DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #7

Pertemuan Kembali di Pasar

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Bahkan ketika matahari baru saja muncul dari balik gedung-gedung tinggi, denyut kehidupan sudah memenuhi setiap sudut kota. Truk pengangkut sayuran keluar masuk pasar induk. Pedagang mulai menata dagangan di atas meja kayu yang masih basah oleh sisa hujan dini hari. Aroma cabai, bawang merah, ikan segar, dan daun pisang bercampur menjadi satu, memenuhi udara yang lembab.

Di tengah keramaian itu, Rio dan Ria melangkah perlahan.

Sudah dua hari mereka berada di Jakarta.

Mereka masih beradaptasi dengan ritme kota yang jauh berbeda dari kampung halaman.

Suara kendaraan hampir tidak pernah berhenti.

Orang-orang berjalan begitu cepat, seolah setiap detik memiliki harga yang mahal.

Ria menggenggam gitar kecilnya.

"Kak."

"Hm?"

"Jakarta benar-benar ramai."

Rio mengangguk sambil memperhatikan lalu lintas.

"Iya."

"Aku sampai bingung lihat orang sebanyak ini."

Rio tersenyum tipis.

"Semakin banyak orang..."

Ia menatap deretan kendaraan yang berhenti di lampu merah.

"...semakin banyak juga kesempatan."

Ria ikut tersenyum.

"Berarti hari ini kita harus semangat."

Rio mengangguk.

"Pasti."

Lampu lalu lintas berubah merah.

Mobil dan sepeda motor berhenti berbaris.

Ria menarik napas panjang.

Kemudian mulai memetik gitar.

Suara petikan yang sederhana perlahan mengiringi nyanyiannya.

Beberapa pengendara menoleh.

Seorang anak kecil membuka jendela mobil sambil tersenyum mendengar lagu yang dibawakan Ria.

Ketika lagu selesai, beberapa lembar uang mulai masuk ke dalam kotak kecil yang dibawanya.

"Terima kasih, Pak."

"Sehat selalu, Bu."

Senyumnya tetap tulus.

Tidak dibuat-buat.

Rio berdiri tidak jauh dari sana sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Sesekali ia membantu mengatur kendaraan yang hendak berbelok agar Ria tidak berada terlalu dekat dengan arus lalu lintas.

Lampu kembali hijau.

Mereka menepi.

"Berapa?"

Rio bertanya.

Ria menghitung uang receh di tangannya.

"Belum banyak."

Rio tersenyum.

"Masih pagi."

"Iya juga."

Menjelang siang, mereka berjalan menuju pasar tradisional.

Rio berharap bisa mencari pekerjaan tambahan sebagai buruh angkut.

Sementara Ria ingin menawarkan jasa mencuci pakaian kepada beberapa pemilik kios.

Keramaian pasar membuat langkah mereka melambat.

"Permisi."

"Sebelah, Bang."

"Hati-hati!"

Suara orang-orang saling bersahutan.

Rio membantu seorang pedagang memindahkan karung berisi beras.

"Terima kasih."

Pedagang itu menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Rio.

"Rezeki."

Rio membungkukkan badan.

"Terima kasih, Pak."

Di sisi lain pasar, Ria membantu seorang penjual sayur merapikan dagangan yang berantakan setelah pembeli berdesakan.

"Nak."

"Iya, Bu."

"Kamu rajin."

Ria tersenyum malu.

"Kalau ada yang bisa dibantu."

Perempuan itu menyodorkan dua buah pisang.

"Nih."

Ria menggeleng.

"Saya belum apa-apa."

"Anggap saja terima kasih."

Ria akhirnya menerima.

"Terima kasih."

Matahari mulai condong ketika Rio melihat sosok yang terasa begitu dikenalnya.

Seorang perempuan paruh baya berjalan perlahan sambil membawa dua kantong belanja besar.

"Ria."

"Iya?"

Lihat selengkapnya