Matahari sudah tenggelam diganti remang cahaya bulan ketika keramaian jalanan berubah menjadi keheningan malam yang sesekali dihentak bunyi mesin kendaraan yang lewat .
Suara pedagang menawarkan dagangan bercampur dengan klakson kendaraan yang saling bersahutan. Aroma ikan segar, rempah-rempah, daun pisang basah, dan gorengan yang baru diangkat dari penggorengan memenuhi malam. Kendaraan yang berlalu-lalang semakin sedikit, sementara langit perlahan semakin kelam.
Rio dan Ria berjalan menyusuri trotoar yang berada di depan pasar.
Hari itu penghasilan mereka tidak terlalu buruk.
Ria masih menggendong gitar kecilnya, sedangkan Rio membawa tas lusuh yang berisi beberapa pakaian dan botol minum.
"Kak."
"Hm?"
"Hari ini kita bisa makan ayam."
Rio tertawa kecil.
"Kalau langsung dihabiskan semua, besok makan apa?"
Ria menghembuskan nafas pelan.
"Iya juga."
Rio tersenyum.
"Nanti kita beli telur saja."
"Setuju."
Belum sempat mereka melanjutkan langkah, perhatian Rio tertuju pada seorang perempuan paruh baya yang berdiri sendirian di tepi jalan.
Di samping perempuan itu terdapat empat kantong belanja besar.
Sesekali ia melambaikan tangan menghentikan mobil yang lewat.
Namun kendaraan yang melintas hanya berlalu.
Perempuan itu akhirnya hanya menghela nafas panjang.
Rio memperhatikan beberapa detik.
"Lihat itu."
Ria mengikuti arah pandangnya.
"Kasihan..."
Perempuan itu tampak mulai kelelahan.
Tangannya beberapa kali berpindah menggenggam kantong belanja yang terlihat cukup berat.
"Kita bantu, yuk, Kak?"
Rio mengangguk.
"Ayo."
Mereka menghampiri perempuan tersebut.
"Permisi, Bu."
Perempuan itu menoleh.
Wajahnya tampak ramah meski menyimpan rasa lelah.
"Iya, Nak?"
Rio menunjuk kantong belanja.
"Boleh kami bantu?"
Perempuan itu tersenyum sopan.
"Enggak usah, Nak."
"Berat."
"Nanti juga dapat angkot."
Rio melihat jalan raya.
Angkot yang lewat sudah sepi.
Ia menoleh lagi.
"Kalau Ibu tidak keberatan, kami bantu sampai rumah."
Perempuan itu tampak ragu.
"Kalian..."
Rio tersenyum.
"Ini udah malam, angkotnya udah jarang."
Ria ikut mengangguk.
"Iya, Bu."
Perempuan itu memandang wajah keduanya bergantian.
Tatapan yang sederhana.
Tidak memaksa.
Tidak mengharap imbalan.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
"Kalau begitu... terima kasih."
Rio segera mengangkat dua kantong besar.
Ria mengambil sisanya.
"Berat juga."
Perempuan itu tersenyum malu.
"Belanja oleh-oleh keluarga."
Mereka bertiga berjalan menuju jalan utama.
Perempuan itu sesekali melirik Rio yang tetap berjalan tenang meski membawa beban cukup berat.
"Nama kamu siapa?"
"Rio."
"Kamu?"
Perempuan itu menatap Ria.
"Ria."
Perempuan itu tersenyum hangat.
"Nama kalian bagus."
Rio membalas dengan senyum tipis.
"Ibu sendiri?"
"Saya Sumirah."
Ria langsung tersenyum.
"Berarti kami panggil Bi Sumi saja?"
Perempuan itu tertawa kecil.
"Semua orang memang memanggil begitu."
Suasana menjadi jauh lebih akrab.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah jalan yang lebih sepi.
Di sana, Bi Sumi kembali menoleh ke arah jalan raya.
"Sepertinya angkot memang sudah habis."