Ibarat kata pepatah kuno: kemalangan tidak pernah datang sendirian, tetapi begitu pula dengan rezeki.
Saat Ruswina sedang memetik buah dari usaha kuenya, Muslim yang selama berbulan-bulan memegang gelar tidak resmi sebagai "Pengangguran Acara Bebas" tiba-tiba mendapatkan panggung untuk memamerkan bakat tersembunyinya yang paling agung: melukis.
Muslim sejatinya adalah seorang maestro seni rupa yang terjebak di dalam tubuh seorang buruh lepas yang tidak beruntung. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan di akademi seni rupa mana pun di Yogyakarta atau Paris, tetapi jemarinya memiliki keajaiban alami. Jika ia memegang kuas atau sebatang arang, ia sanggup memindahkan keindahan atau drama kehidupan ke atas permukaan apa saja—dinding kayu, kain sarung, hingga permukaan tembok yang retak-retak.
Momentum emas itu datang tatkala pemerintah kecamatan mengumumkan sebuah ajang gengsi tingkat tinggi: Kompetisi Menghias Kampung dalam Rangka Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Gang 10, tempat tinggal Muslim—sebuah kawasan permukiman padat yang sering luput dari peta pembangunan kota—dipastikan ikut serta dalam kompetisi bergengsi ini. Kepala Lorong dan Pak RT segera menggelar rapat darurat di pos ronda. Masalah utamanya adalah: mereka tidak punya modal besar untuk membeli hiasan lampu kelap-kelip seperti yang dilakukan oleh gang-gang borjuis di sebelah.
Satu-satunya aset terbesar yang dimiliki Gang 10 adalah otak dan jemari seni milik Muslim.
Maka, ditunjuklah Muslim secara acak namun penuh khidmat sebagai Ketua Pelaksana Kreatif Gang 10. Tidak tanggung-tanggung, kepala lingkungan (kepling) memberi anggaran yang lumayan besar dari kas gotong royong dan uang tambahan dari anggota DPRD yang kebetulan tinggal di gang 10 untuk membiayai proyek seni ini. Muslim juga dijanjikan imbalan jasa yang jumlahnya cukup untuk membeli motor atau membayar tunggakan listrik selama tiga bulan.
Seketika itu juga, jiwa seni Muslim yang selama bertahun-tahun tertidur lelap di bawah tumpukan penderitaan ekonomi, langsung membara bagai disiram bensin premium!
Tanpa berpikir dua kali, Muslim langsung menerima mandat suci itu dengan Semangat 45 yang meluap-luap. Ia segera merekrut armada kerjanya: Deri—anak laki-lakinya yang berbadan tegap—serta seorang tetangga sebelah rumah yang terkenal rajin namun agak lambat berpikir.
Selama seminggu penuh, Muslim tidak bisa tidur nyenyak. Di meja makan kayu rumahnya, di antara sisa-sisa adonan kue milik istrinya, Muslim membentangkan kertas-kertas bekas untuk menyusun sketsa dan konsep desain. Ia bertindak seperti seorang arsitek zaman Renaisans yang sedang merancang pembangunan Katedral Santo Petrus.
Hasil pemikiran jenius Muslim akhirnya menetas:
Untuk proyek tugu ini, Muslim tidak mau setengah-setengah. Ia mengalokasikan waktu selama tiga minggu penuh untuk memahat dan membentuk struktur tugu tersebut. Bagian bawah tugu terbuat dari susunan batu bata dan semen yang kokoh, sedangkan bagian atasnya dihiasi oleh dua struktur patung dari semen yang sangat rumit: sebuah patung Burung Garuda berskala besar yang sedang mencengkeram pita lambang negara, serta sebuah patung lengan berotot yang sedang mengepal erat sebatang bambu runcing nyata!
Siang dan malam, di bawah terik matahari yang menyengat atau gerimis yang turun di tengah malam, Muslim bekerja bagaikan orang kesurupan. Bajunya penuh dengan cipratan cat minyak dan adonan semen basah. Wajahnya yang tirus tampak semakin kusam, tetapi matanya memancarkan kebanggaan yang belum pernah disaksikan oleh anak-anaknya selama ini.
Bagi masyarakat di dusun mereka, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah sekadar tanggal merah di kalender atau acara seremoni kibar bendera yang membosankan. Kemerdekaan adalah sebuah karnival kolosal, tempat di mana penderitaan hidup sehari-hari dihentikan sementara dan digantikan oleh kebahagiaan massal yang tiada tara.
Selama seminggu penuh, tanah lapang di tengah dusun berubah menjadi arena pertempuran antarkampung. Berbagai jenis perlombaan digelar dengan skala yang sangat meriah, sponsor langsung oleh seorang anggota DPRD kabupaten yang baru saja terpilih dan sedang gencar-gencarnya menanam citra kebaikan.
Ada lomba panjat pinang yang batang pohonnya dilumuri oli bekas kendaraan berat hingga licinnya melebihi belut disiram minyak goreng. Ada lomba tarik tambang yang membuat urat-urat leher para pemuda putus-putus. Ada lomba makan kerupuk yang diikat tali rafi’a untuk anak-anak balita.
Namun, dari sekian banyak atraksi budaya yang disajikan, ada satu perlombaan yang menjadi puncak daya tarik massa dan sanggup menyedot perhatian ribuan warga dari lima RT di sekitarnya: Pertandingan Sepak Bola Bapak-Bapak Memakai Daster dan Memakai Gincu!
Aturan main pertandingan ini sangatlah tidak berkeadilan sosial. Para pria bertubuh kekar, berkumis tebal, dan berbulu dada lebat diwajibkan mengenakan daster longgar milik istri mereka masing-masing, lengkap dengan polesan gincu merah menyala di bibir dan bedak tabur yang tebal di wajah. Setiap kali musik dangdut dimainkan dari pengeras suara di pinggir lapangan, seluruh pemain—tidak peduli apakah bola sedang meluncur ke arah gawang atau tidak—diwajibkan berhenti berlari dan bergoyang dangdut secara serentak!
Suara gelak tawa warga membahana menembus awan, mengocok perut siapa saja yang menyaksikan momen saat bapak-bapak berkumis tebal bertabrakan di tengah lapangan sembari memegangi rok daster mereka yang tersingkap.
Keramaian luar biasa ini tentu saja ditangkap oleh radar bisnis kaum pedagang kaki lima. Ribuan orang yang berdesak-desakan di tanah lapang di bawah terik matahari musim kemarau adalah konsumen yang sangat haus dan lapar. Penjualan es lilin, es tebu, dan gorengan melonjak hingga berkali-kali lipat dari hari biasa.
Ruswina, dengan insting pedagang sejati yang tidak pernah mati, tidak mau kehilangan momentum emas ini. Ia memutuskan untuk meliburkan diri dari jualan di depan sekolah demi memindahkan panggung dagangannya ke pinggir tanah lapang festival.
Strategi bisnis Ruswina terbukti sangat brilian. Tampah-tampah kuenya, es buah dalam wadah baskom besarnya, serta tumpukan risol gorengnya habis terjual dalam waktu singkat. Keuntungan yang diraup Ruswina selama seminggu festival kemerdekaan itu bahkan melebihi pendapatannya selama dua bulan berjualan di depan sekolah!
Dan akhirnya, malam puncak perayaan pun tiba.
Di atas panggung kayu yang dihiasi lampu kelap-kelip dan kain warna merah-putih, panitia memanggil para pemenang kompetisi. Suasana mendadak hening tatkala Ketua Panitia membacakan amplop rahasia untuk kategori Desain Kemerdekaan dan Dekorasi Kampung Terbaik.