DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #5

Pamit kepada Nenek

Langit pagi tampak cerah.

Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika Rio dan Ria berjalan menyusuri jalan desa yang sudah mereka hafal sejak kecil. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, sementara aroma tanah yang masih lembab bercampur wangi kayu bakar dari dapur rumah-rumah penduduk.

Di tangan Rio terdapat sebuah tas ransel lusuh.

Isinya tidak banyak.

Dua pasang pakaian.

Beberapa lembar uang hasil bekerja selama berbulan-bulan.

Botol minum.

Dan secarik kertas yang sudah beberapa kali ia lipat kembali.

Alamat rumah Bi Sumi di Jakarta.

Ria berjalan di samping kakaknya sambil menggenggam gitar kecil kesayangannya.

Ria memeluk tas lusuh yang selalu dibawanya.

"Kak..."

Rio menoleh.

"Kenapa?"

"Apa Bibi bakal marah lagi?"

Rio mengembuskan napas pelan.

"Mungkin."

"Kalau begitu... kita enggak usah ke sana."

Rio menghentikan langkahnya.

Ia memandang rumah-rumah yang mulai dipenuhi suara ayam berkokok dan ibu-ibu yang menyapu halaman.

"Kita bukan datang buat mereka."

"Lalu?"

Rio tersenyum tipis.

"Kita datang buat Nenek."

Ria menundukkan kepala.

"Ayo."

"Nenek pasti sudah menunggu."

Rumah tua itu masih sama.

Cat dindingnya semakin pudar.

Pohon mangga di halaman bergoyang pelan diterpa angin.

Namun kali ini suasananya terasa lebih sunyi.

Rio mengetuk pintu perlahan.

"Assalamu'alaikum."

Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki.

Pintu terbuka.

"Siapa itu?"

Pintu terbuka cukup keras.

Seorang perempuan bertubuh gemuk dengan celemek lusuh berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.

Wajahnya langsung berubah masam.

"Oh..."

Nada suaranya penuh sindiran.

"Anak jalanan rupanya."

Ria spontan menundukkan kepala.

"Bibi..."

Bibi Lastri mendengus.

"Masih ingat jalan pulang?"

Rio tetap berdiri tenang.

"Kami mau ketemu Nenek."

"Untuk apa?"

"Kangen."

Lastri tertawa sinis.

"Kangen?"

Tatapannya beralih dari Rio ke Ria.

"Kalian tahu enggak berapa lama nenek kalian nangisin kalian?"

Rio menggigit bagian dalam pipinya.

"Kami cuma ingin melihat beliau sebentar."

Lastri melangkah mendekat.

"Kalian itu aneh."

Rio tetap diam.

"Dulu waktu kami kasih tempat tinggal, malah kabur."

Ria mengepalkan jemarinya.

"Kami enggak kabur..."

"Oh?"

Lastri menaikkan alis.

"Lalu apa namanya?"

Rio akhirnya bicara.

"Kami pergi."

"Sama saja."

"Tidak sama."

Suasana langsung membeku.

Lastri memicingkan mata.

"Kamu sekarang berani membantah?"

Rio menatap perempuan itu tanpa rasa takut.

"Kami pergi karena sudah tidak sanggup."

Lastri tertawa keras.

"Tidak sanggup?"

Rio menarik napas panjang.

"Setiap hari saya bekerja di kebun."

"Memang."

"Setelah itu membantu di warung."

"Iya."

"Malamnya masih harus angkut beras."

"Itu namanya membantu keluarga."

Rio menggeleng pelan.

"Itu namanya bekerja."

Lastri mulai kehilangan senyum sinisnya.

Rio melanjutkan.

"Ria mencuci baju."

"Menyapu."

"Masak."

"Membersihkan kandang."

"Semua kami lakukan."

"Tapi..."

Rio menatap lurus mata bibinya.

"...kami tidak pernah dianggap keluarga."

Lastri langsung meninggikan suara.

"Kurang ajar!"

Lihat selengkapnya