*Hari ke-166/365*. RS Santa Maria, Lorong NICU.
Jadwal jaga udah ditempel Maya di tembok rumah:
_06.00-12.00: Ibu + Anisa abis sekolah_
_12.00-18.00: Maya_
_18.00-00.00: Tasya + Ayah_
_00.00-06.00: Ozi_
Iya. Ozi. Manajer bank 29 tahun itu ambil _shift_ malem. Tidur di kursi tunggu NICU, pake jaket, laptop di paha. Katanya: "Gue biasa begadang. Kalian butuh tidur."
*Hari ke-170/365. Gelang ke-5.*
Gapoi _video call_ tiap malem. Dari kapel Panti. Mukanya makin tirus, tapi matanya nggak sayu.
"Kak, ini gelang ke-5," dia nunjukin ke kamera. Tali sepatu warna biru, dianyam kepang. "Tali sepatu bekas punya Dodo, temen sekamar. Dia ikhlas. Katanya buat keponakan."
Di inkubator, bayi 1.7kg masih merem. Nama belum ada. Suster NICU manggilnya "Dek Kuat". Karena detak jantungnya 138-145. Stabil. Nakal.
Maya deketin HP ke kaca. "Nak, gelang ke-5. Biru. Bapakmu pinter."
Mesin _ting_ sekali. Kayak jawab.
*Hari ke-180/365. Gelang ke-15. Kritis ke-2.*
Bayi mendadak sesak. Alat bunyi _tiiiit_ panjang. Suster NICU lari-larian. Maya yang lagi jaga jatuh terduduk di lantai.
Dokter keluar 30 menit kemudian. "Infeksi paru. Prematur emang rawan. Kita tambah antibiotik. Doa ya, Bu."
Maya nelfon Gapoi. Nangis. "Poi... adek sesak..."
Di kapel, Gapoi nggak jedotin kepala. Dia cuma genggam rosario Anisa sampe buku jarinya putih. Terus dia buka Alkitab, baca Mazmur keras-keras. Se-kapel denger.
"Mazmur 23! Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku! Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya!"
Dia rekam, kirim ke Maya. "Puterin ke adek, Kak. Biar dia denger suara Bapak."
Maya puterin rekaman itu di depan inkubator 3 jam nonstop.
Besoknya, _tiiiit_ ilang. Detak balik 140. Dokter bilang: "Mukjizat kecil."
*Hari ke-195/365. Gelang ke-30. Duit Habis.*
Ozi panggil Maya ke parkiran. Nunjukin _m-banking_.