Senin, Pukul 14.20. *Hari ke-2/365*.
Maya nyampe rumah dengan badan kayak abis digiling truk. Dengkul lecet, telapak tangan sobek gara-gara niban Gapoi di lantai lobi, baju bau muntah + keringet + darah.
Dia cuma mau satu: tidur. Atau minimal rebahan 5 menit sebelum gantiin baju Ibu.
Tapi di depan pager, ada yang nunggu.
Tasya. 20 tahun. Pake hoodie kebesaran, celana pendek, sendal jepit. Rambutnya kusut, mata bengkak. Tangannya ngegemel sesuatu.
Maya ngerem motor Ozi — dipinjemin buat ke Lembang — di depan gang. Bukannya lega liat Gapoi udah masuk rehab, dia malah mual. Firasat anak perempuan 28 tahun itu jarang salah.
"Tas?" sapa Maya, turun dari motor. Capeknya tembus tulang.
Tasya nggak jawab. Dia cuma nyodorin tangannya. Di telapaknya ada _testpack_.
Dua garis. Merah. Jelas. Nggak ada blur-blurnya.
Dunia Maya yang baru aja dia tata 2 jam lalu, ambruk lagi.
"Kak..." suara Tasya serek. "Aku hamil. 2 bulan."
Maya nggak bisa napas. Dia megangin pager biar nggak jatuh. 365 hari. Kontrak Ozi. Rehab Gapoi. Ibu sakit. Utang. Sekarang... bayi?
"Lo yakin itu anaknya Gapoi?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Maya. Dingin. Kejam. Dia nyesel detik itu juga.
Muka Tasya langsung merah. "Kak! Aku emang nakal, tapi aku nggak murahan! Selama sama Bang Poi aku nggak sama siapa-siapa!"
"Terus kenapa baru ngomong sekarang?!" Maya setengah teriak. Emosinya campur aduk: cape, kaget, takut. "Gapoi baru aja masuk rehab 3 jam lalu, Tas! Dia lagi sakau, lagi dihajar _withdrawal_!"
"Ya makanya aku nungguin Kakak!" Tasya ikutan teriak. Air matanya netes. "Aku ke sana tadi pagi! Mau ngomong ke Bang Poi! Tapi katanya dia udah berangkat sama Kakak! Satpamnya bilang dia ke Lembang!"
Tasya sesenggukan. "Aku bingung, Kak. Aku takut. Nyokap gue kalo tau bisa bunuh gue. Bang Poi... Bang Poi kemarin-kemarin mukul gue, Kak. Dia bilang suruh gugurin aja kalau beneran hamil. Dia nggak mau punya anak dari cewek kayak gue."
Maya nutup muka. Ini dia. _Plot twist_ yang dia takutin. Gapoi 22 tahun, pecandu, temperamen, bakal jadi bapak. Maya 28 tahun, yang harusnya mikir nikah, sekarang harus mikir jadi tante + ngurus keponakan dari adeknya yang di rehab.
Dari dalem rumah, kedengeran suara. "Kak? Sama siapa di luar?"
Anisa.