Subuh itu aku terbangun, pertama kalinya di rumah Mama aku bisa menjalankan ibadah salat Subuh. Berbeda dari hari-hari sebelumnya di mana aku terbangun tepat di saat matahari berada di tengah-tengah, terik, dalam keadaan kehausan, pusing, dan sesekali berteriak kepada Mbok Yum. Kali ini, aku terbangun dalam keadaan segar.
Setelah memberi salam ke kanan dan ke kiri, lalu berdoa memohon agar dapat memenangkan hati Andri, tiba-tiba aku merasakan sesuatu di belakangku yang mengendap-endap. Kalau Mama atau Mbok Yum, bukannya seharusnya jalan biasa? Atau jangan-jangan maling? Segera aku bersiap, ketika sosok itu mendekat, aku segera berbalik sambil melakukan roll ke belakang.
“Neng Ody! Neng Ody!”
Aku segera membelokkan arah kaki agar tidak mengenai Mbok Yum, tetapi yang terjadi malahan ….
“Aduh! Mbok Yum ngapain sih ngendap-ngendap gitu kaya maling aja!”
Pinggangku terkilir.
“Sakit ya, Neng! Maaf, ya, tak kira hantu. Simbok lupa kalau Neng Ody udah pulang, lagian Neng Ody pakai kain putih gelap-gelap begini!"
“Ini mukena, Mbok!"
Lampu tiba-tiba hidup, ada Mama yang berdiri di depan pintu. “Kenapa ribut-ribut tengah malam begini?” tanyanya sambil menguap.
“Malam? Ini Subuh, Ma!” Aku mengoreksi Mama.
“Bagi Mama ini jam tidur Mama, jadi ini masih malam!” Lalu berjalan kembali ke kamarnya, kudengar suara pintu kamarnya dibuka, lalu ditutup kembali.
“Neng Ody ngapain pake mukena segala?” tanya Mbok Yum heran.
“Ngapain? ya solatlah!” jawabku ketus.
Seperti yang sudah kuduga, Mbok Yum terkejut dan malah takpercaya padaku. Katanya aku bercanda dan sedang nge-prank.