Delapan Tangan

Maya Ernesta Barus
Chapter #12

Pengakuan di Kamar Tengah


*Hari ke-21/365*. Minggu, Pukul 10.00 pagi.


Tiga minggu sejak Ibu pulang dari RS. Mukanya udah nggak pucat. Udah bisa duduk sendiri, nyisir rambut sendiri, nyuap bubur sendiri. Fisioterapi Ozi jalan 3x seminggu. Perawatnya bilang: "Kemajuan Ibu cepet, Bu Maya. Semangatnya balik."


Tapi Maya tau. Badan Ibu sembuh. Matanya belum.


Setiap malem, Ibu masih ngelindur. Bukan ngelindur jatuh lagi. Ngelindur lain: "Pak... maaf... aku cerewet... aku beban..."


Pagi ini, Ibu manggil Maya ke kamar.


"Nduk," suaranya udah jelas, nggak serak. "Tolong panggilkan Romo Anton."


Maya kaget. 8 bulan Ibu nggak mau denger kata "gereja". "Mau pengakuan dosa, Ma?"


Ibu ngangguk. Matanya natap Salib di dinding. Yang udah Maya lurusin lagi. "Ibu mau ngomong. Sama Tuhan. Sama Bapakmu. Sama kamu. Udah numpuk, Nduk. Sesek."


Maya ngelirik Ayah yang lagi nyapu di ruang tamu. Sejak Ibu pulang, Ayah diem-diem jadi rajin. Nyapu, ngepel, masak air. Nggak banyak ngomong, tapi nggak ngilang lagi.


"Pak," panggil Maya. "Ibu minta Romo dateng."


Sapu Ayah berhenti. Dia diem lama. Terus ngangguk. "Bapak yang telpon."


Jam 11.00, Romo Anton dateng. Umur 60-an, rambut putih semua, tapi jalannya masih tegap. Bawa minyak suci + komuni. Sama kayak 8 bulan lalu, pas Ibu baru jatuh. Bedanya, 8 bulan lalu muka Ibu mati. Sekarang matanya hidup.


Romo masuk kamar. Anisa sama Tasya disuruh nunggu di ruang tamu. Anisa genggam rosario, bibirnya komat-kamit doa. Tasya elus perutnya yang udah mulai nunduk dikit. Usia kandungan masuk 3 bulan.


Di kamar cuma ada Ibu di ranjang, Ayah duduk di kursi, Maya berdiri di pojok, sama Romo di samping Ibu.


"Antonia," sapa Romo pelan. "Apa kabar?"


Ibu senyum. Tipis. Tapi senyum. "Kabar baik, Romo. Tuhan kasih saya napas lagi."


"Tuhan nggak pernah ambil, Bu," jawab Romo. "Kita aja yang kadang lupa caranya narik napas."


Romo mulai ibadat singkat. Ayah sama Maya ikut jawab. _Dalam nama Bapa..._


Abis itu, Romo ngomong: "Biasanya pengakuan dosa pribadi, Bu. Bapak sama Maya mau keluar dulu?"


Ibu geleng. "Ngga usah, Romo. Biar mereka denger. Dosa saya ke mereka juga."


Ayah kaget. Maya juga. Romo ngangguk. "Baik. Tuhan mendengarkan."

Lihat selengkapnya