membawa tas, maka yang lain akan menggendong buku-buku pelajarannya menggunakan kantong plastik berkat dari acara kenduri, atau dipeluk erat-erat di dada seperti membawa dokumen rahasia negara.

Hari pertama sekolah tiba dengan atmosfer yang mirip dengan perayaan Idulfitri, namun dalam skala yang lebih riuh. Si kembar Andira dan Indira tidak pernah mau kehilangan momentum hari pertama sekolah sekecil apa pun. Bangun subuh adalah perkara mudah bagi mereka pada hari monumental ini.

Maya, sebagai kakak tertua yang memiliki jiwa keindahan tingkat tinggi, mengambil alih tugas sebagai penata gaya. Pagi-pagi sekali, di atas bangku kayu depan dapur, Maya mendandani kedua adik kembarnya. Rambut hitam tebal milik Andira dan Indira ditarik tegak lurus ke atas, lalu diikat kencang menggunakan karet gelang dan pita kain warna merah mencolok. Hasil karya estetika Maya ini membuat rambut si kembar menjuntai ke segala arah, persis seperti pucuk pohon kelapa yang dihantam angin puyuh. Bagi Maya, tidak peduli baju adiknya adalah baju lungsuran yang warnanya sudah agak kusam menjadi samar-samar, yang penting gaya rambut mereka harus sanggup menyita perhatian seluruh warga dusun.

Dengan gaya rambut pohon kelapa itu, Maya menggandeng kedua adiknya berjalan menuju sekolah dasar yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Sepanjang jalan, Maya bernyanyi riang, menutupi rasa canggung dan bangga yang bercampur aduk di dalam dada kedua adiknya.

Sementara itu, Ruswina dan Wilda tidak ikut mengantar. Pagi-pagi sekali mereka sudah berada di depan gerbang sekolah lain di kecamatan tetangga untuk berjualan kudapan. Sekolah yang dituju si kembar ini bukanlah sekolah biasa; ini adalah SD Negeri 005—sebuah bangunan berdinding papan kayu dengan atap seng yang sudah berkarat di sana-sini. Sekolah ini adalah kawah candradimuka tempat Maya dan Wilda menimba ilmu beberapa tahun sebelumnya. Bahkan, jika kita merunut garis sejarah lebih jauh ke belakang, Muslim—bapak mereka—juga merupakan alumni dari sekolah papan yang sama!

Lihat selengkapnya