DENDAM 2 NYAWA

Ahmad Barnash
Chapter #8

Parasit di Rumah Hartono

Pagi di rumah Hartono selalu dimulai dengan keteraturan.

Jarum jam belum menunjukkan pukul tujuh ketika aroma kopi hitam mulai memenuhi ruang makan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantul di lantai marmer yang mengilap. Dari luar, suara mesin penyiram taman berdengung pelan, sementara para tukang kebun bekerja dalam diam.

Segalanya tampak sempurna.

Namun di balik ketenangan itu, setiap penghuni rumah membawa pikirannya masing-masing.

Hartono telah duduk di ujung meja makan dengan setumpuk berkas perusahaan di samping piring sarapannya. Tangannya memegang secangkir kopi, tetapi matanya sibuk membaca laporan keuangan.

Jessica baru saja turun dari lantai dua.

Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana, namun tetap terlihat anggun.

"Mas."

Hartono hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Jessica menarik kursi di hadapannya.

"Mas masih memikirkan pekerjaan?"

Hartono menutup map itu perlahan.

"Bukan cuma pekerjaan."

Jessica tahu ke mana arah pembicaraan itu.

"Masih soal Bram?"

Hartono menghembuskan napas panjang.

"Dia sudah dua hari di rumah ini."

Jessica menatap suaminya dengan hati-hati.

"Baru dua hari."

"Dan belum terlihat satupun rencana yang jelas."

Di lantai atas, Bram masih tertidur pulas.

Sinar matahari telah menembus sela gorden, tetapi ia sama sekali tidak bergeming.

Di sisi lain tempat tidur, Maya sibuk menatap layar ponselnya.

Jarinya bergerak cepat menggulir berbagai komentar dari para pengikut media sosialnya.

"Mas."

Bram hanya bergumam.

"Hm..."

"Bangun."

"Nanti saja."

"Mas Hartono sudah di bawah."

Bram menutup wajahnya dengan bantal.

"Biarin."

Maya mendecak pelan.

"Kita numpang di rumah orang."

"Aku tahu."

"Tapi jangan begini."

Bram akhirnya membuka mata.

"Aku capek."

"Kemarin juga tidur."

"Perjalanan jauh."

Maya tidak menjawab.

Ia kembali sibuk memilih foto yang akan diunggah ke media sosial.

Semoga kerjasama promosi bulan ini tetap jalan. Kalau tidak, tabungan kami benar-benar habis.

Sementara itu, di dapur.

Bi Sumi menyiapkan sarapan tambahan.

Ia melirik ke arah tangga.

"Mereka belum turun juga?"

Jessica menggeleng kecil.

"Belum."

Bi Sumi hanya menghela napas.

Pekerjaan rumah memang bertambah sejak kedatangan Bram dan Maya.

Piring lebih banyak.

Cucian bertambah.

Kamar tamu harus dibersihkan setiap hari.

Namun ia tetap mengerjakannya tanpa mengeluh.

Hampir pukul delapan.

Barulah Bram muncul.

Rambutnya masih berantakan.

Kaos yang dikenakannya kusut.

Ia langsung menarik kursi dan mengambil roti tanpa banyak bicara.

"Pagi."

Hartono hanya menjawab singkat.

"Pagi."

Suasana meja makan kembali sunyi.

Jessica mencoba mencairkan keadaan.

Lihat selengkapnya