Suara gaduh bergema di lapangan berumput yang dipangkas pendek. Anak-anak dengan ringannya berlari kesana-kemari di lapangan yang luasnya dua hingga tiga kali lipat dari lapangan bola biasa. Angin sepoi-sepoi dan langit biru dengan awan-awan sirus membuat suasananya terasa hidup. Mereka bermain layangan, kejar-kejaran, atau sepak bola. Tiada hari tanpa keramaian, kecuali di pagi hingga menjelang siang, saat anak-anak dan para remaja masih berada di sekolah.
Duduk di bangku taman dekat sekolah, seorang remaja berusia enam belas tahun bernama Aldovic menatap ke arah anak-anak yang sedang mengikuti ekstrakurikuler futsal. Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak tadi. Seharusnya ia sudah pulang, tapi entah kenapa ia tidak memilih untuk pergi. Seolah ada sesuatu yang menahannya.
"Don, oper!" teriak salah seorang anggota klub futsal dengan rompi merah sambil berlari mendekati gawang.
Bola itu dioper melambung. Meskipun ruangnya terbatas, pemain yang meminta operan itu menerima bola dengan sangat baik. Pantulan bola dari tanah dihentikan mulus hanya dengan satu sentuhan kaki, padahal ia sedang dibayangi lawan.
"Wahh, enak banget ya, orang bisa berhentiin bola cuman satu sentuhan. Kalau aku sudah pasti bolanya nanti malah out. Lebih konyol lagi, bisa-bisa kena muka"
Aldovic tiba-tiba membenarkan posisi duduknya dan memasang wajah serius, "liat dia, dua orang telah mengepung ruangnya."
"Oper lagi ke belakang, Wili!" Seru rekan Wili.
Wili tidak mendengarkannya, bola yang sedang ia kuasai dengan sedikit pergerakan lincah, ia membuat bola itu terangkat ke atas dan membelakangi dua pemain yang sedang mengepung Wili. Di saat yang bersamaan—lawannya sedikit lengah sehingga bola tidak berhasil di heading. Wili langsung berlari melewati kedua pemain tersebut dengan mudah.
"Nice banget!" Puji Aldovic dari tempat ia duduk dengan suara pelan dan ekspresi kagum.
"Shooting!" Seru rekan-rekan satu tim Wili.
One by one antara kiper dan Wili. Kiper lawan berpikir bahwa menutup ruang tembak dengan cara langsung menghampiri bola yang datang adalah sesuatu yang efektif. Namun seharusnya ia berpikir dua kali.
"Sekarang, gak akan bisa masuk!" Kiper itu memasang senyuman miring.
Wili dengan ketenangan yang ada, bola yang bersiap untuk ditembak ke arah gawang, ia memilih untuk mendribblingnya ke arah kanan yang mana membuat kiper kesulitan untuk berubah arah dan menghentikan tembakkan bola.
"Gua halangin!" Ujar salah satu lawan sembari sprint ke arah Wili.
Namun Wili lebih cepat, bola itu ditembakkan ke arah gawang dengan keras sehingga gol tercipta. Pemain yang hendak menghalangi tembakkan Wili telah gagal total melindungi gawang.
"Itulah kalau ketemu pemain lincah bin cerdas. Pertahanan di belakang pasti bisa di acak-acak." Aldovic kemudian mengambil tasnya yang disandarkan di pilar dekat tempat ia duduk lalu beranjak pergi meninggalkan sekolahnya. "Pulang, ah. Lihat-lihatnya udah puas."
***
Aldovic menatap ke atas langit sembari berjalan dan kedua tangan memegang bagian belakang kepala, "Gak kerasa udah SMA aja. Kalaupun dihitung masih lama, tapi harus udah mikirin mau kemana." Aldovic menghembuskan nafas panjang.
Mata Aldovic yang keasyikan melihat ke arah atas, tidak melihat di depannya ada orang yang sedang menelpon. Tanpa sengaja ia menabrak orang tersebut.
"Aduh, maaf pak! Saya yang salah karena tidak lihat jalan." Ujar Aldovic.
"Kamu tinggal di daerah sini?" Tanya pria dewasa yang di tabrak oleh Aldovic sembari menatap tajam Aldovic dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Iya, pak. Kenapa, ya? Ada yang bisa saya bantu?" Aldovic menjawab dan bertanya dengan ragu. Wajah pria dewasa itu terlihat garang. Bukan karena ekspresinya, tapi karena alisnya yang tebal dan rambut-rambut kecil dari janggut yang sedang tumbuh juga tatapannya yang serius.
"Kamu suka main sepak bola?
"Saya? Kalau saya sih cuman kadang-kadang."
"Bisa kamu tunjukkan dimana lapangan di daerah sini?"
"Boleh, pak... Kebetulan rute saya pulang harus melewati lapangan."
Pria dewasa itu tidak menanggapi perkataan Aldovic, ia hanya mengangguk-angguk pelan saja Aldovic kemudian berjalan di depan pria dewasa itu.
"Dia ini orang luar negeri, kah? Muka sama kulitnya beda banget sama orang-orang sini atau bahkan orang Indonesia." Aldovic melirik ke arah pria dewasa yang mengikuti di belakangnya.
"Bule pindah sini? Apa kayak di cuplikan-cuplikan film yang kutonton di tiktok sama Instragram? "Artis atau seleb atau bahkan miliarder yang hanya ingin hidup tenang desa atau kampung?" Aldovic mengangguk-angguk sendiri hingga membuat pria dewasa di belakangnya bingung, tapi pria itu tidak memperdulikannya sama sekali.
"Masih lama?" Tanya pria dewasa itu kepada Aldovic.
"Gak lama lagi, pak. Sekitar satu menit lagi juga sampai asal ikuti terus jalan setepak ini." Jawab Aldovic.
Jalanan yang mereka berdua lewati sedikit berdebu karena jalan setapak itu masih tanah. Pepohonan di kiri dan kanan yang awalnya menghiasi jalan setapak itu telah habis. Kini jalan setapak itu di hiasi oleh sawah-sawah yang terawat dan terlihat seperti bersusun-susun.
"Lihat! Lapangannya sudah terlihat di depan sana." Aldovic menunjuk ke arah lapangan yang jaraknya sudah lagi tak jauh.
"Terimakasih, nak, karena sudah mau menunjukkan jalan."
"Sama-sama, pak. Saya permisi dulu!" Aldovic kemudian berlari meninggalkan pria dewasa itu sendirian di belakang.
Pria itu berdiri di pinggir lapangan, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma rumput kering dan tanah. Di depannya, ada hamparan sawah bertingkat membentang hijau, berpadu dengan langit sore yang mulai berwarna jingga. Lapangan yanga ada di hadapannya memang terlihat tidak rata—ada bagian yang sedikit bergelombang, rumput yang tumbuh pun tidak merata, dan beberapa batu kecil berserakan di sudut-sudutnya.