Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #10

Wejangan muslim

Tiga hal yang bisa membuat gempar sebuah kampung pesisir dalam semalam: pertama, angin puting beliung yang menerbangkan atap seng masjid; kedua, ditemukannya ayam jago berkaki empat milik Pak RT; dan ketiga, keluarga Muslim yang tiba-tiba hendak menggelar pesta pernikahan.

Bagi keluarga Muslim, merencanakan pernikahan anak pertama ibarat mengemudikan kapal kargo berbobot ribuan ton tanpa kompas, tanpa peta, dan nakhodanya sedang mengidap migrain akut. Mereka gamang. Mereka pikun mendadak akan seluk-beluk tata cara adat. Namun, Muslim—seorang pria kelas menengah ke bawah yang martabatnya setinggi tiang bendera kantor camat—punya satu prinsip kokoh: anak gadisnya cuma menikah sekali, maka gemuruh pesta harus terdengar sampai ke telinga para dewa di langit ke tujuh.

Gengsi kaum jelata memang ajaib. Ia tidak diukur dari tumpukan logam mulia, melainkan dari seberapa panjang tenda biru yang berhasil menutupi jalan gang dan seberapa nyaring dentum speaker rakitan milik Mak Cik Leha yang memutarkan lagu-lagu dangdut nostalgia hingga memicu guncangan tektonik skala kecil.

Sementara Muslim sibuk mengurus urusan panggung eksterior, di zona paling vital—yaitu dapur—kekuasaan dipegang penuh oleh Ruswina, istrinya.

Di kampung mereka, menyerahkan katering pernikahan kepada pihak ketiga adalah bentuk pengkhianatan terhadap leluhur. Tidak ada koki komersial yang bisa dipercaya! Semua juru masak sewaan dianggap memiliki agenda tersembunyi untuk menghemat penyedap rasa dan mencuri daging rendang. Ruswina meyakini bahwa hanya jemari tangannya sendirian yang dibaptis oleh takdir untuk menentukan kadar garam yang sah bagi lidah para tamu.

Namun, sebagai ibu dari mempelai wanita, Ruswina menghadapi dilema eksistensial. Ia harus tampil bak permaisuri kerajaan pesisir di pelaminan depan—memakai bedak tebal yang jika ia tersenyum sedikit saja berpotensi retak—sekaligus tidak boleh membiarkan kuali rendang berukuran seukuran ban truk di belakang terbakar.

Maka, dibentuklah kabinet Dapur Darurat. Ruswina mengangkat dirinya sendiri sebagai Executive Chef tanpa mahkota, sementara adik-adik perempuannya didapuk menjadi buruh kompor dan perajin bumbu.

"Mak Long! Garamnya mana?!" teriak Aisyah, adik Ruswina yang tubuhnya dipenuhi jelaga dari tungku kayu.

"Jangan asal tuang, Aisyah!" Ruswina melayang mendekat seperti hantu bergaun kebaya merah menyala. Dengan keanggunan seorang permaisuri dan kejelasan instruksi seorang kolonel militer, ia menyendok sedikit kuah kari yang sedang mendidih. Ia mencicipinya, memejamkan mata, meresapi harmoni antara kapulaga dan santan encer.

"Tambahkan ketumbar seujung kuku. Sedikit saja! Jika terlalu banyak, kari ini akan terasa seperti jamu godokan nenekmu!" tegas Ruswina, lalu kembali mengibaskan kipas lipatnya dan berjalan anggun menuju ruang tamu untuk menyapa tamu VIP, meninggalkan adik-adiknya yang menggerutu dalam kepulan asap kayu bakau.

Jika ada olahraga nasional yang paling digemari oleh kaum ibu-ibu di kampung, itu adalah olahraga Mencibir Tanpa Mengeluarkan Keringat.

