DELTA TEAM

Keita Puspa
Chapter #10

Suara

Aruna tidak pernah membayangkan kalau Xous punya tempat seindah itu. Yang ada dalam benaknya hanyalah lautan pasir dan debu atau bebatuan keras berwarna putih dan kelabu. Tapi rupanya planet ini menyimpan keindahan yang tidak dituliskan dalam buku pedoman FPA dan tidak pernah diceritakan oleh siapa pun.

Tiga tenda besar sudah didirikan di tepi perbatasan yang ditandai dengan pagar kawat yang dialiri listrik ribuan volt. Seolah itu bisa mencegah avral masuk. Empat rantis yang mengirim mereka dan perlengkapan dua di antaranya sudah kembali ke markas.

Setelah lelah mendirikan tenda dan membereskan barang-barang, Aruna duduk di atas salah satu rantis. Dipandanginya bentangan alam Xous yang terlihat berkilau. Di depan sana adalah sebuah danau luas yang membentang. Ataukah itu lautan? Yang jelas sejauh mata memandang, air menggenang dan sesekali bergelombang. Airnya berwarna violet di kejauhan. Di tepinya, terlihat jelas benda-benda yang ada di dasar. Batuan alami yang berkilau berwarna-warni serupa kristal, rubi, safir dan zamrud. 

“Seperti akuarium raksasa tanpa ikan.”

Aruna menoleh, mendapati Axelle sudah berdiri di samping rantis. Wajahnya terlihat senang melihat pemandangan itu.

“Kau baru pertama ke sini?” tanya Aruna.

“Ya.” Axelle naik dan duduk di samping Aruna. “Belum pernah dihukum sebelumnya,” ujarnya seraya meletakkan senapan yang sedari tadi tersampir di bahu.

“Kayaknya ini bukan hukuman, deh,” gumam Aruna. Diliriknya Axelle yang cuma mengangguk kaku.

“Di bumi ada yang seperti ini.” Axelle memandangi air violet yang berkilau itu tanpa berkedip.

“Dimana?” Aruna menaikkan alis  sambil memandang Axelle tak percaya.

“Aku nanya, bukan memberitahu.” Axelle melirik Aruna.

“Oh.” Aruna memalingkan wajah. Malu. Dia kira nada Axelle tidak memakai tanda tanya.

“Kau tidak kangen bumi?” tanya Axelle. Kali ini nadanya jelas bertanya.

Aruna hanya menggeleng. Dia menekuk kedua kaki dan menyandarkan kepalanya di lutut.

“Keluargamu?”

“Kakak dan ibuku sudah mati. Tidak ada lagi yang bisa kutemui di sana,” jawab Aruna.

“Turut berduka,” ucap Axelle. “Jadi… kau tidak mau kembali ke bumi?”

“Entahlah….” Aruna  mendongak melihat kabut pink tipis di udara. “Rumahku tidak di sana lagi.”

“Di sini?”

Aruna mengangkat bahu. “Aku ke sini karena setidaknya aku tidak perlu bunuh diri di sini. Nanti juga mati.”

Axelle menatap Aruna, mencoba menebak seperti apa kehidupan bocah itu di bumi sehingga dia bisa berkata begitu. “Tapi kau takut avral.” Axelle tersenyum.

“Memang kenapa? Takut itu manusiawi.”

“Benar, tapi kau itu, kan, bocah yang mau mati.”

Lihat selengkapnya