Suara-suara menggelegar terus terdengar entah darimana. Dari jauh semua anggota Delta keluar dari tenda dan melihat sekeliling dengan bingung.
Zephyr melihat laptopnya untuk memeriksa radar tetapi tidak ada apa-apa di sana. Bahkan radar gempa pun tidak menunjukkan aktivitas apa pun meski memiliki radius 1000 km.
Mesi menghubungi markas pusat sambil matanya terus berjaga melihat sekeliling. Sialnya sinyal mendadak hilang. Radio tidak bisa digunakan.
“Apa yang harus kita lakukan, Komandan?” tanya Coelho setelah Mesi kembali dari tenda.
“Terus awasi sekeliling. Pergrakan sekecil apa pun laporkan segera!” teriak Mesi pada timnya.
Aruna dan Leo sampai dengan terengah. Keringat bercucuran dari pelipis dan leher.
“Suara apa itu?” tanya Leo pada Mesi.
“Kita belum mengetahui apa itu, Letnan.” Mesi melihat ke langit yang masih menyilaukan mata. Kacamata hitam melindungi kedua matanya dari sengatan Hls 2. Meski suhu menurun, intensitas cahaya masih sangat tajam. “Ketiga radar tidak menangkap pergerakan apa pun.”
Aruna mendekati Axelle yang tengah memperhatikan pegunungan tandus di sebelah barat. Sebuah teropong binokuler menempel di matanya.
“Coba perhatikan perairan,” kata Aruna.
Axelle menurunkan teropongnya, melihat Aruna sejenak sebelum memutar badan ke kiri meneropong lautan violet. “Tidak ada yang aneh,” katanya setelah beberapa detik.
“Hei—”
Aruna merebut teropong dari tangan Axelle. Suara-suara itu kini semakin menjauh. Gadis itu naik ke atas meja dan melihat lautan di balik pagar. Masih bergeming.
“Aneh,” gumamnya.
“Aruna! Kembalikan teropongku!” teriak Axelle. Tangannya terangkat hendak mengambil teropong tetapi Aruna menepisnya.
“Sebentar. Pinjam sebentar lagi,” kata Aruna.
Suara aneh itu akhirnya menghilang. Aruna melihat lautan itu kembali bergelombang. Berombak dari jauh menuju daratan dan pecah di tepian.
Axelle ikut naik ke meja kemudian merebut teropongnya kembali. Aruna membiarkannya kali ini. Pengamatanya telah selesai.
“Apa yang kau lihat?” tanya Axelle setelah mereka berdua turun dari meja yang diperuntukkan sebagai tempat makan tim.
“Menurutmu?”
Mulut Axelle berdecak. Dengan sengaja didorongnya kursi hingga menyenggol Aruna. Kemudian dia duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Aruna memutar bola mata. Dia ikut duduk di hadapaan Axelle.
“Lautan violet itu bergerak,” kata Aruna setengah berbisik. “Sepertinya itu bukan air.”