Pernikahan Wilda—si anak gadis tomboi yang lebih mahir memanjat pohon jambu daripada merajut kain—menjadi bahan bakar sempurna bagi mesin gosip warga. Pagi hari di warung kopi Bang Man adalah gelanggang utamanya.

"Ajaib sekali keluarga Muslim itu," ujar Mak Piah sambil mencelupkan pisang goreng yang sudah dingin ke dalam cangkir kopinya. "Anak gadisnya si Wilda itu, yang kalau jalan mirip serdadu pulang perang itu, malah menikah duluan. Dua kakaknya, Saras dan Rani, dilangkahi! Mau jadi apa mereka? Perawan tua abadi?"

"Bukan cuma itu, Mak Piah," timpal Bik Sumi, matanya berbinar-binar memancarkan aura konspirasi. "Calon suaminya itu orang perbukitan. Dengar-dengar juragan sapi. Berhektar-hektar sawahnya! Apa tidak kena pelet si Muslim itu? Mana ada juragan kaya mau sama anak pekerja serabutan kayak Muslim?"

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang hidupnya dipenuhi perhitungan sisa uang belanja esok hari, keberuntungan tetangga sering kali dianggap sebagai sebuah kecurangan kosmis. Ada semacam norma tidak tertulis: jika aku susah, kau harus ikut prihatin; jika kau senang, aku harus curiga.

Namun, semua desas-desus, ancaman mitos pelangkahan, dan tatapan mata tetangga yang sejelas cangkir teh bening itu ditangkis oleh Muslim dengan satu perisai tebal: Ketidakpedulian yang Agung.

Suatu sore, saat Muslim sedang merapikan papan kayu di teras, Pak RT mendatanginya dengan wajah penuh simpati buatan.

"Muslim," bisik Pak RT pelan, seolah-olah sedang membocorkan rahasia negara. "Kau tidak takut Saras dan Rani ditimpa sial karena dilangkahi Wilda? Banyak orang bilang, kalau dilangkahi adik, jodoh bakal menjauh seperti ayam dikejar musang."

Muslim menghentikan gergajinya. Ia menyapu keringat di dahinya dengan kaus oblong yang sudah bolong di bagian ketiak. Ia menatap Pak RT dengan mata cokelatnya yang jujur dan teduh.

"Pak RT," kata Muslim datar, namun mengandung retorika kelas tinggi. "Tuhan tidak menggunakan sistem antrean tiket bus dalam membagikan jodoh. Kalau Wilda sudah bertemu takdirnya, untuk apa ditahan-tahan? Takut pada omongan tetangga itu tidak bikin perut kenyang. Tapi melihat anak gadis kita bahagia, itu bikin tidur paling nyenyak."

Pak RT bungkam. Ia tersenyum kaku lalu pamit pulang, gagal menemukan celah untuk mendramatisasi keadaan.

Keluarga Amar—si calon menantu—datang dari daerah perbukitan Medan. Mereka adalah jajaran elit perdesaan: juragan sapi dengan ratusan ekor ternak yang gemuk-gemuk dan pemilik sawah berhektar-hektar yang jika diukur dengan langkah kaki bisa membuat lutut terlepas.

Kedatangan rombongan keluarga Amar saat hari pernikahan membuat kampung mereka gempar seketika. Mobil-mobil mereka yang berkilat menyilaukan mata para tetangga yang biasa melihat sepeda ontel berkarat. Rombongan itu membawa seserahan yang banyaknya seperti barang sitaan bea cukai.

Sebagian tetangga bergidik iri, giginya mengerit ditelan kedengkian. Namun, di antara pekatnya asap iri hati, masih banyak tetangga yang tulus meneteskan air mata haru, mendoakan agar pernikahan si anak tomboi berjalan langgeng.

Setahun berlalu dengan cepat, ibarat air sungai yang surut di musim kemarau. Wilda melahirkan anak pertamanya. Seorang bayi laki-laki yang montok dan menggemaskan.

Lihat selengkapnya