Pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam keluargaku dari generasi ke generasi. Namun, kebiasaan itu terputus pada saat Mama menolak untuk mengikuti tradisi, bersekolah S1 perguruan tinggi negeri, lalu lanjut kuliah ke luar negeri. Tak seperti ayahnya, dan ayah dari ayahnya Mama, Mama memilih sekolah pariwisata. Impiannya adalah menjadi chef. Dan karena Mama adalah anak kesayangan, Kakek mengabulkan keinginannya. Sayangnya, anak lelaki satu-satunya Kakek meninggal dalam kecelakaan, sehingga akhirnya Mamalah yang harus menjadi penerus keluarga.
Mama tidak mau aku menjadi sepertinya, yang mengecewakan Kakek berkali-kali. Sehingga, dulu ia sangat berambisi untuk menyekolahkanku di sekolah-sekolah terbaik, apalagi setelah mengetahui kemampuan intelektualku. Sayangnya, aku tidak berminat belajar. Belajar apa pun bagiku sangat membosankan. Satu-satunya minat yang selalu dilakukan dengan konsisten hanyalah, membuat gara-gara. Ini pun diamini dengan tegaknya diagnosis Conduct Disorder.
Pada suatu hari ketika aku masih di panti asuhan, aku pernah melihat Andri belajar hingga tengah malam, katanya sedang mempersiapkan ujian kompetensi dokternya. Saat itu aku masih belum menyatakan perasaanku padanya, sehingga ia begitu terbuka, bahkan sepertinya masih menganggapku anak kecil, sehingga aku bisa leluasa keluar masuk kamarnya dengan dalih membersihkan, atau mengirim makanan. Ada hal yang membuatku tertarik, obsesinya terhadap waktu. Dia sangat suka dengan jam, ada jam di dinding dan di meja. Juga poster, dan beberapa aksesoris berbentuk jam.
pakah pacarmu menyukai jam?" Aku menyimpan teh dan camilan di nakas dekat ranjangnya. Biasanya Andri tidak pernah mau meja belajarnya ditaruh makanan atau minuman. Bisa mengotori buku atau berkas-berkas penting. Andri terhenti dari membaca dan mencatat, lalu memandangku.
"Nirina? Dia sangat suka bunga, bukan waktu. Aku yang suka waktu."
"Kenapa?" tanyaku penasaran, lalu duduk di ranjangnya. Andri lalu membalik kursinya, lalu kami duduk berhadapan.
"Papa, dulu Papa sering mengatakan bahwa waktu itu penting. Bahkan dalam Islam, waktu adalah yang paling utama. Apabila kita lalai, maka kita berada dalam kerugian."
Aku mengangguk-angguk. "Lucu, ya. Orang mah ngidolain artis, tokoh masyarakat, kamu malah ngidolain waktu." Aku tertawa mengejek, membuatnya ikut tertawa.
Pada lain hari, di saat Andri sudah mulai mengajariku ilmu agama, dia menjelaskan mengenai surat Al-Ashr.