Delapan Tangan

Maya Ernesta Barus
Chapter #7

Lembang Berdarah


Senin, Pukul 05.00. *Hari ke-1/365*.


Mobil Ozi udah nunggu di depan pager. Bukan Pajero. Kijang Innova tua. “Biar nggak mencolok di panti rehab,” katanya semalem lewat WA. Ozi sendiri nggak ikut. “Gue kerja, May. Lo bisa kan? Gue udah bayar DP 5 juta. Susternya namanya Suster Maria. Galak, tapi bagus.”


Di dalem rumah, Gapoi jongkok di depan kandang Barokah. Umur 22, tapi sekarang kayak anak 5 tahun yang mau ditinggal emaknya sekolah. Dia nyuapin Barokah rumput, tangannya gemeter. Keringet dingin netes dari jidat padahal subuh-subuh.


"Kak, nggak jadi ya?" suaranya serak. Mata merah. Semalem nggak tidur. Sakau udah mulai nyakar-nyakar dari dalem.


Maya 28 tahun jongkok di sebelahnya. Di tangan ada tas kresek isi baju Gapoi: 3 kaos, 2 celana, sarung, Kitab Suci pemberian Ayah dulu. "Udah janji, Poi. Kemarin lo yang bilang mau."


"Tapiii..." Gapoi narik napas, dadanya naik turun cepet. "Badanku sakit, Kak. Tulang-tulangku kayak ditarikin. Panas dingin. Aku takut mati di sana."


Anisa 9 tahun nyelip di antara mereka. Di tangan rosario plastik biru. Dia ngalungin ke leher Gapoi. "Buat Abang. Biar Tuhan jagain. Anisa doain tiap malem ya, Bang."


Gapoi liat Anisa. Liat rosario murahan itu. Terus dia muntah. Beneran muntah. Kuning, cair, bau asam. Di depan Barokah.


Ayah dari pintu cuma bilang, "Udah, berangkat sana. Sebelum siang, jalannya macet."


Nggak ada pelukan. Nggak ada "hati-hati ya, Nak". Ayah udah kehabisan kata-kata sejak 8 bulan lalu.


Di mobil, 10 menit pertama aman. Gapoi diem, nepuk jidat ke kaca. Maya nyetir, tangan kaku di setir.


Menit ke-15, Tol Pasteur, Gapoi mulai.


"Kak... puter balik," bisiknya.


Maya diem. Gigi ngatup.


"KAK GUE BILANG PUTER BALIK!" Gapoi jambak rambutnya sendiri. Terus jambak jok mobil. "PANAS KAK! KULIT GUE PANAS! TULANG GUE REMUK!"


Mobil oleng dikit. Maya kaget. "Poi, tahan! Tinggal sejam lagi!"


"GUE MAU SABU! SEKARANG! GUE MATI KALO NGGAK ADA SABU!" Gapoi ngamuk, mukul dashboard sampe retak. Tangannya berdarah. Terus dia nyakar lengannya sendiri, kuku nancep ke kulit. "GATEL! ADA SEMUT DI KULIT GUE KAK! BANYAK!"


Halusinasi. _Withdrawal_ dimulai. Lebih cepet dari yang Maya kira.


Anisa kalo liat ini pasti trauma. Untung dia di rumah. Tapi suara Gapoi teriak-teriak itu... sama kayak suara Ibu tiap malem.


Maya nepi di bahu jalan. Bahaya. Dia buka pintu, muter ke pintu Gapoi, narik kerah adeknya.

Lihat selengkapnya