*Hari ke-120/365*. Minggu, Pukul 07.00.
Gereja Santa Perawan Maria udah rame. Parkiran penuh motor, anak-anak komuni pertama pada lari-lari pake gaun putih + jas mini. Emak-emaknya sibuk benerin kerudung, bapak-bapaknya keringetan pake kemeja lengan panjang.
Di rumah, lebih heboh.
Anisa 9 tahun muter-muter di ruang tamu. Gaun putih pinjaman dari gereja, kebesaran dikit di pinggang, udah dijahit Maya semalem. Kerudung pendek, mahkota bunga plastik, sepatu putih baru — Ozi yang beliin, dianter kurir 2 hari lalu.
"Kak, bagus nggak?" Anisa muter lagi. Ke-10 kalinya.
"Bagus, Nis. Kayak malaikat," Maya 28 tahun jongkok, benerin mahkotanya. Mata Maya sembab. Begadang. Bukan karena stres. Karena jahit gaun + bikin kue buat _syukuran_ kecil nanti.
Tasya 20 tahun, perut 6 bulan, duduk di kursi sambil kipasin Anisa pake buku. "Adik cantik banget. Nanti anak Tante juga mau cantik kayak gini ya."
Ibu udah berdiri di pintu kamar. Tanpa _walker_. 3 bulan fisioterapi, hari ini dia maksa mau jalan sendiri ke gereja. Ayah di samping, siap nangkep kalo oleng, tapi tangannya gemeter bangga.
"Anisa," panggil Ibu. Suaranya udah kuat. "Sini, Mama pasangin rosario."
Rosario yang sama. Plastik biru. Yang 120 hari lalu dikalungin ke Gapoi. Yang Gapoi pake 90 hari di rehab. Yang Anisa minta balik pas Gapoi pulang Hari ke-90.
"Ini jimat kita, Ma," kata Anisa.
Jam 07.30, klakson mobil.
Kijang putih Santa Monika. Suster Maria turun, kali ini senyumnya udah nggak kaku-kaku amat.
Dari pintu mobil, keluar Gapoi.
22 tahun. Kemeja putih lengan panjang, licin disetrika. Celana bahan hitam. Rambut sisir samping. Bersih. Wangi. Di tangan ada buku doa + lilin komuni.
120 hari di rehab. Berat badan naik 5 kilo. Mata jernih. Luka di dahi udah jadi bekas tipis.
"Assalamualaikum... eh, Berkah Dalem," sapa Gapoi salah. Grogi.
Satu rumah ketawa. Pecah tegangnya.
Gapoi nyamperin Ibu dulu. Salim. "Ma, Gapoi anter Anisa ya?"
Ibu ngangguk. Ngelus pipi Gapoi. "Ganteng anak Mama. Bapakmu kalah."
Ayah pura-pura ngambek. "Sembarangan. Bapakmu ganteng waktu muda."
Gapoi ketawa. Terus ke Tasya. Dia nggak meluk. Belum pantes katanya. Cuma nempelin tangan ke perut 6 bulan. "Sehat-sehat ya, Nak. Om Gapoi pulang bentar lagi. Nungguin kamu lahir."