Delapan Cawan

S_hayati
Chapter #11

Teorema Anak Delapan

Tahun 2020. Di sebuah sudut kampung yang dulu becek jika diguyur hujan gerimis sedikit saja. Di balik pagar besi tempa bercat putih yang berdiri kokoh itu, waktu seolah melambat dan berbisik pelan. Di atas kursi teras yang tenang, duduk dua veteran kehidupan—Muslim dan Ruswina—menikmati sisa-sisa senja yang kian merunduk. Wajah-wajah yang dulu sangar oleh kerasnya tempaan zaman kini telah dilintasi garis-garis keriput yang dalam, mirip ukiran peta perjuangan hidup yang tak pernah tuntas diceritakan. kerutan di wajah mereka adalah saksi bisu betapa badai kemiskinan yang dulu mengamuk saban hari kini telah berganti menjadi telaga kedamaian yang tak terukur harganya.

Lapis demi lapis dinding batu rumah minimalis itu mungkin terasa asing bagi orang luar, namun bagi pasangan tua ini, tiap jengkal tanahnya masih menyimpan gema langkah kaki delapan anak mereka saat kecil—lengkap dengan tangis, jeritan, dan bau keringat masa-masa sulit. Mereka tak lagi meratapi tulang-tulang yang mulai melorot dimakan usia atau ingatan yang perlahan kabur, sebab di dalam dada mereka yang tua, ada sebidang kebanggaan yang tak akan pernah runtuh.

Di dunia yang makin serba digdaya ini, ada dua jenis kenikmatan hakiki yang tidak bisa dibeli dengan saham blue chip maupun kepingan emas batangan: pertama, celupan roti biskuit kelapa ke dalam seruput teh hangat pekat yang kepulan asapnya mengepul manja di udara pagi; kedua, kesempatan duduk berdua di teras rumah tanpa ada tangisan anak yang minta dibelikan es lilin atau gedoran penagih utang keliling.

Muslim menatap pagar rumahnya yang kini telah bertransformasi total dari papan kayu lapuk berselimut rayap menjadi barisan besi tempa minimalis yang gagah. Di belakang pagar itu, berdiri rumah batu berdinding cat putih bersih. Desainnya semi-modern, mirip bentuk rumah-rumah di majalah arsitektur yang dulu hanya bisa dipandangi Muslim sambil mengelus dada di lapak koran bekas.

Bagi siapa saja yang melintas di depan rumah itu, bangunan batu tersebut mungkin hanyalah seonggok semen dan bata biasa. Namun bagi warga kampung, rumah itu adalah sebuah keajaiban kosmis. puluhan tahun yang lalu, anak-anak Muslim yang berjumlah delapan orang—sebuah angka yang lebih mirip daftar skuat tim sepak bola beserta pemain cadangannya—sepakat meluncurkan patungan raksasa. Mereka merombak total gubuk kayu masa kecil mereka yang nyaris roboh dihantam angin tenggara menjadi sebuah monumen kemenangan.

"Rumah ini tidak boleh dijual sampai kiamat tiba!" begitu ikrar tak tertulis dari anak-anak mereka. Biarlah bentuknya berubah dari gubuk reyot menjadi istana kecil, namun alamatnya tetaplah sama: tempat di mana kejujuran, bentakan, dan cinta kasih kelas pekerja ditempa.

Muslim menyesap tehnya dengan amat perlahan, menikmati tiap tetes cairan manis yang membasahi kerongkongannya yang mulai kisut. Ia meletakkan cangkir kaleng kesayangannya di atas meja kaca, lalu menghembuskan napas panjang—napas seorang pejuang veteran yang berhasil melintasi medan perang tanpa kehilangan satu pun anggotanya.

"Si kembar sama Mira kapan mau kemari, Mak?" tanya Muslim, suaranya serak-serak basah khas pria tua.

Ruswina, yang sedang menikmati roti regalnya dengan gaya mengunyah yang sangat anggun bak permaisuri istana pesisir, menoleh pelan. "Nanti sore sehabis pulang kerja, Bang."

Muslim mengangguk-angguk kecil, kepalanya bergoyang seperti mainan pajangan mobil. "Kau masak makanan kesukaan mereka, kan?"

"Tentu saja!" tembak Ruswina cepat, tak mau reputasi kedapurannya diragukan. "Aku sudah dari subuh memasak mie tiaw dan mie sop. Tapi ingat, bumbunya dan resep murni dari tanganku. Tidak bisa sembarangan!"

"Cuma mereka yang datang? Yang lain gimana?" tanya Muslim lagi, matanya menyipit menatap jalanan gang yang sepi.

"Maya dan anak-anaknya sudah pasti datang," Ruswina membetulkan letak selendangnya. "Saras tidak bisa datang, harus mengurus mertuanya yang lagi sakit di Belawan. Kalau Wilda, suaminya masih sibuk mengurus proyek di perbukitan, tidak ada yang mengantar dia kemari."

Muslim menghela napas, kali ini napasnya terasa agak berat namun sarat akan keikhlasan. "Yah, tidak apa-apa lah... yang penting mereka masih ingat jalan pulang."

"Tentu saja ingat, Bang," sahut Ruswina mantap. "Anak-anak itu boleh saja terbang ke langit ke tujuh, tapi tali layang-layangnya tetap terikat di tiang teras rumah ini."

Matahari mulai bergerak condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan di atas cat putih dinding rumah. Muslim menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Kita sudah setua ini, Mak... Dan anak-anak sudah menemukan jalan hidup mereka masing-masing. Tidak terasa waktu berlalu cepat sekali, ya?"

Ruswina tertawa kecil, tawa yang menyimpan memori derita masa lalu yang kini berubah menjadi humor sejarah. "Kalau anak-anak sudah besar memang pikirnya waktu cepat berlalu, Bang. Tapi dulu? Rasanya satu hari itu seperti seratus tahun! Aku sampai stres dan berdoa saban malam supaya mereka cepat-cepat jadi dewasa!"

Tawa Muslim meledak. Suara tawanya yang renyah memantul di dinding minimalis rumah mereka.

"Iya juga, sih! Tapi siapa sangka ya, Mak... Kita yang cuma orang kecil begini, berkecukupan pun tidak, justru bisa membesarkan delapan anak sampai semuanya 'jadi orang'."

"Itulah dia," ujar Ruswina dengan mata berbinar-binar. "Dulu orang-orang se-kampung meragukan kita. Mana mungkin si Muslim dan Ruswina bisa beri makan delapan mulut? Tapi lihat sekarang, anak-anak justru tumbuh berkembang lebih tinggi dari pohon kelapa di belakang rumah!"

"Termasuk bapakmu dulu, kan? Yang paling sengit meragukan kita!" goda Muslim sambil mengerlingkan matanya pada sang istri.

Ruswina menepuk lengan suaminya gemas. "Ah, Abang ini! Bapakku dulu kan cuma takut kalau kita tidak mampu, lalu anak-anak kita kelak terlantar dan makan batu."

Lihat selengkapnya