DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #4

Harapan Baru Menuju Jakarta

Mentari pagi baru saja menyibak kabut ketika suara dering telepon sederhana memecah kesunyian terminal.

Rio yang sedang membantu seorang sopir membersihkan kaca angkot segera merogoh saku celananya. Layar ponsel tuanya menampilkan sebuah nomor yang belum lama tersimpan.

Bi Sumi.

Rio segera mengangkat panggilan itu.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, Rio."

Suara perempuan paruh baya itu terdengar hangat seperti pertemuan mereka kemarin sore.

"Maaf mengganggu pagi-pagi."

"Tidak apa-apa, Bi."

"Rio sedang bekerja?"

"Iya, Bi."

"Ada waktu sebentar?"

Rio melirik sopir angkot yang sedang mengelap bagian belakang kendaraan.

"Ada."

"Begini, Nak."

Suara Bi Sumi terdengar sedikit sungkan.

"Hari ini saya harus kembali ke Jakarta."

"Iya."

"Bisa tolong antar saya ke stasiun?"

Rio tersenyum.

"Tentu bisa."

"Benarkah?"

"Iya, Bi."

"Terima kasih."

"Nanti saya jemput di rumah?"

"Iya."

"Sekitar satu jam lagi."

"Baik."

Setelah sambungan telepon berakhir, Rio segera menghampiri Ria yang sedang menikmati sarapan sederhana berupa teh hangat dan sepotong roti pemberian Bi Sumi.

"Ria."

"Iya, Kak?"

"Kita antar Bi Sumi ke stasiun."

Ria langsung tersenyum.

"Senang sekali."

Rio mengangguk.

"Bibi baru telepon."

"Berarti kita ketemu lagi."

"Ya."

Satu jam kemudian mereka sudah tiba di rumah Bi Sumi.

Di teras rumah telah berdiri sebuah koper berukuran sedang, dua tas belanja, dan sebuah tas jinjing yang tampak cukup berat.

Bi Sumi tersenyum begitu melihat keduanya datang.

"Masya Allah... tepat waktu."

Rio membungkukkan badan sedikit.

"Sudah siap, Bi?"

"Iya."

Ria segera mengambil tas jinjing.

"Biar aku bawa."

"Jangan berat-berat."

"Tidak apa-apa."

Rio mengangkat koper.

"Ayo, Bi."

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju jalan raya.

Tidak lama kemudian sebuah angkot berhenti di depan mereka.

"Stasiun!"

Sopir berteriak dari balik jendela.

Rio memasukkan koper terlebih dahulu.

"Silakan, Bi."

Bi Sumi tersenyum.

"Terima kasih."

Perjalanan menuju stasiun berlangsung hampir empat puluh menit.

Suasana di dalam angkot cukup ramai.

Seorang ibu memangku anak kecil.

Dua mahasiswa sibuk berbincang mengenai tugas kuliah.

Seorang pedagang membawa keranjang berisi sayuran.

Sesekali kendaraan berhenti menunggu penumpang baru.

Bi Sumi memandang keluar jendela.

"Pulang kampung rasanya selalu cepat."

Rio duduk di depannya.

"Sudah lama bekerja di Jakarta, Bi?"

"Hampir lima belas tahun."

Rio tampak sedikit terkejut.

"Selama itu?"

Bi Sumi mengangguk.

"Awalnya berat."

"Kenapa?"

"Karena tidak punya siapa-siapa."

Ria ikut mendengarkan dengan saksama.

Lihat selengkapnya