Demi Allah dan Waktu yang Berjalan

Diba Tesi Zalziyati
Chapter #17

Rindu

Meski aku mulai menyadari kekeraskepalaan Mama adalah sebuah akibat dari luka batin yang dideritanya, tetap aku masih belum mau begitu saja mengikuti keegoisannya dalam menentukan arah hidupku, apalagi mengenai siapa lelaki yang akan menjadi jodohku. 

"Akhir pekan ini, keluarga Noto akan berkunjung ke rumah," jelasnya, tetapi terdengar seperti memberi perintah agar aku tak ke mana-mana, atau melakukan kebodohan apa pun. 

“Mom, aku masih SMA kelas 2.”

“Memang akan menikah sekarang?” 

Aku menyeringai. 

“Setidaknya berkenalan dulu, berpacaran, bertunangan, lalu, setelah lulus kuliah kalian menikah.” 

“Semudah itu?” 

Aku lalu tertawa terbahak-bahak. 

Pada saat-saat genting seperti ini, dadaku berpacu lebih keras. Rasa rindu kepada Andri pun, takbisa kubendung. Aku memandangi foto-foto Andri yang sebelumnya kuambil diam-diam, memikirkan Andri, menyebut namanya seakan-akan ia seperti peri yang akan datang ketika dipanggil. Nyatanya, dia tidak kunjung datang. Akhirnya sebagai manusia yang masih memiliki kemampuan berpikir, mengiriminya pesan. 

[Aku kangen, apakah kamu mengalami hal yang sama?] 

Satu menit, dua menit, berjam-jam. Yang ditunggu takjuga membalas. 

Apakah Andri bukan jodohku? Apakah lelaki dengan tampang manis dan berlesung pipi itu yang akan menggantikannya? Bahasaku sudah mirip roman-roman picisan yang kubaca hanya apabila ada tugas saja. Itu pun hanya beberapa halaman, kemudian jawabannya kukarang sedemikian rupa. Bagiku cinta masih bullshit, tetapi kenapa hatiku tidak bisa bertindak selaras dengan pikiran? Atau, pikiranku yang berkhianat?

Kupejamkan mata, dan rasanya seperti yang ditusuk-tusuk jarum. Oh, apakah ini yang namanya cinta? Pantas saja Mbak Risma mau-maunya menikahi lelaki yang ia cintai meski tidak ada masa depan. Bahkan Mama, melawan Kakek untuk menikahi Papa yang katanya tidak mencintai Mama. Cinta sebegitu menyakitkan apabila tidak disalurkan. Tidak bertemu sehari-hari membuat tubuh lemas bagaikan tidak makan berhari-hari, pikiran tidak fokus, hanya membayangkan wajah terkasih, rasa khawatir yang tidak jelas. 

Lihat selengkapnya