Delapan Tangan

Maya Ernesta Barus
Chapter #17

Lamaran di Bangsal Bayi


*Hari ke-206/365*. Rabu, Pukul 10.00. RS Santa Maria, Bangsal Perina.


Kamarnya kecil. Cuma muat 1 ranjang, 1 inkubator kosong, sama 8 orang yang desel-deselan. Nggak ada balon, nggak ada kue. Adanya: termos air panas, botol susu, tumpukan popok, sama 40 gelang tali di plastik.


Di tengah, Barokah. 2.3kg. Udah nggak pake selang. Udah dibedong. Matanya melek, bulet, nyari-nyari. Anisa 9 tahun duduk di kursi, pangku Barokah hati-hati kayak megang telur. Rosarionya dia kalungin ke leher Barokah. "Biar dijagain Tuhan, kayak Abang dulu."


Tasya 20 tahun di ranjang, masih pucat, tapi udah bisa duduk. Jahitan SC masih nyeri, tapi senyumnya nggak ilang dari semalem. 


Ibu udah berdiri tanpa _walker_, ngupas jeruk buat Tasya. Ayah di pojok, ngelipet kandi popok, mukanya nggak bisa berhenti senyum. 


Maya 28 tahun senderan di pintu, ngerekam pake HP. 


Gapoi 22 tahun berdiri di depan ranjang. Kemeja putih yang sama kayak pas komuni Anisa, tapi sekarang ada noda susu di pundak. Dia nggak peduli. Di tangan ada plastik isi 40 gelang + sertifikat rehab.


Kurang satu orang.


Pintu kebuka. Ozi 29 tahun masuk. Nggak pake jas. Cuma kaos polo + jeans. Bawa tas kresek item. Mukanya kurang tidur, brewokan. 40 hari begadang di NICU. 


"Maaf telat," katanya. "Ngurus administrasi bayi keluar."


Semua diem. Karena di tangan Ozi ada 2 kotak kecil. Kotak cincin. Bludru merah. Murahan.


Ozi naruh tas kresek di lantai. Isinya: susu formula, diapers, baju bayi. Terus dia tarik kursi, duduk di depan Gapoi + Tasya.


"Gue bukan mau ngelamar Maya hari ini," Ozi buka suara. Langsung. Semua kaget. Maya paling kaget. 


Ozi nengok ke Gapoi. "Poi."


Gapoi tegak. "Siap, Bang."


"210 hari lo bersih. 40 gelang lo bikin. 1 nyawa lo selamatin: anak lo sendiri. Kontrak lo sama gue? Lunas."


Gapoi nunduk. Matanya panas. 


"Tapi," lanjut Ozi, "ada kontrak baru. Kontrak sama Tuhan. Sama Tasya. Sama Barokah. Kontrak seumur hidup."


Ozi buka kotak cincin pertama. Isinya cincin perak. Polos. Nggak ada mata. Harga 200rb-an di toko pinggir jalan. 


"Ini buat lo, Poi. Gue beli di pasar semalem. Murah. Karena yang mahal bukan cincinnya." Ozi nyengir. Capek. "Yang mahal janji lo."


Gapoi nerima kotak itu. Tangannya gemeter. 

Lihat selengkapnya