Jakarta menyambut pagi dengan cara yang berbeda.
Deretan gedung menjulang tinggi memantulkan cahaya matahari yang perlahan mengusir sisa embun. Jalan-jalan utama telah dipenuhi kendaraan sejak pukul enam pagi. Klakson bersahut-sahutan tanpa henti, sementara aroma aspal yang mulai menghangat bercampur dengan bau kopi dari kedai-kedai kecil di pinggir jalan.
Di salah satu kawasan elite Jakarta Selatan, berdiri sebuah rumah megah yang dikelilingi pagar besi hitam setinggi tiga meter.
Halaman depannya dipenuhi taman yang tertata rapi.
Rumput dipangkas nyaris sempurna.
Pohon kamboja dan palem berjajar di sisi jalan masuk.
Air mancur kecil di tengah taman memercikkan air yang berkilau diterpa matahari.
Rumah itu tampak tenang.
Terlalu tenang.
Seolah-olah kemewahan yang terlihat dari luar sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Di teras depan, Bi Sumirah berdiri sambil merapikan celemeknya.
Sesekali ia melirik jam tangan.
"Mestinya sudah sampai..."
Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki halaman.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan pintu utama.
Bi Sumi segera melangkah maju.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun lebih dahulu.
Tubuhnya tegap.
Rambutnya dipotong pendek dengan sedikit uban di sisi pelipis.
Ia mengenakan setelan kerja berwarna abu-abu tua yang masih tampak rapi meski baru menempuh perjalanan jauh.
Sorot matanya tajam.
Setiap langkahnya memancarkan kebiasaan seseorang yang terbiasa memberi perintah.
Dialah Hartono.
Di belakangnya, seorang perempuan turun dengan gerakan anggun.
Jessica mengenakan gaun krem sederhana yang dipadukan dengan mantel tipis berwarna putih gading.
Tas tangan bermerek tergantung di lengannya.
Meski usianya mendekati lima puluh tahun, penampilannya tetap terawat.
Rambutnya disanggul rapi.
Parfum lembut beraroma melati dan vanila samar tercium setiap kali ia melangkah.
"Selamat datang, Pak."
Bi Sumi membungkukkan badan.
"Selamat datang, Bu."
Hartono mengangguk singkat.
"Bagaimana keadaan rumah?"
"Semua baik, Pak."
Jessica tersenyum ramah.
"Terima kasih sudah menjaga rumah, Bi."
"Sama-sama, Bu."
Hartono mengangkat koper kecilnya sendiri.
"Tidak ada masalah selama kami pergi?"
Bi Sumi menggeleng.
"Tidak ada."
Hartono tampak lega.
"Bagus."
Mereka kemudian memasuki rumah.
Interior rumah itu tak kalah megah.
Lantai marmer putih memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang menggantung di ruang tengah.
Lukisan-lukisan mahal memenuhi dinding.
Rak kayu jati berisi berbagai penghargaan bisnis berjajar rapi.
Segalanya tampak mewah.
Namun entah mengapa...
Rumah itu terasa dingin.
Bukan karena pendingin ruangan.
Melainkan karena suasana yang sulit dijelaskan.
Bi Sumi membantu membawa koper ke lantai dua.
Sementara Hartono langsung menuju ruang kerja.
Ia membuka beberapa map yang sudah menumpuk di atas meja.
Jessica memperhatikannya dari pintu.
"Mas."
"Hm?"
"Baru sampai."
"Iya."
"Belum lima menit."
Hartono tetap membuka berkas.
"Besok ada rapat."
Jessica menghela napas.
"Kerjaan lagi."
Hartono tersenyum tipis.
"Kalau tidak kerja, rumah ini berdiri pakai apa?"
Jessica tidak menjawab.
Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.
Menjelang siang.
Mereka makan bersama di ruang makan.
Bi Sumi menyajikan sop buntut, tumis buncis, dan ikan bakar kesukaan Hartono.
Jessica tersenyum.
"Sudah lama enggak makan masakan Bibi."