DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #1

Kehidupan Jalanan Dua Saudara

Malam turun bersama hujan yang tidak mengenal belas kasihan.

Air menetes dari seng-seng tua yang menjorok keluar di depan sebuah toko kelontong yang sudah tutup sejak dua jam lalu. Lampu jalan di ujung gang berkedip lemah, memantulkan cahaya kekuningan di atas genangan air yang memenuhi aspal berlubang. Angin membawa aroma tanah basah bercampur asap knalpot dan sampah yang mulai membusuk di sudut trotoar.

Di bawah emperan sempit itu, dua sosok duduk saling berdekatan.

Mereka tidak berbicara selama beberapa menit.

Anak laki-laki itu menatap hujan yang turun tanpa jeda, sementara jemarinya menggenggam erat sebungkus nasi yang mulai dingin. Jaket lusuh berwarna hitam yang dikenakannya sudah tidak mampu lagi menghalau hawa dingin. Bahunya basah karena percikan air yang diterbangkan angin.

Di sampingnya, seorang gadis remaja memeluk kedua lututnya. Rambut hitamnya yang panjang ditempelkan ke belakang telinga, meski beberapa helai terus jatuh menutupi wajahnya yang pucat.

Mereka tampak seperti dua bayangan yang terlupakan dunia.

Rio mengembuskan napas panjang.

"Ria."

Gadis itu mengangkat kepala.

"Iya, Kak."

Rio mengulurkan bungkus nasi yang sedari tadi ia pegang.

"Kamu makan dulu."

Ria langsung menggeleng.

"Kakak saja."

"Kamu belum makan dari siang."

"Kakak juga."

Keheningan kembali turun.

Suara hujan menjadi satu-satunya irama yang mengisi malam.

Rio tersenyum tipis.

"Satu bungkus dibagi dua."

Ria menghela napas pelan sebelum akhirnya menerima nasi itu.

"Kita memang selalu begitu."

Rio mengangguk.

"Karena kita cuma punya ini."

Ria membuka bungkus nasi perlahan. Isinya sederhana. Nasi putih, sedikit mi goreng, dan sepotong tempe yang bahkan sudah mulai dingin. Namun bagi mereka, makanan itu terasa lebih berharga daripada jamuan mewah siapa pun.

Dengan hati-hati Ria membagi nasi menjadi dua bagian yang hampir sama besar.

"Yang ini buat Kakak."

Rio menggeleng.

"Kebanyakan."

"Kakak lebih banyak kerja hari ini."

Rio tersenyum kecil.

"Kalau kamu sakit, siapa yang bakal nyanyi besok?"

Ria terkekeh lirih.

"Kalau Kakak sakit, siapa yang bakal cari uang?"

Mereka saling pandang beberapa detik.

Kemudian tertawa kecil.

Tawa yang terdengar begitu rapuh.

Seolah sedikit saja angin bertiup lebih kencang, suara itu akan ikut menghilang bersama hujan.

Rio mengambil sebagian nasi.

"Makan."

"Iya."

Mereka makan perlahan.

Tidak ada suara selain bunyi hujan dan sesekali kendaraan melintas di jalan raya.

Di kejauhan terdengar seorang pedagang mendorong gerobaknya.

"Wedang jahe... masih hangat..."

Suara itu perlahan menghilang ditelan malam.

Rio menatap ke arah jalan kosong.

Tatapannya jauh.

Lebih jauh daripada hujan yang turun.

Aku harus bertahan. Apa pun yang terjadi, Ria tidak boleh merasakan hidup yang lebih buruk dari ini.

Ria memperhatikan kakaknya diam-diam.

Sejak ibu mereka meninggal, Rio berubah menjadi jauh lebih pendiam.

Ia jarang mengeluh.

Jarang menangis.

Namun justru itu yang paling membuat Ria takut.

Karena setiap kali Rio memilih diam, berarti ada terlalu banyak rasa sakit yang sedang ia sembunyikan.

"Kak."

"Hm?"

"Kakak capek?"

Rio tersenyum kecil.

"Sedikit."

"Jangan bohong."

Lihat selengkapnya