DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #2

Bertahan Hidup di Jalanan

Fajar baru saja menyingsing ketika Terminal Cibiru mulai dipenuhi suara mesin kendaraan.

Deretan angkot tua berwarna biru dan hijau berbaris menunggu giliran mengangkut penumpang. Asap solar memenuhi udara, bercampur aroma kopi hitam dari warung kecil di sudut terminal, bau gorengan yang baru diangkat dari minyak panas, dan debu jalan yang beterbangan setiap kali kendaraan melaju.

Di antara hiruk-pikuk itu, Rio sudah berdiri sejak subuh.

Jaket lusuhnya masih sama seperti kemarin. Rambutnya sedikit basah karena embun pagi, sementara kedua tangannya sibuk membantu seorang sopir memasukkan ban cadangan ke bagasi belakang angkot.

"Terima kasih, Rio."

Sopir paruh baya itu mengusap keringat di dahinya.

"Kamu memang paling sigap."

Rio hanya tersenyum tipis.

"Sudah biasa, Pak."

Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Nih."

Rio menerimanya dengan kedua tangan.

"Terima kasih."

Sopir itu menepuk pundaknya.

"Nanti kalau aku istirahat, kamu gantikan narik sebentar."

Rio mengangguk.

"Siap."

Terminal menjadi sekolah yang tidak pernah ia pilih, tetapi mengajarinya banyak hal.

Di tempat itu ia belajar mengenali suara mesin hanya dari bunyinya.

Belajar membedakan kerusakan kopling, rem, hingga transmisi.

Belajar menyetir tanpa pernah mengikuti kursus.

Belajar membaca watak manusia dari cara mereka berbicara.

Semua karena keadaan.

"Rio!"

Seorang kernet berteriak sambil melambaikan tangan.

"Sopirnya lagi sarapan!"

"Siap!"

Rio segera berlari menuju angkot.

Ia duduk dibalik kemudi.

Tangannya menggenggam setir dengan tenang.

Mesin dinyalakan.

Brumm...

Suara mesin tua itu bergetar cukup keras.

Rio memejamkan mata sejenak.

Mendengarkan.

Kemudian ia tersenyum kecil.

"Karburatornya mulai kotor."

Ia menginjak pedal gas perlahan.

Mesin kembali stabil.

"Keren juga telingamu."

Kernet yang duduk di sampingnya tertawa.

"Baru dinyalakan saja sudah tahu penyakitnya."

Rio hanya tersenyum.

"Mesin juga bisa bicara."

"Bedanya?"

"Orang sering berbohong."

Rio memandang panel kemudi.

"Mesin Tidak."

Kernet itu terkekeh.

"Kamu cocok jadi montir."

Rio tidak menjawab.

Jauh di dalam hatinya, ia memang menyukai mesin.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa tenang setiap kali melihat baut, oli, atau suara piston bekerja.

Mesin selalu mengikuti hukum.

Tidak seperti hidup.

"Terminal! Pasar! Alun-alun!"

Kernet mulai berteriak menawarkan penumpang.

Beberapa orang naik.

Seorang ibu membawa keranjang sayur.

Dua pelajar berseragam putih abu-abu.

Seorang pria tua dengan tas lusuh.

Rio menjalankan angkot perlahan.

Setiap perpindahan gigi terasa halus.

Ia hafal setiap lubang di jalan.

Setiap tikungan.

Setiap polisi tidur.

Selama hampir dua jam ia menggantikan sopir asli yang masih beristirahat.

Setelah selesai, pria itu kembali mengambil alih kemudi.

"Kamu makin jago."

Rio tersenyum.

"Masih banyak yang harus dipelajari."

"Kalau nanti punya mobil sendiri..."

Rio tertawa kecil.

"Itu masih jauh."

"Siapa tahu."

Rio tidak menjawab.

Impian adalah barang mewah bagi orang yang bahkan masih memikirkan makan siang.

Sementara itu, beberapa kilometer dari terminal, Ria berdiri di sebuah lampu merah.

Ia mengenakan baju sederhana berwarna biru yang sudah mulai pudar.

Di tangannya terdapat gitar kecil yang catnya mulai mengelupas.

Lampu berubah merah.

Mobil-mobil berhenti.

Ria menarik napas panjang.

Kemudian mulai bernyanyi.

Lihat selengkapnya