DELTA TEAM

Keita Puspa
Chapter #9

9. Pindah Tugas

Tengah malam Xous terasa sunyi. Kecuali suara-suara rantis baja yang menggeram di kejauhan, planet itu sangat tenang. 

Aruna keluar kamar. Dia tidak bisa tidur lagi setelah memimpikan kakaknya yang mati tertimbun sampah di bumi. 

Kala itu Arya pergi seperti biasa sebelum matahari terbit. Para penyortir seperti Arya akan mulai memilah sampah daur ulang dan non-daur ulang. Pada akhir abad 21, manusia memiliki disiplin tinggi untuk memisahkan sampah organik dan non-organik—bahkan mereka memisahkannya lagi ke dalam kategori plastik, metal, dan kaca. Namun, seiring dengan perubahan iklim dan kerusakan alam yang semakin nyata, kesadaran itu pupus. Hanya segelintir orang yang masih memisahkan sampah. Sementara kebanyakan manusia tidak ingin ambil pusing. 

Maka pergantian abad, peradaban manusia mungkin semakin maju. Penyulingan air salah satunya. Manusia mampu menjernihkan air limbah. Bahkan yang tercemar logam berat. Mereka juga mulai mencari planet lain untuk di huni. Mars salah satunya. Namun hanya orang-orang super kaya yang hidup sejahtera di planet merah itu. 

Orang-orang biasa nan melarat tetap tinggal untuk membusuk di bumi. Arya salah satunya. Pemuda itu tengah memilah sampah yang menggunung ketika tanpa ada yang bisa meramalkan, gunung sampah itu longsor dan mengubur tubuh kurus Arya dan tiga rekannya. Mereka ditemukan terhimpit besi-besi tua bekas mesin pabrik yang sudah korosi. 

Mayat empat orang itu dibiarkan begitu saja mengurai bersama sampah organik lain. Tidak satu pun dari keempat orang itu yang keluarganya mampu membayar excavator dan alat berat lain untuk mengeluarkan mayatnya. 

Aruna tidak pernah melihat Arya lagi sejak hari itu—kecuali kakinya. Satu-satunya bagian tubuh Arya yang tidak tertimbun sampah. Kaki itu memiliki beberapa bekas luka bakar seperti milik Aruna. 

Pernah sekali Aruna datang menengok keadaan kaki Arya. Kaki itu sudah busuk dimakan belatung dan serangga. Membuat perut Aruna mual sejadinya sehingga terpaksa—dengan tangannya sendiri—Aruna menutup kaki Arya dengan selembar plastik dan menguburnya dengan sampah. 

Memimpikan hal itu lagi membuat Aruna tidak tenang. Rasa sedih kehilangan serta rasa bersalah karena tidak mengubur jasad Arya dengan layak menghantam dadanya lagi. 

Dengan sekaleng minuman susu, Aruna berdiri di teras depan kamar. Tangannya bersandar pada pagar dengan mata yang berkeliaran. Berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membuat hatinya damai sejenak. 

Suara derit pintu terdengar halus dari bawah. Aruna melongok dan mendapati seseorang tengah berjalan mengendap-endap di lantai dua. Penasaran, Aruna berjinjit menuju tangga. Bayangan itu terlihat mencurigakan. Selalu melirik sekitar sebelum melangkah. 

Aruna berjongkok begitu sosok itu memalingkan wajah ke arahnya. Sosok itu tidak asing. Itu Husain. Aruna menyipitkan mata untuk meyakinkan penglihatannya. Tidak salah lagi memang itu Husain Al Ghifari. 

Langkah Aruna terhenti. Ternyata bukan mata-mata atau penjahat. Hatinya sedikit lega meski kini pertanyaan-pertanyaan memenuhi pikirannya. Mau kemana Husain malam-malam begini? 

Aruna menggeleng pelan. Setiap orang punya urusan masing-masing. Dan sekarang, urusannya adalah mencari cara untuk bisa tidur kembali. 

Susu di kaleng telah habis. Aruna meremas kaleng dan melemparnya pelan ke tong sampah. Kemudian ia memasuki kamar dan menguncinya rapat-rapat. 


***


“Delta… seseorang telah melaporkan insiden tiga rantis hancur,” ucap Mesi Menez setelah timnya berkumpul di tengah ruangan membentuk lingkaran.

Seluruh anggota Delta melirik satu sama lain. Masing-masing tengah menyelidik adakah pengkhianat di antara mereka?

“Sebagai hukuman, misi kita diturunkan. Tim Delta bertugas menjaga perbatasan timur mulai besok.” Menez menatap anak buahnya satu-per satu. Kemudian pria jangkung itu berjalan keluar lingkaran. 

“Axellle, serahkan setengah persenjataan kita pada tim Alpha setelah ini.” Mesi berbalik dan menatap Axelle dengan dingin.

Lihat selengkapnya