*Hari ke-9/365. Panti Rehab Santa Monika, Kamar Nazareth.*
Jam dinding nunjukin angka 03.17. Tapi buat Gapoi, waktu nggak jalan. Dari hari pertama, jarum jam kayak dilem.
Badannya basah. Bukan keringet. Keringet udah kering hari ke-2. Ini air. Dia ngompol. Lagi. Umur 22, lulusan STM, pernah ngelawan 3 debt collector, sekarang pipis di kasur kayak bayi.
Kamarnya isinya 4 orang. Semua pecandu. Tapi Gapoi yang paling berisik. 6 hari pertama dia teriak, jambak rambut, jedotin kepala ke tembok. Tembok sampe penyok. Dahinya perban.
Suster Maria bilang: "Ini _detox_. Racun 3 tahun lo dimuntahin badan lo sendiri. Kalo lo lewat 2 minggu, lo manusia lagi."
Hari ini hari ke-7.
Semutnya udah nggak ada. Tapi ganti. Sekarang tulang. Tiap sendinya kayak dicabutin pake tang. Panas dinginnya masih. Mualnya masih. Yang baru: mimpi.
Tiap merem, dia mimpi. Mimpi nyabu. Mimpi ngisep, mimpi _fly_, mimpi ketawa sama temen-temen tongkrongannya. Bangunnya nangis. Karena sedotan itu nggak ada. Yang ada cuma kasur bau pesing sama selang infus di tangan.
Pintu kebuka. Suster Maria masuk. Bawa obat + Alkitab kecil.
"Udah minum?" tanyanya. Datar. 6 hari ini Gapoi lempar gelas obatnya ke tembok.
Gapoi nggak jawab. Dia cuma ngangkat tangan, gemeter, nunjuk ke gelas.
Suster Maria diem. Terus nyodorin. Gapoi minum. Pahit. Tapi ditelen. Pertama kalinya.
"Bagus," Suster Maria cuma bilang gitu. Terus naro Alkitab di meja. "Punya Kakak lo. Dia titip kemarin pas nganter baju."
Maya. Kakaknya. 28 tahun. Yang 6 hari lalu tiban dia di lobi.
Gapoi ngelirik Alkitab. Sampulnya kulit coklat. Ada nama tertulis di dalem: _Untuk Gapoi, dari Bapak. 17 tahun. Laki-laki harus deket sama Firman._ Kado ulang tahun pas dia lulus STM.
3 tahun dia nggak buka. 3 tahun dia pilih ngisep daripada baca.
Tangannya gatel. Bukan sakau. Gatel beneran. Dia garuk sampe berdarah. Terus dia nangis. Lagi. Udah nggak keitung ini nangis ke berapa. Air mata laki 22 tahun ternyata asinnya sama kayak air mata Anisa 9 tahun.
---
*Flashback. 3 Tahun Lalu. Gapoi 19 Tahun.*
Bengkel. Gapoi lulus STM, kerja jadi montir magang. Gaji 800 ribu sebulan.
Temennya, Ujang, nyodorin lintingan. "Coba, Poi. Cape ilang. Masalah ilang. Enak."
"Gue nggak mau, Jang. Bapak gue galak."
"Alah, Bapak lo nggak bakal tau. Nih, gratis. Sekali aja. Buat ngerasain jadi laki."