"Ayo, Nisa. Kita wudhu dulu," Maya cepet-cepet ralat, "Maksud kakak, ayo kita cuci muka dulu. Abis itu berdoa."
Di keluarga Katolik, subuh itu waktunya doa Angelus. Tapi udah 8 bulan ini, Angelus di rumah ini isinya cuma rintihan Ibu sama umpatan Gapoi. Rosario di dinding kamar Ibu udah berdebu, Salib di atas pintu mulai miring. Ayah masih setia baca Kitab Suci tiap malem di samping ranjang Ibu, tapi suaranya makin pelan, kayak udah nggak yakin Tuhan denger.
Maya nuntun Anisa ke kamar mandi. Tangannya gemeter. Bukan karena dingin. Karena di depan pager, dia liat bayangan 3 orang. Udah berdiri dari tadi.
"Pakai sepatunya yang bener, Nisa. Kakak ke depan sebentar," bisik Maya.
Dia keluar. Ozi pasti udah pergi. Yang ada sekarang Bang Jono sama 2 anak buahnya. Tato di lengan, rokok di mulut, muka kaku jam 04.30 subuh.
"Maya," Bang Jono buang ludah ke tanah. "Gue nggak mau lama. 3 juta. Utang adek lo semalem. Katanya buat nebus motor yang dia gadaikan. Eh malah dipake nyabu lagi sama temen-temennya."
Maya ngepalin tangan di balik pintu pager. 3 juta. Gaji dia sebulan di toko grosir cuma 1,8 juta. Uang dari Ozi tadi pagi paling 50 ribu, cuma cukup buat beli beras sekilo sama telor.
"Bang Jono, kasih Maya waktu 2 hari ya. Maya baru gajian tanggal 5," Maya maksa suaranya stabil. Aturan Gapoi: nggak boleh nangis. Aturan Maya buat diri sendiri: nggak boleh keliatan takut di depan rentenir.
Bang Jono ketawa. "Tanggal 5? Itu 6 hari lagi, Neng. Bandar nggak kenal tanggal. Anak buah gue udah nungguin dari jam 2 malem." Dia ngangguk ke belakang. "Kambing lo yang namanya Barokah itu, kan? Lumayan tuh buat ganti rugi sementaun."
Darah Maya naik ke kepala. Barokah. Satu-satunya yang Gapoi urus. Kalau Barokah dibawa, Gapoi bisa ngamuk dan ngancurin rumah. Bisa mukul Ayah. Bisa...
"Jangan kambingnya, Bang," potong Maya cepat. "Aku punya rosario Ibu. Dari perak asli. Peninggalan nenek. Itu mahal, Bang. Sumpah."